LPA Sulsel dan JARAK Indonesia Perkuat Upaya Penarikan Pekerja Anak di Komunitas Matoa

  • Whatsapp
Kegiatan ini turut menghadirkan Jumardi Lanta dari Dewan Masjid Indonesia (DMI) sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya pembentukan akhlak anak sejak dini serta membangun komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak sebagai fondasi keluarga yang kuat.

PELAKITA.ID — Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulawesi Selatan bersama JARAK Indonesia terus memperkuat upaya perlindungan anak melalui Program Penarikan Pekerja Anak yang dilaksanakan di Komunitas Matoa, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Jumat (21/8/2026).

Program ini menjadi bagian dari komitmen berbagai pihak untuk memastikan anak-anak memperoleh hak dasar mereka, terutama hak atas pendidikan, perlindungan, serta lingkungan tumbuh kembang yang aman dan mendukung.

Komunitas Matoa menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus dalam upaya pencegahan dan penanganan pekerja anak.

Read More

Di kawasan tersebut terdapat sekitar 45 kepala keluarga dengan jumlah anak yang diperkirakan mencapai 70 orang.

Sebagian dari mereka masih membutuhkan pendampingan agar dapat lebih fokus pada pendidikan dan perkembangan diri.

Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris LPA Sulsel, Abd. Naris Agam, yang menegaskan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam memastikan anak-anak terbebas dari aktivitas pekerjaan yang dapat menghambat proses belajar dan tumbuh kembang mereka.

Dalam pelaksanaannya, LPA Sulsel bersama JARAK Indonesia tidak hanya mendorong penarikan anak dari aktivitas kerja, tetapi juga memberikan penguatan kepada para orang tua mengenai pentingnya pendidikan dan pola pengasuhan yang positif.

Kegiatan ini turut menghadirkan Jumardi Lanta dari Dewan Masjid Indonesia (DMI) sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya pembentukan akhlak anak sejak dini serta membangun komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak sebagai fondasi keluarga yang kuat.

Menurut Jumardi, komunikasi yang terbuka dapat membantu anak merasa aman untuk menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi. Di sisi lain, orang tua juga dapat lebih memahami kebutuhan, perkembangan, dan tantangan yang dialami anak-anak mereka.

Sekretaris LPA Sulsel, Abd. Naris Agam, menegaskan bahwa upaya penarikan pekerja anak tidak cukup hanya dengan menghentikan anak dari aktivitas bekerja.

Langkah tersebut harus diikuti dengan pendampingan yang berkelanjutan agar anak dapat kembali menikmati hak-haknya secara utuh.

“Anak-anak harus mendapatkan kesempatan untuk belajar, bermain, dan tumbuh sesuai dengan tahapan perkembangannya. Karena itu, penarikan pekerja anak harus diikuti dengan pendampingan yang berkelanjutan, termasuk memastikan mereka tetap bersekolah,” ujarnya.

Sebagai bagian dari keberlanjutan program, LPA Sulsel juga mendorong seluruh anak di Komunitas Matoa untuk tetap melanjutkan pendidikan formal. Selain itu, bersama sejumlah pihak terkait, lembaga ini menginisiasi kegiatan belajar rutin di Mushollah Matoa yang dapat diikuti oleh seluruh anak di lingkungan komunitas tersebut.

Program belajar rutin tersebut diharapkan menjadi ruang yang positif bagi anak-anak untuk memperoleh pendampingan pendidikan, membangun kebiasaan belajar, serta mengembangkan kemampuan sosial dan keagamaan.

LPA Sulsel menilai keberhasilan perlindungan anak tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Keterlibatan masyarakat, orang tua, tokoh agama, lembaga sosial, dan pemerintah menjadi faktor penting untuk memastikan program berjalan secara berkelanjutan.

Melalui pendekatan kolaboratif tersebut, diharapkan anak-anak tidak kembali terlibat dalam pekerjaan yang mengganggu pendidikan mereka dan tetap berada dalam lingkungan yang mendukung proses belajar serta pengembangan diri.

Program Penarikan Pekerja Anak di Komunitas Matoa menjadi bagian dari upaya bersama untuk mewujudkan lingkungan yang ramah anak sekaligus meningkatkan kesadaran keluarga bahwa pendidikan merupakan investasi penting bagi masa depan generasi muda.

Dengan pendampingan yang dilakukan secara rutin, LPA Sulsel dan JARAK Indonesia berharap sekitar 70 anak di Komunitas Matoa dapat terus memperoleh kesempatan untuk belajar, berkembang, dan meraih masa depan yang lebih baik tanpa kehilangan masa kanak-kanak mereka akibat tuntutan pekerjaan. (*)

___
Editor Denun

Related posts