Dari Rp660 Juta hingga Program Desa Binaan, Unhas dan Selayar Perkuat Kolaborasi Riset dan Pengabdian

  • Whatsapp
Kiri-kanan, Prof Dr Abdul Rasyid Jalil, M.Si, Wakil Bupati Selayar H. Mukhtar dan Prof Muhammad Arsyad, S.P, Ph.D dari LPPM Unhas (dok: Istimewa)

Secara keseluruhan, Universitas Hasanuddin pada 2026 telah mengalokasikan dana pengabdian kepada masyarakat sekitar Rp2 miliar untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang tersebar di berbagai wilayah. Bagi Selayar, arah baru ini membuka peluang agar program-program yang telah dimulai tidak berhenti setelah satu siklus pendanaan.

PELAKITA.ID — Sebanyak 42 kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan sivitas akademika Universitas Hasanuddin sepanjang 2026 menjadi penanda semakin kuatnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar.

Melalui Pameran Hasil Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Hasanuddin di Kabupaten Kepulauan Selayar, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unhas tidak hanya menampilkan hasil-hasil kegiatan para dosen dan tim pengabdi.

Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mempertemukan riset dan inovasi kampus dengan kebutuhan pembangunan daerah, sekaligus membuka agenda kolaborasi yang lebih terstruktur antara Universitas Hasanuddin dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar.

Tiga sambutan dalam pembukaan pameran memperlihatkan arah kolaborasi tersebut.

Mewakili Ketua LPPM Unhas, Prof. Abdul Rasyid Jalil menjelaskan dukungan pendanaan dan arah pengembangan program pengabdian. Prof. Muhammad Arsyad, Ph.D., mewakili Rektor Unhas, kemudian memaparkan bagaimana riset dan pengabdian diarahkan untuk menghasilkan dampak nyata serta dikembangkan melalui kolaborasi yang lebih luas.

Sementara Wakil Bupati Kepulauan Selayar, H. Mukhtar, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Unhas sekaligus menegaskan pentingnya sinergi perguruan tinggi dan pemerintah daerah untuk mendukung agenda pembangunan Selayar.

Rp660 Juta untuk 42 Kegiatan

Prof. Abdul Rasyid Jalil menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar yang telah memberikan ruang bagi Universitas Hasanuddin untuk menjalankan salah satu bagian penting dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Diungkapkan, pada tahun 2026, sebanyak 42 judul kegiatan dilaksanakan di berbagai wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar.

Untuk mendukung pelaksanaan program tersebut, Universitas Hasanuddin mengalokasikan anggaran sekitar Rp660 juta. Dana tersebut mendukung berbagai kegiatan yang melibatkan dosen, mahasiswa, staf LPPM, serta sivitas akademika dari berbagai fakultas.

Meski demikian, menurut Prof. Abdul Rasyid, nilai sesungguhnya dari kegiatan tersebut tidak hanya dapat dilihat dari besarnya anggaran yang dikeluarkan.

Mobilisasi ratusan orang dari Makassar ke Selayar juga menghasilkan perputaran ekonomi yang memberikan dampak langsung bagi daerah.

“Jika setiap peserta berinteraksi dengan berbagai layanan masyarakat, mulai dari transportasi, penginapan, konsumsi, hingga kebutuhan lainnya, maka kegiatan akademik tersebut secara tidak langsung turut menggerakkan ekonomi lokal,” ucapnya.

“Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar yang telah memberikan kesempatan kepada Unhas untuk melaksanakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,” tambahnya.

Pengabdi yang Lolos Seleksi

Guru Besar Unhas yang akrab disapa Bang Cido itu mengingatkan bahwa tim-tim pengabdian yang hadir di Selayar merupakan peserta yang telah melalui proses kompetisi dan seleksi internal.

Pendanaan kegiatan pengabdian Universitas Hasanuddin bersifat kompetitif. Para dosen mengajukan program, kemudian proposal diseleksi untuk menentukan kegiatan yang memperoleh dukungan pendanaan.

Karena itu, tim yang melaksanakan kegiatan di Selayar merupakan para dosen dan akademisi yang membawa gagasan, keahlian, serta inovasi yang telah melalui proses seleksi.

“Yang terpilih melakukan kegiatan pengabdian di sini adalah orang-orang pilihan karena mereka melewati proses seleksi dan kompetisi. Yang hadir di Kabupaten Kepulauan Selayar ini adalah orang-orang hebat dari Universitas Hasanuddin,” ujarnya.

Para pengabdi berasal dari beragam disiplin ilmu dan tingkatan akademik, mulai dari dosen hingga para profesor. Mereka bekerja di berbagai desa dan kelompok masyarakat dengan isu yang beragam sesuai dengan kebutuhan serta potensi Selayar.

2027: Skema Desa Binaan dan Desa Mitra

Salah satu kebijakan penting yang diperkenalkan LPPM Unhas adalah perubahan arah kegiatan pengabdian mulai tahun 2027. Prof Cido menyampaikan bahwa Unhas akan mengembangkan skema baru bernama Desa Binaan atau Desa Mitra.

Konsep tersebut bukan dimaksudkan untuk menempatkan universitas sebagai pihak yang lebih tinggi dan masyarakat desa sebagai pihak yang lebih rendah.

Sebaliknya, pendekatan tersebut dibangun atas dasar kemitraan dan kontribusi bersama. Perguruan tinggi dan masyarakat menjadi dua pihak yang bekerja sama untuk menyelesaikan persoalan dan mengembangkan potensi lokal.

“Tidak berarti ada ketimpangan level antara yang membina dengan yang dibina. Tentu levelnya sama. Ini adalah proses kontribusi dan kolaborasi bersama,” jelasnya.

Melalui skema tersebut, seluruh program studi di Universitas Hasanuddin akan didorong untuk terlibat dalam kegiatan pengabdian. Setiap program studi memperoleh kesempatan untuk mengembangkan program yang pendanaannya tetap diperoleh melalui mekanisme kompetisi.

Model ini diharapkan dapat mengubah pola kegiatan yang sebelumnya berlangsung secara terpisah menjadi pendampingan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Pendanaan Akan Ditingkatkan

Selain perubahan skema, LPPM Unhas juga berencana meningkatkan dukungan pendanaan kegiatan pengabdian.

Jika pada tahun 2026 besaran dana untuk setiap judul kegiatan berada pada kisaran sebelumnya, maka mulai 2027 alokasi direncanakan meningkat menjadi sekitar Rp25 juta per judul kegiatan.
Peningkatan tersebut diharapkan dapat memperkuat kualitas intervensi dan memperluas dampak program di masyarakat.

Secara keseluruhan, Universitas Hasanuddin pada 2026 telah mengalokasikan dana pengabdian kepada masyarakat sekitar Rp2 miliar untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang tersebar di berbagai wilayah.

Bagi Selayar, arah baru ini membuka peluang agar program-program yang telah dimulai tidak berhenti setelah satu siklus pendanaan.

Desa-desa yang telah menjadi lokasi kegiatan dapat terus dikembangkan melalui model kemitraan jangka panjang, riset, pendampingan, dan kolaborasi lintas disiplin.

___
Editor Denun