Hadiri Expo Riset dan Pengabdian Masyarakat LPPM Unhas, Wakil Bupati: Unhas Memahami Karakter Selayar

  • Whatsapp
Wakil Bupati Selayar H, Mukhtar saat mengunjungi booth pengabdi LPPM Unhas yang memperkenalkan metode penyadartahuan dan kesiapsiagaan bencana untuk anak-anak usia dini di Selayar melalui metode games (dok: Pelakita.ID)

Pada Expo Riset dan Pengabdian Masyarakat tersebut, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar dapat melihat langsung berbagai hasil program yang telah dilaksanakan tim Universitas Hasanuddin. Sebanyak 42 kegiatan pengabdian kepada masyarakat menjadi bagian dari kolaborasi tersebut.

PELAKITA.ID — Wakil Bupati Kepulauan Selayar, H. Mukhtar, menyampaikan apresiasi kepada Universitas Hasanuddin atas pelaksanaan berbagai program riset dan pengabdian kepada masyarakat di wilayah kepulauan tersebut.

Menurutnya, program yang dijalankan para akademisi Unhas memperlihatkan pemahaman terhadap karakter, potensi, dan kebutuhan pembangunan Kabupaten Kepulauan Selayar.

Apresiasi tersebut disampaikan Mukhtar saat menghadiri Expo Riset dan Pengabdian Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin di Kabupaten Kepulauan Selayar, yang digelar di Kota Benteng, Kabupaten Kepulauan Selayar, Senin, 31 Agustus 2026.

Dalam kegiatan yang menampilkan hasil puluhan program pengabdian tersebut, Mukhtar menilai kehadiran Unhas bukan sekadar membawa kegiatan akademik ke Selayar. Lebih dari itu, berbagai program yang dilaksanakan para dosen dari beragam disiplin ilmu memiliki keterkaitan langsung dengan agenda pembangunan dan persoalan yang dihadapi masyarakat.

Selayar, katanya, memiliki karakter yang berbeda dibandingkan sebagian besar daerah lain di Sulawesi Selatan. Sebagai satu-satunya kabupaten kepulauan yang wilayahnya terpisah dari daratan Pulau Sulawesi, Selayar menghadapi tantangan pembangunan tersendiri.

Namun, di balik tantangan tersebut, Selayar menyimpan potensi yang besar dan terus dikembangkan bersama.

“Berbeda dengan 23 kabupaten/kota lainnya di Sulawesi Selatan, Selayar secara geografis terpisah dari Pulau Sulawesi. Namun, Selayar menyimpan potensi besar yang terus kita kembangkan bersama,” ujar Mukhtar yang sekaligus menyampaikan salam hormat dari Bupati Saleh Ali yang masih dalam perjalanan dari Makassar ke Selayar.

Pada Expo Riset dan Pengabdian Masyarakat tersebut, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar dapat melihat langsung berbagai hasil program yang telah dilaksanakan tim Universitas Hasanuddin. Sebanyak 42 kegiatan pengabdian kepada masyarakat menjadi bagian dari kolaborasi tersebut.

Program-program itu melibatkan dosen dan tim dari berbagai fakultas di lingkungan Unhas, antara lain Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Hukum, Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Kehutanan, Fakultas Keperawatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Peternakan, Fakultas Teknik, Fakultas Teknologi Pertanian, Pascasarjana, serta berbagai bidang keilmuan lainnya.

Prof Muhammad Arsyad, keempat dari kiri, bersama Wakil Bupati Selayar H. Mukhtar dan sejumlah pejabat OPD Selayar (dok: Pelakita.ID)

Kegiatan tersebut juga tidak terpusat pada satu kelompok masyarakat.

Program-program pengabdian menjangkau kelompok usaha, pembudidaya, kelompok tani hutan, kelompok wanita tani, Karang Taruna, kader PKK, kelompok Dasa Wisma, pelajar, hingga generasi muda.

Bagi Mukhtar, luasnya cakupan tersebut memperlihatkan bagaimana kehadiran perguruan tinggi dapat menjangkau berbagai sektor kehidupan masyarakat.

Dari Stunting hingga Ekonomi Sirkular

Wakil Bupati H. Mukhtar menilai tema-tema yang diangkat oleh tim Unhas memiliki keselarasan yang kuat dengan agenda pembangunan daerah.

Berbagai program tersebut mencakup penguatan ekonomi kerakyatan dan kewirausahaan, percepatan penanganan stunting dan penguatan ketahanan pangan, mitigasi bencana dan adaptasi perubahan iklim, penguatan tata kelola desa dan pengembangan wisata, literasi digital, hingga hilirisasi kekayaan intelektual, khususnya kekayaan budaya.

Selain itu, terdapat pula program yang bergerak pada bidang perhutanan sosial, pengembangan ekonomi sirkular, edukasi kesehatan, serta pencegahan berbagai persoalan sosial.

Melalui pendampingan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Hasanuddin, dua komoditas laut tersebut mulai dikembangkan menjadi inovasi pangan lokal untuk mendukung pemenuhan gizi dan membantu pencegahan serta penanganan stunting.

“Keselarasan ini bukan suatu kebetulan, tetapi merupakan bukti adanya sinergi yang baik antara Universitas Hasanuddin dengan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar,” kata Mukhtar.

Menurutnya, kesesuaian antara program pengabdian perguruan tinggi dan agenda pembangunan daerah sangat penting. Dengan demikian, riset dan inovasi yang dihasilkan para akademisi tidak berhenti di lingkungan kampus, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Di tengah karakter Selayar sebagai wilayah kepulauan, kebutuhan terhadap pengetahuan, teknologi, inovasi, dan pendampingan memang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan daerah.

Karena itu, kehadiran berbagai disiplin ilmu dari Universitas Hasanuddin dinilai menjadi kekuatan penting dalam mendukung pembangunan di sektor ekonomi, kesehatan, pangan, lingkungan, pendidikan, hingga pengembangan kapasitas masyarakat.

Kolaborasi Pentahelix

Mukhtar mengatakan, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar tidak dapat bekerja sendiri dalam menghadapi berbagai persoalan pembangunan.

Diperlukan kolaborasi yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan media. Semangat inilah yang kemudian dikenal sebagai pendekatan pentahelix.

Universitas, dalam konteks tersebut, memiliki posisi strategis. Melalui riset, pengabdian, dan inovasi, perguruan tinggi dapat memberikan dasar pengetahuan bagi penyusunan kebijakan sekaligus membantu masyarakat menemukan solusi terhadap berbagai persoalan di lapangan.

Sementara pemerintah daerah memiliki peran untuk memastikan hasil-hasil riset dan inovasi tersebut dapat dihubungkan dengan kebijakan serta program pembangunan.

Masyarakat menjadi pelaku utama sekaligus penerima manfaat, sementara dunia usaha dan media dapat mengambil peran dalam memperluas peluang ekonomi serta penyebaran pengetahuan.

“Karena itu, kolaborasi antara Universitas Hasanuddin dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar harus terus kita kembangkan,” ujarnya.

Mendukung RPJMD Selayar 2025–2029

Kolaborasi dengan perguruan tinggi, lanjut Mukhtar, juga diharapkan dapat mendukung pencapaian target pembangunan yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Kepulauan Selayar 2025–2029.

Sejumlah sasaran pembangunan yang ingin dicapai meliputi peningkatan kesejahteraan masyarakat, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia, serta penguatan daya saing daerah.

Dalam konteks tersebut, riset dan inovasi menjadi semakin penting. Daerah membutuhkan pengembangan produk, teknologi, sumber daya manusia, serta berbagai bentuk hilirisasi agar potensi lokal tidak hanya berhenti sebagai bahan mentah.

Selayar memiliki berbagai sumber daya dan potensi yang dapat dikembangkan. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut memperoleh dukungan teknologi, inovasi, peningkatan kapasitas, dan model pengembangan yang tepat agar dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Karena itu, kemitraan dengan Universitas Hasanuddin diharapkan tidak berhenti dalam bentuk kegiatan penelitian dan pengabdian jangka pendek.

Yang lebih penting adalah membangun hubungan yang berkelanjutan dan terintegrasi dengan kebutuhan pembangunan daerah.

Dari Expo Menuju Desa Binaan

Expo Riset dan Pengabdian Masyarakat LPPM Unhas di Kota Benteng tidak hanya menjadi ajang untuk menampilkan hasil program yang telah dilaksanakan. Kegiatan tersebut juga memperlihatkan arah baru yang sedang dibangun Universitas Hasanuddin dalam pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat.

Mewakili Ketua LPPM Unhas, Prof. Abdul Rasyid Jalili sebelumnya menjelaskan bahwa Unhas akan memperkuat skema pengabdian melalui pengembangan model Desa Binaan atau Desa Mitra.

Pendekatan tersebut diharapkan membuat kegiatan pengabdian tidak berhenti setelah satu kali pelaksanaan, tetapi berkembang menjadi proses pendampingan yang berkelanjutan dan melibatkan masyarakat sebagai mitra.

Selain itu, Prof. Muhammad Arsyad, Ph.D., yang mewakili Rektor Universitas Hasanuddin, menekankan pentingnya memastikan hasil riset dan pengabdian benar-benar memberikan manfaat.

Produk inovasi yang dihasilkan dari kegiatan akademik harus memiliki peluang untuk terus dikembangkan, dimanfaatkan masyarakat, dan jika memungkinkan, memperoleh nilai tambah melalui proses hilirisasi.

Bagi Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar, arah tersebut membuka peluang untuk membangun kolaborasi yang lebih kuat pada tahun-tahun mendatang.

Program-program yang telah dimulai pada 2026 dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan desa mitra, riset tematik, pendampingan masyarakat, inovasi produk, hingga pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal.

Modal Awal untuk Kolaborasi Jangka Panjang

Dengan 42 kegiatan pengabdian yang dilaksanakan di berbagai wilayah Selayar, kolaborasi antara Universitas Hasanuddin dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar kini memiliki modal awal yang cukup kuat.

Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa hasil-hasil kegiatan tersebut tidak berhenti ketika expo dan pameran usai.

Produk inovasi perlu terus dikembangkan. Masyarakat membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan. Pemerintah daerah memerlukan dukungan berbasis pengetahuan dan bukti, sementara perguruan tinggi perlu terus mendengarkan kebutuhan serta persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Melalui kolaborasi tersebut, Selayar berpeluang menjadi salah satu ruang penting bagi pengembangan model riset dan pengabdian Universitas Hasanuddin berbasis wilayah kepulauan.

Mulai dari persoalan stunting, ketahanan pangan, ekonomi kerakyatan, pengelolaan sumber daya alam, lingkungan, perubahan iklim, hingga pengembangan potensi wisata dan produk lokal, semuanya membutuhkan kerja bersama yang tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak.

Karena itu, pesan yang mengemuka dalam Expo Riset dan Pengabdian Masyarakat LPPM Unhas di Kota Benteng, Kabupaten Kepulauan Selayar, 31 Agustus 2026, cukup jelas.

Riset dan pengabdian kepada masyarakat tidak boleh berhenti pada kegiatan, laporan, atau pameran hasil. Keduanya harus terus bergerak menjadi pengetahuan, inovasi, kebijakan, dan kerja nyata yang memberikan dampak bagi masyarakat.

Bagi Selayar, kehadiran 42 program pengabdian Unhas pada 2026 diharapkan menjadi awal dari kolaborasi yang lebih besar: mempertemukan kekuatan akademik perguruan tinggi dengan karakter dan potensi masyarakat kepulauan untuk membangun masa depan Selayar secara bersama-sama.