Perkuat Ekonomi Masyarakat Pesisir Selayar, Tim PPMU Prof Cido Tawarkan Nilai Tambah Ekonomi Mangrove di Bontoharu

  • Whatsapp
Prof Abdul Rasyid Jalil, ketua tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas (PPMU) tahun 2026 yang melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat pesisir di Desa Bontosunggu, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar. (dok: Pelakita.ID)

PELAKITA.ID — Bagi masyarakat pesisir Selayar, mangrove bukan sekadar deretan pohon yang tumbuh di antara laut dan daratan. Di bawah rimbun akar-akarnya, kehidupan sedang berlangsung. Ikan kecil berlindung dan tumbuh, udang mencari habitat, kepiting berkembang biak, sementara berbagai organisme laut menemukan ruang untuk memulai siklus kehidupannya.

Ketika mangrove terjaga, ekosistem pesisir memiliki peluang lebih besar untuk tetap produktif. Namun, ketika hutan mangrove rusak, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan.

Ia dapat merambat ke kehidupan nelayan, usaha perikanan, pendapatan keluarga, hingga ketahanan ekonomi masyarakat pesisir.

Demikian penjelasan Prof Abdul Rasyid Jalil, atas nama pengabdi Program Pengabdian kepada Masyarakat Universitas (PPMU) tahun 2026 yang melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat pesisir di Desa Bontosunggu, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar.

Menurut pria yang akrab disapa Bang Cido itu, dengan mengusung tema “Pemberdayaan Kelompok Usaha Perikanan Pesisir Berbasis Ekosistem Mangrove melalui Penguatan Nilai Tambah dan Tata Kelola Keuangan”, kegiatan yang didanai oleh LPPM Unhas ini mencoba menghubungkan tiga hal yang selama ini sering dipisahkan: menjaga ekosistem, meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan, dan memperkuat kemampuan masyarakat mengelola usahanya.

Bagi tim Unhas, ketiganya merupakan satu kesatuan. “Keberadaan ekosistem mangrove tidak hanya penting dari sisi konservasi, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang besar karena mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir,” ujarnya.

Dikatakan Prof Cido, banyak jenis ikan, udang, kepiting, dan biota lainnya memiliki hubungan dengan ekosistem mangrove. Kawasan ini menjadi tempat berlindung, mencari makan, tumbuh, dan berkembang bagi berbagai organisme.

Artinya, ketika masyarakat memperoleh hasil dari laut dan pesisir, sesungguhnya mereka juga menerima manfaat ekonomi dari ekosistem yang bekerja secara alami.

“Di sinilah pentingnya melihat mangrove bukan sebagai ruang kosong yang dapat dialihfungsikan sesuka hati, tetapi sebagai modal alam yang memiliki nilai ekonomi jangka panjang,” kata dia.

Dia juga menyebut bahwa kerusakan ekosistem bentang mangrove dapat menciptakan dampak berantai.

“Ketika tutupan mangrove berkurang, fungsi kawasan sebagai habitat berbagai biota dapat terganggu. Ruang perlindungan dan tempat tumbuh organisme pesisir menyusut. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi produktivitas sumber daya yang menjadi penopang kehidupan masyarakat,” terangnya.

Dampaknya tidak berhenti pada persoalan ekologi.

Nelayan dapat kehilangan sumber penghidupan. Pelaku usaha kesulitan mendapatkan bahan baku. Pendapatan keluarga dapat terganggu. Masyarakat kemudian harus menghadapi biaya ekonomi yang jauh lebih besar untuk memulihkan kerusakan yang sebenarnya dapat dicegah.

“Inilah alasan mengapa konservasi mangrove tidak seharusnya dipahami sebagai kegiatan yang berlawanan dengan kepentingan ekonomi. Sebaliknya, mangrove yang sehat adalah bagian dari fondasi ekonomi pesisir yang berkelanjutan,” ucapnya.

Bagi Prof Rasyid, masyarakat perlu melihat bahwa menjaga mangrove berarti juga menjaga sumber kehidupan mereka.

Konservasi Harus Memberi Manfaat

Meski demikian Prof Rasyid sadar, tim Unhas juga memahami bahwa konservasi tidak dapat berhasil hanya dengan menyampaikan larangan kepada masyarakat. Masyarakat pesisir membutuhkan kehidupan yang layak. Mereka membutuhkan pendapatan. Mereka membutuhkan usaha yang berkembang.

“Karena itu, kegiatan di Desa Bontosunggu tidak berhenti pada penguatan pemahaman tentang pentingnya mangrove. Sebanyak 32 peserta dari empat kelompok usaha masyarakat terlibat dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh tim yang terdiri atas lima dosen dan lima mahasiswa Unhas,” ungkapnya saat ditemui di lokasi Pameran Hasil Riset dan Pengabdian Masyarakat PPMU di Kota Benteng Selayar, 1 September 2026.

Kegiatan tersebut mempertemukan pendekatan ekologi dengan pengembangan ekonomi masyarakat.

Kelompok usaha didorong untuk melihat bagaimana hasil perikanan yang mereka peroleh dapat memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Mengapa mangrove

Selama ini, salah satu persoalan yang dihadapi banyak masyarakat pesisir adalah rendahnya nilai ekonomi produk perikanan. Hasil tangkapan sering kali dijual dalam bentuk mentah dengan harga yang bergantung pada kondisi pasar.

Ketika produk hanya dijual sebagai bahan baku, sebagian besar nilai ekonomi berhenti di tangan pihak lain. Karena itu, penguatan nilai tambah menjadi penting.

Melalui pengembangan usaha, diversifikasi produk, dan penguatan kelembagaan kelompok, masyarakat didorong agar tidak hanya menjual hasil, tetapi mulai berpikir tentang bagaimana sumber daya yang tersedia dapat diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Dalam ekonomi pesisir, satu pertanyaan penting selalu muncul: bagaimana masyarakat dapat memperoleh pendapatan yang lebih baik tanpa meningkatkan tekanan terhadap sumber daya alam? Jawabannya bukan selalu dengan mengambil lebih banyak.

Sering kali, yang dibutuhkan adalah menghasilkan nilai yang lebih besar dari sumber daya yang telah diperoleh secara berkelanjutan.

Inilah salah satu pendekatan yang ingin dikembangkan melalui kegiatan pengabdian Unhas.

Jika satu produk perikanan dapat diolah lebih baik, memiliki kualitas lebih tinggi, dikemas dengan menarik, dan dikelola oleh kelompok usaha yang kuat, maka nilai ekonomi yang diperoleh masyarakat dapat meningkat.

“Dengan demikian, tekanan untuk terus mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan dapat dikurangi. Konservasi dan ekonomi kemudian tidak lagi berjalan sendiri-sendiri,”tegas Prof Rasyid.

Keuangan: Fondasi yang Sering Terlupakan

Persoalan lain yang mendapat perhatian tim pengabdian adalah tata kelola keuangan.

“Tidak sedikit usaha masyarakat yang sebenarnya memiliki produk dan pasar, tetapi mengalami kesulitan berkembang karena pencatatan keuangan yang belum tertata,” kata Prof Rasyid.

Pendapatan pribadi, kata dia, sering bercampur dengan uang usaha. Biaya produksi tidak dihitung secara jelas. Arus kas tidak dicatat secara rutin. Akibatnya, pelaku usaha kesulitan mengetahui apakah usahanya benar-benar menghasilkan keuntungan.

Karena itu, tim Unhas juga memberikan penguatan dalam bentuk pembukuan sederhana, pencatatan arus kas, serta pemahaman mengenai perhitungan laba dan rugi. Bagi usaha skala masyarakat, langkah tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, dampaknya dapat sangat penting.

Sebuah kelompok usaha yang mampu menghitung biaya produksi akan lebih mudah menentukan harga. Kelompok yang mengetahui arus kas dapat mengelola modal dengan lebih baik. Sementara pelaku usaha yang memahami keuntungan dan kerugian memiliki dasar lebih kuat untuk mengambil keputusan.

Kegiatan di Desa Bontosunggu memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan dan ekonomi masyarakat tidak selalu harus dipertentangkan. Mangrove dapat menjadi pintu masuk untuk memahami hubungan keduanya.

Kegiatan tersebut juga mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar. Sejumlah pejabat turut hadir, termasuk Kepala Dinas Perikanan, Kepala Bidang Dinas Perikanan, jajaran staf, serta Kepala Desa Bontosunggu.

Kepala Dinas Perikanan Selayar, Zul Janwar yang hadir dalam pelaksanaan pameran mengapresiasi dan menyambut baik gagasan kombinas konservasi dan pengembangan ekonomi warga di sekitar greenbelt mangrove di Selayar.

“Apa yang dilakukan tim PPMU yang dikomandoi Prof Rasyid ini jadi model yang baik untuk direplikasi di tempat lain. Selayar punya banyak kawasan mangrove, membentang dari utara ke selatan, hingga pulau-pulau.

Menurut Zul, kehadiran Unhas, bersama pemerintah daerah dapat menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat pesisir membutuhkan kolaborasi.

“Perguruan tinggi membawa pengetahuan dan inovasi. Pemerintah daerah seperti kami di Selayar ini dapat menyediakan dukungan kebijakan dan program. Masyarakat menjadi pelaku utama yang memahami kondisi dan potensi wilayahnya. Ini yang kami maknai dari kegiatan PPMU ini,” puji Zul.

Zul Janwar melanjutkan bahwa bagi Desa Bontosunggu dan wilayah pesisir Selayar secara umum, menjaga mangrove bukan sekadar kegiatan menanam pohon.

“Yang jauh lebih penting adalah memastikan pohon-pohon yang telah tumbuh tetap hidup, ekosistemnya tetap berfungsi, dan masyarakat memperoleh manfaat dari keberadaan lingkungan yang sehat,” kata dia.

Hemat dia, program PPMU Unhas tahun 2026 di Desa Bontosunggu menjadi penting karena membawa pesan tersebut langsung kepada kelompok masyarakat.

Kegiatan ini mengajak masyarakat untuk melihat mangrove bukan hanya sebagai kawasan hijau di tepi laut, tetapi sebagai bagian dari sistem kehidupan yang menghubungkan ekologi, perikanan, ekonomi, dan kesejahteraan keluarga.

“Bagi masyarakat pesisir, menjaga mangrove sesungguhnya berarti menjaga ruang tumbuh bagi ikan dan biota laut. Menjaga produktivitas perairan, pantai, usaha, menjaga masa depan,” kunci Zul Janwar yang juga alumni Ilmu Kelautan FIKP Unhas ini.

___
Editor Denun