PELAKITA.ID – Pemulihan pasca bencana tidak semestinya hanya dipahami sebagai tahap akhir setelah keadaan darurat berakhir. Pemulihan justru menjadi mekanisme utama yang menentukan kemampuan suatu daerah untuk membangun ketahanan berkelanjutan dalam menghadapi krisis berikutnya.
Temuan tersebut dikemukakan Helen Dias Andhini, ASN Pemprov Sulawesi Tenggara (Sultra) dalam Ujian Akhir Disertasi Program Doktor Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) di Aula Prof. Basri Hasanuddin, Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Kamis 20 Agustus 2026.
Ujian akhir disertasi yang berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut menelurkan capaian akademik yang membanggakan.
Setelah melalui proses presentasi, pendalaman substansi, dan pengujian argumentasi ilmiah oleh tim penilai, Helen Dias Andhini dinyatakan lulus dengan predikat cum laude.
Predikat tersebut diraih dengan nilai rata-rata 4,00, sekaligus mencerminkan konsistensi capaian akademik Helen selama menempuh pendidikan pada Program Doktor Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Hasanuddin.
Dalam disertasi berjudul “Model Manajemen Krisis Strategis: Peran Mediasi Kesiapan Kelembagaan, Tata Kelola Kolaboratif, dan Pemulihan Pascabencana terhadap Ketahanan Berkelanjutan di Provinsi Sulawesi Tenggara”, Helen mengembangkan model yang menghubungkan strategi pengelolaan krisis dengan kesiapan institusi, kolaborasi multipihak, efektivitas pemulihan, dan ketahanan daerah.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kompleksitas bencana akibat perubahan iklim, degradasi lingkungan, serta aktivitas pembangunan berbasis ekstraksi sumber daya.
Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah tidak lagi cukup mengandalkan pendekatan tanggap darurat. Manajemen krisis perlu ditempatkan sebagai bagian dari perencanaan pembangunan dan tata kelola pemerintahan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran dengan desain sequential explanatory.
Data kuantitatif diperoleh dari 285 responden yang berasal dari unsur Satuan Tugas Siaga Bencana Provinsi Sulawesi Tenggara. Data tersebut dianalisis menggunakan Partial Least Squares-Structural Equation Modeling.
Analisis kuantitatif kemudian diperkuat melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah, serta telaah terhadap dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen krisis strategis berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan kelembagaan, tata kelola kolaboratif, serta pemulihan pascabencana.
Pengaruh manajemen krisis strategis terhadap kesiapan kelembagaan tercatat sebesar 0,550, sedangkan pengaruhnya terhadap tata kelola kolaboratif sebesar 0,553.
Kesiapan kelembagaan dan tata kelola kolaboratif selanjutnya memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pemulihan pascabencana. Namun, pemulihan pascabencana memiliki pengaruh paling kuat terhadap ketahanan berkelanjutan, yakni sebesar 0,546.
Temuan ini menunjukkan bahwa keberadaan strategi, regulasi, struktur organisasi, dan dokumen perencanaan belum secara otomatis menghasilkan ketahanan daerah. Seluruh instrumen tersebut harus diterjemahkan menjadi proses pemulihan yang mampu mengembalikan pelayanan publik, mata pencaharian masyarakat, aktivitas ekonomi, fungsi kelembagaan, dan kondisi lingkungan dengan lebih baik.
Kebaruan penelitian Helen terletak pada pengembangan model konseptual yang mengintegrasikan Crisis Management Theory, Institutional Capacity Theory, dan Collaborative Governance Theory. Ketiga pendekatan tersebut sebelumnya lebih sering digunakan secara terpisah.
Melalui integrasi tersebut, ketahanan berkelanjutan dipahami sebagai hasil dari proses transformasi yang berlangsung secara bertahap.
Manajemen krisis menjadi pemicu awal, kesiapan kelembagaan menyediakan kapasitas operasional, tata kelola kolaboratif menghubungkan para pemangku kepentingan, dan pemulihan pascabencana mengubah seluruh kapasitas tersebut menjadi ketahanan jangka panjang.
Disertasi Helen yang dibimbing oleh Prof. Dr. Abd. Rahman Kadir sebagai promotor dan Prof. Dr. Muhammad Yunus Amar sebagai kopromotor ini, diharapkan dapat memperkaya pengembangan ilmu manajemen, khususnya dalam bidang manajemen krisis sektor publik.
Temuan penelitian juga dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan penanggulangan bencana yang lebih adaptif, terintegrasi, dan berorientasi pada pembangunan berkelanjutan.
Capaian itu tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mempertahankan disertasi dalam forum akademik. Penelitian yang dilakukan Helen juga menghasilkan luaran ilmiah berupa dua artikel yang telah dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi serta satu buku.
Luaran tersebut menunjukkan bahwa gagasan yang dikembangkan dalam disertasinya telah melalui proses diseminasi dan penelaahan ilmiah, sekaligus memperluas manfaat penelitian bagi kalangan akademisi, pemerintah, praktisi kebencanaan, dan masyarakat.
Melalui disertasinya, Helen tidak sekadar menawarkan hubungan konseptual antara manajemen krisis strategis, kesiapan kelembagaan, tata kelola kolaboratif, pemulihan pascabencana, dan ketahanan berkelanjutan.
Ia juga menghasilkan model yang dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah untuk memperkuat kapasitas dalam menghadapi bencana.
Keberhasilan tersebut menegaskan bahwa pendidikan doktoral tidak berhenti pada pencapaian gelar akademik, tetapi juga mengandung tanggung jawab untuk menghasilkan pengetahuan yang relevan dan dapat diterapkan.
Dengan dukungan publikasi internasional dan penerbitan buku, hasil penelitian Helen diharapkan dapat memperkaya literatur manajemen krisis serta menjadi referensi dalam pengembangan kebijakan penanggulangan bencana yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berkelanjutan di Indonesia.
(MRM)









