Semangat Malino, Energi Padelogi | IKASOS Menata Masa Depan dengan Kolaborasi dan Aksi Nyata

  • Whatsapp
Rapat Kerja IKASOS di Malino menjadi momentum penting untuk menata kembali arah organisasi. Pertemuan tersebut tidak berhenti pada penyusunan program kerja, tetapi menghasilkan gagasan tentang bagaimana IKASOS dapat menjadi organisasi alumni yang lebih terstruktur, profesional, kolaboratif, dan berdampak (dok: istimewa)

PELAKITA.ID – MAKASSAR — Semangat yang lahir dari kesejukan Malino kini dibawa pulang ke Makassar. Bukan sekadar menjadi catatan Rapat Kerja, tetapi diterjemahkan menjadi energi baru untuk menghidupkan kembali IKASOS sebagai ruang bersama alumni yang hangat, produktif, dan relevan.

Salah satu bentuk paling nyata dari semangat tersebut hadir melalui Padelogi IKASOS, sebuah kegiatan fun padel alumni yang mempertemukan Kanda dan Dinda dalam suasana santai, sehat, dan penuh kekeluargaan.

“Padelogi bukan semata-mata tentang olahraga. Ia adalah cara sederhana IKASOS membuka kembali ruang perjumpaan antargenerasi alumni—ruang untuk saling menyapa, membangun komunikasi, memperluas jejaring, sekaligus menemukan kembali rasa memiliki terhadap organisasi,” jelas Busman D. Shirat, Ketua IKASOS, 2 September 2026.

Dikatakan, di tengah tantangan organisasi alumni yang semakin kompleks, termasuk menurunnya minat mahasiswa dan generasi muda terhadap aktivitas kelembagaan, pendekatan seperti ini menjadi penting.

“Organisasi tidak selalu harus dimulai dari rapat, dokumen, atau program besar. Kadang, organisasi justru kembali hidup dari perjumpaan sederhana: bertemu, bergerak bersama, bercanda, berkeringat, lalu berbicara tentang apa yang bisa dilakukan bersama,” tambah Busman.

 

Dari Malino, Menyusun Langkah Baru

Rapat Kerja IKASOS di Malino menjadi momentum penting untuk menata kembali arah organisasi.

“Pertemuan tersebut tidak berhenti pada penyusunan program kerja, tetapi menghasilkan gagasan tentang bagaimana IKASOS dapat menjadi organisasi alumni yang lebih terstruktur, profesional, kolaboratif, dan berdampak,” ucap Busman.

Salah satu kesadaran yang mengemuka adalah bahwa IKASOS membutuhkan action plan yang lebih terukur. Organisasi harus mampu menjawab perubahan zaman sekaligus mempertahankan karakter kekeluargaan yang selama ini menjadi kekuatannya.

Karena itu, pembagian tugas kepemimpinan juga diarahkan untuk memperkuat eksekusi program.

Wakil Ketua 1, Dr. Ria Renita Abbas, mengoordinasikan bidang Kajian dan Pengabdian Masyarakat; Alumni dan Sumber Daya Manusia; serta Seni, Budaya, Olahraga, dan Kerohanian.

Sementara Wakil Ketua 2, Dr. Nur Riswandi, mengoordinasikan bidang Informasi dan Komunikasi; Kemitraan dan Kewirausahaan; serta Administrasi dan Kesekretariatan. Adapun bidang dana dan kesejahteraan berada dalam koordinasi Bendahara.

Struktur tersebut menunjukkan bahwa IKASOS tidak hanya ingin menjadi wadah silaturahmi, tetapi juga membangun kapasitas organisasi untuk menghasilkan kerja yang lebih nyata.

Pembagian tugas kepemimpinan juga diarahkan untuk memperkuat eksekusi program. Wakil Ketua 1, Dr. Ria Renita Abbas, mengoordinasikan bidang Kajian dan Pengabdian Masyarakat; Alumni dan Sumber Daya Manusia; serta Seni, Budaya, Olahraga, dan Kerohanian. Sementara Wakil Ketua 2, Dr. Nur Riswandi, mengoordinasikan bidang Informasi dan Komunikasi; Kemitraan dan Kewirausahaan; serta Administrasi dan Kesekretariatan. Adapun bidang dana dan kesejahteraan berada dalam koordinasi Bendahara.

Padelogi: Memulai dari Hal yang Dekat

Di antara berbagai agenda strategis tersebut, Padelogi IKASOS menjadi salah satu bentuk aksi yang paling mudah dirasakan langsung oleh alumni. Kegiatan Fun Padel Alumni yang digelar pada Senin, 31 Agustus 2026 di Terracourt, Makassar, menawarkan pendekatan yang sederhana: berkumpul, berolahraga, dan mempererat silaturahmi.

Tidak ada tuntutan harus menjadi pemain padel. Tidak harus memiliki atau membawa raket. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk hadir dan membawa semangat kebersamaan.

Pesan ini penting. IKASOS sedang membangun kembali organisasi dari manusia-manusianya. Dari relasi yang mungkin selama ini renggang karena kesibukan, jarak, pekerjaan, keluarga, dan perjalanan hidup masing-masing alumni.

Padelogi menjadi semacam ruang temu baru.

Di lapangan, sekat usia, angkatan, profesi, bahkan kesibukan dapat mencair. Alumni senior dan junior memiliki kesempatan untuk berinteraksi dalam suasana yang lebih egaliter. Dari interaksi semacam inilah peluang kolaborasi sering kali muncul secara alami.

Olahraga menjadi pintu masuk. Silaturahmi menjadi ruhnya. Kolaborasi menjadi kemungkinan berikutnya.

Bagi Busman dan kawan di IKASOS, kegiatan olahraga, seni, budaya, kerohanian maupun aktivitas informal lainnya memiliki nilai strategis.

“Aktivitas tersebut dapat menjadi infrastruktur sosial yang menghubungkan kembali orang-orang yang memiliki latar belakang akademik dan pengalaman organisasi yang sama,” ujar Busman.

Padelogi, dalam konteks ini, bukan sekadar agenda olahraga. Ia adalah salah satu cara IKASOS membangun kembali jejaring sosialnya. Dari jejaring itu, IKASOS dapat berkembang menuju kolaborasi yang lebih besar.

IKASOS juga merancang pembentukan Asosiasi Pelaku Pemberdayaan Masyarakat, yang dapat menjadi ruang bagi alumni yang bekerja secara profesional di bidang pemberdayaan untuk berbagi pengalaman, membangun jejaring, dan menghasilkan kolaborasi.

Semangat kebersamaan yang dibangun melalui Padelogi diharapkan tidak berhenti di lapangan.

IKASOS telah menyiapkan sejumlah agenda strategis untuk periode 2026–2030, yang mencakup 19 program kerja dan dikelompokkan dalam beberapa agenda besar.

“Salah satunya adalah penguatan pemberdayaan masyarakat dan inovasi sosial melalui gagasan pembentukan Desa Binaan IKASOS. Beberapa alternatif nama yang muncul antara lain Desa Sinergi, Desa Berdaya, atau Social Growth Village,” lanjut Busman.

IKASOS juga merancang pembentukan Asosiasi Pelaku Pemberdayaan Masyarakat, yang dapat menjadi ruang bagi alumni yang bekerja secara profesional di bidang pemberdayaan untuk berbagi pengalaman, membangun jejaring, dan menghasilkan kolaborasi.

Dengan demikian, kapasitas alumni tidak hanya disimpan sebagai pengalaman individual, tetapi dikonsolidasikan menjadi kekuatan kolektif.

Menghubungkan Alumni dengan Dunia Profesional

Potensi besar lain berada pada jejaring alumni.

IKASOS merencanakan pengembangan Alumni Partnership, dengan pemetaan peluang kerja sama bersama pemerintah, BUMN/BUMD, sektor swasta hingga organisasi nonpemerintah.

Pada saat yang sama, gagasan Inkubator Bisnis Alumni dan Kelas Wirausaha diarahkan untuk membantu alumni membangun kemandirian ekonomi, memperkuat kapasitas bisnis, dan membuka akses terhadap pembiayaan serta jejaring pasar.

Di sinilah makna kolaborasi menjadi lebih luas.

Alumni tidak hanya hadir sebagai individu yang memiliki latar belakang pendidikan yang sama. Mereka adalah sumber daya manusia dengan pengalaman, keahlian, jaringan, institusi, dan potensi ekonomi yang dapat saling menguatkan.

IKASOS dapat menjadi simpul yang menghubungkan semua potensi tersebut.

Alumni tidak hanya hadir sebagai individu yang memiliki latar belakang pendidikan yang sama. Mereka adalah sumber daya manusia dengan pengalaman, keahlian, jaringan, institusi, dan potensi ekonomi yang dapat saling menguatkan.

Busman sadar, organisasi yang kuat membutuhkan fondasi administratif yang kuat pula. Karena itu, pembangunan database alumni menjadi salah satu agenda penting. IKASOS menargetkan 85 persen data alumni terintegrasi pada 2030.

“Database akan membantu IKASOS mengetahui siapa saja alumninya, di mana mereka berada, apa profesinya, bidang keahliannya, pengalaman yang dimiliki, serta peluang apa yang dapat dikolaborasikan,” jelas Busman.

Pada saat yang sama, agenda pembentukan Yayasan IKASOS dan pengadaan sekretariat permanen menjadi bagian dari upaya membangun kelembagaan yang lebih kokoh.

Dengan organisasi yang tertata, jejaring yang terhubung, dan data yang tersedia, IKASOS memiliki fondasi lebih kuat untuk bergerak dari sekadar komunitas alumni menjadi ekosistem kolaborasi.

Di ujung penjelasannya, Busman menyebut sebuah organisasi dapat kembali hidup ketika orang-orangnya kembali bertemu. Dari pertemuan lahir percakapan. Dari percakapan muncul gagasan. Dari gagasan tumbuh kolaborasi. Dan dari kolaborasi, organisasi dapat menghasilkan aksi yang memberikan manfaat lebih luas.

“Karena itu, semangat Malino seharusnya tidak berhenti di Malino. Ia harus dibawa ke Makassar, ke kampus, ke komunitas, ke dunia profesional, ke desa-desa binaan, dan ke berbagai ruang kehidupan alumni,” pungkas Busman.

___
Editor Denun