Mustamin Raga | Mati Lampu

  • Whatsapp
Ada sesuatu yang menarik dari mati lampu. Ia tidak memilih negara. Ia tidak peduli apakah listrik padam di sebuah kampung yang jauh dari pusat kota atau di sebuah kota modern dengan gedung pencakar langit, kereta listrik, pusat data, rumah sakit berteknologi tinggi, atau sistem pembayaran digital.

PELAKITA.ID – Ketika sebuah kota kehilangan cahaya, kita baru sadar betapa banyak kehidupan yang selama ini bergantung pada listrik.

Ada sesuatu yang menarik dari mati lampu. Ia tidak memilih negara. Ia tidak peduli apakah listrik padam di sebuah kampung yang jauh dari pusat kota atau di sebuah kota modern dengan gedung pencakar langit, kereta listrik, pusat data, rumah sakit berteknologi tinggi, atau sistem pembayaran digital.

Amerika Serikat pernah gelap. Italia pernah gelap. Jepang pernah gelap. Australia pernah gelap. Bahkan kawasan Eropa yang dikenal memiliki infrastruktur kelistrikan yang sangat maju pun pernah mengalami pemadaman besar. Karena itu, mati lampu bukanlah monopoli negara berkembang saja. Negara maju pun bisa dan pernah gelap.

Pada 14 Agustus 2003, kawasan timur laut Amerika Serikat dan sebagian Kanada mengalami pemadaman listrik besar yang berdampak kepada sekitar 50 juta orang.

Gangguan yang pada awalnya tampak sebagai persoalan pada beberapa bagian jaringan kemudian berkembang menjadi kegagalan berantai yang melumpuhkan sistem kelistrikan dalam wilayah yang sangat luas.

Italia mengalami peristiwa serupa pada 28 September 2003 ketika hampir seluruh Semenanjung Italia mengalami pemadaman besar yang berdampak kepada puluhan juta orang.

Eropa juga pernah mengalami gangguan besar pada 4 November 2006 ketika persoalan pada jaringan transmisi berkembang menjadi gangguan yang mempengaruhi sejumlah negara.

Jepang, yang terkenal dengan keandalan infrastrukturnya, juga mengalami tekanan besar terhadap sistem kelistrikannya setelah gempa dan tsunami tahun 2011, sehingga pemadaman bergilir diterapkan di wilayah tertentu.

Australia pun pernah mengalami state-wide blackout di South Australia pada tahun 2016.

Negara-negara itu bukan negara yang tidak mengenal teknologi. Justru sebaliknya, mereka adalah negara yang sangat bergantung pada teknologi.

Di sinilah persoalannya menjadi menarik. Teknologi tinggi ternyata tidak membuat sebuah sistem menjadi kebal terhadap kegagalan. Ia hanya membuat sistem itu semakin kompleks. Dan semakin kompleks sebuah sistem, semakin banyak pula titik yang harus dijaga agar semuanya tetap berjalan.

Kita hanya melihat sebuah lampu menyala ketika menekan sakelar. Kita tidak melihat pembangkit, jaringan transmisi, gardu, distribusi, sistem kendali, perangkat pengaman, operator, dan ribuan komponen lain yang bekerja secara bersamaan di belakang cahaya kecil itu. Ketika listrik mati, sesungguhnya yang sedang kita saksikan bukan sekadar sebuah lampu yang padam. Kita sedang menyaksikan sebuah sistem yang berhenti bekerja.

Mati lampu memang merupakan persoalan teknis. Ada pembangkit yang terganggu, jaringan transmisi yang harus diperbaiki, gardu yang mengalami masalah, kabel yang rusak, cuaca ekstrem, kemarau panjanh, pekerjaan pemeliharaan, atau ketidakseimbangan antara pasokan dan beban. Tidak ada sistem kelistrikan yang dapat bekerja selamanya tanpa pemeliharaan. Bahkan negara-negara maju pun melakukan pemeliharaan, penguatan jaringan, dan berbagai langkah untuk menjaga keandalan pasokan.

Karena itu, pemadaman tidak selalu berarti sebuah sistem gagal total. Kadang-kadang justru pemadaman dilakukan untuk mencegah kerusakan yang lebih besar.

Tetapi ada sesuatu yang menarik ketika kita melihat pengalaman di Kota Makassar. Sejak 31 Agustus, PLN telah menyebarkan notifikasi mengenai jadwal pemadaman di sejumlah wilayah.

Bahasa yang digunakan terdengar sangat teknis dan menenangkan: pemeliharaan jaringan, peningkatan keandalan, pekerjaan jaringan, optimalisasi sistem, dan berbagai istilah lain yang secara administratif tentu memiliki makna.

Tetapi bagi masyarakat yang sedang bekerja di depan komputer, pedagang yang sedang melakukan transaksi, mahasiswa yang sedang mengikuti kuliah daring, rumah tangga yang membutuhkan pompa air, atau orang yang sedang mengandalkan pendingin ruangan, semua istilah teknis itu pada akhirnya mempunyai satu nama yang sangat sederhana, yakni MATI LAMPU kita tidak sedang mempersoalkan pemeliharaan.

Pemeliharaan jaringan memang penting. Bahkan mungkin justru karena pemeliharaan itulah sistem dapat tetap bekerja. Yang menarik adalah bagaimana sebuah kenyataan diberi nama. PLN boleh menyebutnya pemeliharaan untuk meningkatkan keandalan, tetapi masyarakat mengalaminya sebagai pemadaman bergilir. Bahasa teknis menjelaskan penyebab, sedangkan bahasa masyarakat menggambarkan pengalaman. Keduanya bisa sama-sama benar. Namun pengalaman masyarakat tidak menjadi berbeda hanya karena istilah yang digunakan terdengar lebih nyaman. Pemadaman tetaplah pemadaman. Mati lampu tetaplah mati lampu.

Mati lampu saat ini telah masuk pada persoalan peradaban. Dahulu, mati lampu mungkin hanya berarti rumah menjadi gelap. Orang menyalakan lilin atau lampu minyak, duduk di teras, lalu menunggu listrik menyala kembali. Sekarang situasinya berbeda.

Mati lampu dapat berarti internet berhenti, Wi-Fi mati, pompa air berhenti, CCTV tidak berfungsi, transaksi digital terganggu, lift berhenti, peralatan rumah tangga tidak dapat digunakan, pusat perbelanjaan harus mengandalkan generator, dan rumah sakit harus berpindah kepada sistem cadangan. Kantor kehilangan sebagian kemampuan untuk bekerja. Bahkan berbagai pelayanan publik yang telah didigitalisasi dapat ikut terganggu.

Kita telah memasuki sebuah zaman di mana manusia tidak lagi sekadar menggunakan listrik. Kita hidup di dalam sebuah sistem yang membutuhkan listrik.

Kita membangun kota pintar, rumah pintar, kendaraan listrik, pusat data, sistem pembayaran digital, layanan pemerintahan berbasis elektronik, komunikasi melalui internet, hingga kecerdasan buatan. Semuanya membuat kehidupan menjadi lebih mudah, lebih cepat, dan lebih efisien. Tetapi hampir seluruh kecanggihan itu memiliki satu ketergantungan yang sangat sederhana yakni bahwa listrik harus tetap menyala.

Maka semakin modern sebuah masyarakat, semakin besar pula ketergantungannya. Kita semakin canggih, tetapi pada saat yang sama semakin rentan. Teknologi memang mengurangi banyak kesulitan manusia, tetapi ia juga menciptakan ketergantungan baru. Dan setiap ketergantungan pada gilirannya menciptakan kerentanan.

Masyarakat yang dahulu masih dapat menjalani kehidupan ketika listrik mati beberapa jam, sekarang bisa mengalami gangguan yang jauh lebih besar karena hampir seluruh aktivitasnya telah terhubung dengan sistem digital dan energi listrik.

Karena itu, pengalaman negara-negara maju menghadapi blackout sebenarnya memberikan pelajaran yang penting. Mereka tidak menganggap kemajuan sebagai jaminan bahwa listrik tidak akan pernah mati. Mereka justru membangun sistem dengan kesadaran bahwa kegagalan mungkin terjadi.

Setelah blackout besar, mereka melakukan investigasi, memperbaiki regulasi, memperkuat jaringan, meningkatkan sistem pengawasan, dan memikirkan bagaimana masyarakat dapat tetap bertahan ketika sistem utama mengalami gangguan. Mereka tidak hanya bertanya mengapa listrik mati, tetapi juga bagaimana mencegah gangguan yang sama terjadi lagi, bagaimana memperkecil dampaknya, dan bagaimana membuat sistem lebih tangguh.

Sebab kemajuan bukan berarti tidak pernah mengalami kegagalan. Kemajuan adalah kemampuan untuk belajar dari kegagalan.

Namun mati lampu memiliki lapisan lain yang lebih dalam. Ia dapat menjadi metafora tentang kehidupan manusia. Sebuah kota bisa penuh cahaya tetapi kehilangan arah. Sebuah institusi bisa memiliki gedung yang megah, komputer yang canggih, dan jaringan komunikasi yang cepat, tetapi kehilangan integritas.

Sebuah organisasi bisa memiliki teknologi yang sangat modern tetapi kehilangan akal sehat. Sebuah negara bisa memiliki infrastruktur yang mahal tetapi mengalami kegelapan dalam pengambilan keputusan. Bahkan seseorang bisa memiliki mata yang terbuka tetapi tidak mampu melihat.

Karena itu, ada banyak bentuk kegelapan dalam kehidupan. Ada listrik yang padam, tetapi ada pula informasi yang padam. Ada jaringan listrik yang terputus, tetapi ada pula jaringan kepercayaan yang rusak. Ada layar yang menjadi gelap, tetapi ada pula nurani yang kehilangan cahaya.

Kita sering panik ketika internet terputus, tetapi tidak selalu panik ketika komunikasi antarmanusia terputus. Kita mengeluh ketika jaringan listrik terganggu, tetapi kadang membiarkan jaringan kepercayaan dalam masyarakat rusak tanpa merasa perlu memperbaikinya.

Padahal sebuah masyarakat tidak hanya membutuhkan energi untuk menyalakan lampu. Ia membutuhkan kepercayaan untuk menyalakan kehidupan bersama. Ia membutuhkan kejujuran agar institusi tetap berjalan. Ia membutuhkan akal sehat agar kekuasaan tidak kehilangan arah. Ia membutuhkan keberanian agar kebenaran tidak selalu kalah oleh kepentingan. Dan ia membutuhkan nurani agar manusia tidak hanya mampu melihat, tetapi juga mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Maka, ketika suatu malam listrik di Makassar kembali padam, mungkin kita akan melakukan hal yang sederhana. Mencari lampu darurat, menyalakan senter telepon, memeriksa daya baterai, mencari power bank, atau sekadar duduk di teras menunggu cahaya kembali.

Sebagian orang mungkin mengeluh. Sebagian lainnya mungkin sudah terbiasa. Tetapi di tengah kota yang perlahan kehilangan cahayanya, sebenarnya ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi. Kita sedang diingatkan betapa rapuhnya kehidupan modern.

Satu sakelar. Satu jaringan. Satu gangguan. Lalu banyak hal berubah. Televisi mati. Kipas berhenti. AC diam. Internet menghilang. Pompa air berhenti. Layar-layar menjadi gelap. Untuk beberapa saat, manusia kembali berhadapan dengan dirinya sendiri tanpa layar, tanpa notifikasi, tanpa media sosial, dan tanpa cahaya buatan yang biasanya memenuhi kehidupan sehari-hari.

Mungkin justru dalam keadaan seperti itu kita dapat melihat sesuatu yang selama ini tertutup oleh gemerlap teknologi: bahwa manusia sesungguhnya tidak pernah benar-benar menguasai cahaya. Kita hanya belajar bagaimana menyalakannya. Dan ketika cahaya itu padam, kita diingatkan bahwa seluruh kemajuan yang kita banggakan tetap memiliki batas.

Karena itu, jangan terlalu sombong ketika lampu menyala. Dan jangan terlalu panik ketika lampu mati. Sebab yang paling penting bukan apakah sebuah kota pernah mengalami kegelapan. Yang paling penting adalah apakah ketika gelap datang, kita masih tahu ke mana harus berjalan.

Gerhana Alauddin, 1 September 2026