Universitas Hasanuddin, melalui Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, menjadi salah satu pusat lahirnya pemikiran maritim di kawasan timur Indonesia. Para mahasiswa yang mengawal seminar tersebut adalah aktivis-aktivis kelautan terbaik pada zamannya, yang tidak hanya berdiskusi mengenai teori, tetapi juga menghubungkan ilmu pengetahuan dengan agenda pembangunan bangsa.
PELAKITA.ID – Ada foto-foto yang sekadar mengabadikan peristiwa. Ada pula foto yang menyimpan jejak sejarah, gagasan besar, dan semangat sebuah generasi. Foto ini termasuk yang kedua.
Di tengah bingkai itu tampak Bacharuddin Jusuf Habibie berjalan memasuki ruang seminar di Makassar. Di sampingnya hadir Gubernur Sulawesi Selatan Zainal Basri Palaguna, sementara di barisan penyambut berdiri Badaruddin Andi Picunang dan Awaluddin, dua mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK) Universitas Hasanuddin angkatan 1989.
Mereka bukan sekadar panitia penyambut. Mereka adalah representasi generasi muda yang sedang membangun kesadaran baru tentang masa depan Indonesia sebagai bangsa maritim.
Momentum itu terjadi ketika Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan Universitas Hasanuddin masih tergolong muda. Namun usia yang muda tidak menghalangi lahirnya tradisi akademik dan gerakan kemahasiswaan yang kuat.
Mahasiswa ITK aktif dalam HIMAGASTIKA, Senat Mahasiswa Kelautan Unhas, Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM), HMI, IMM, Marine Science Diving Club, hingga organisasi pecinta alam, SAR, dan Pramuka.
Mereka bukan hanya belajar tentang laut di ruang kuliah, tetapi juga menjadikan laut sebagai ruang pengabdian, laboratorium kehidupan, dan arena perjuangan intelektual.
Kehadiran B.J. Habibie di Makassar – jika tidak keliru di Hotel Singgasana atau Sahid ya? – saat itu bukanlah kunjungan biasa. Ia datang memenuhi undangan Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan Indonesia (HIMITEKINDO) untuk menghadiri Seminar Benua Maritim Indonesia.
Organisasi nasional mahasiswa kelautan yang saat itu dipimpin Badaruddin Andi Picunang berhasil menghadirkan salah satu pemikir terbesar bangsa ke forum mahasiswa. Sebuah pencapaian yang luar biasa untuk ukuran organisasi mahasiswa pada masanya.
Keanggotaan HIMITEKINDO saat itu tersebar di berbagai perguruan tinggi yang memiliki program kelautan, seperti IPB, Universitas Riau, Universitas Diponegoro, Universitas Pattimura, Universitas Sam Ratulangi, dan tentu saja Universitas Hasanuddin sebagai tuan rumah penyelenggara.
Di foto tersebut juga tampak Awaluddin Cindenk, mahasiswa ITK Unhas yang saat itu menjabat Ketua BPM ITK Unhas, ikut mengawal jalannya kegiatan.
Yang paling membekas dari seminar itu bukan hanya kehadiran Habibie – Sang Putra Kelahiran Kota Niaga Parepare, melainkan gagasan yang ia bawa. Habibie berkali-kali menegaskan bahwa Indonesia bukan sekadar negara kepulauan, melainkan Benua Maritim.
Sebuah istilah yang kala itu terdengar revolusioner. Melalui konsep tersebut, ia ingin mengubah cara pandang bangsa Indonesia terhadap dirinya sendiri.
Indonesia, menurut Habibie, tidak boleh lagi memandang laut sebagai pemisah antarpulau, tetapi sebagai ruang pemersatu, sumber kesejahteraan, sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi nasional. Laut bukan halaman belakang, melainkan halaman depan bangsa.
Salah satu gagasan yang masih melekat dalam ingatan peserta seminar adalah ketika Habibie berbicara tentang pengembangan marine cages atau keramba lepas pantai untuk membudidayakan ikan-ikan bernilai ekonomi tinggi seperti tuna.
“Bayangkan jika Indonesia memiliki marine cage untuk membudidayakan tuna. Negara-negara lain sedang mengembangkan risetnya.”
Kurang lebih demikian gagasan yang ia sampaikan di Hotel Singgasana Makassar. Penulis mengingat itu saat bertugas sebagai barisan penerima tamu.
Pada masa itu, ide tersebut terdengar sangat visioner. Kini, puluhan tahun kemudian, budidaya tuna dan teknologi offshore aquaculture justru menjadi salah satu arah pengembangan industri kelautan dunia.
Seminar itu juga menjadi ruang konsolidasi pemikiran mahasiswa kelautan Indonesia. Dari forum-forum seperti inilah lahir dorongan agar Indonesia memiliki institusi pemerintahan yang secara khusus mengelola sektor kelautan. Wacana pembentukan kementerian kelautan menguat di berbagai kalangan akademisi dan mahasiswa.
Beberapa tahun kemudian, gagasan tersebut mulai menemukan bentuk melalui pembentukan Departemen Eksplorasi Laut (DEL), yang selanjutnya berkembang menjadi Departemen Kelautan dan Perikanan, dan kini dikenal sebagai Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Tentu perjalanan pembentukan kementerian ini melibatkan banyak tokoh dan dinamika politik nasional, tetapi suara mahasiswa dalam mengarusutamakan pentingnya sektor kelautan menjadi bagian dari mozaik sejarah tersebut.
Membawa B.J. Habibie ke Makassar pada masa itu juga memiliki makna simbolik yang kuat. Itu adalah penegasan bahwa Makassar adalah kota maritim—kota yang sejak berabad-abad menjadi simpul perdagangan Nusantara, tempat lahirnya pelaut-pelaut ulung, dan pusat diaspora masyarakat bahari Indonesia.
Universitas Hasanuddin, melalui Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, menjadi salah satu pusat lahirnya pemikiran maritim di kawasan timur Indonesia.
Para mahasiswa yang mengawal seminar tersebut adalah aktivis-aktivis kelautan terbaik pada zamannya, yang tidak hanya berdiskusi mengenai teori, menyelam, atau berkunjung ke pulau seperti Barrang Lompo tetapi juga menghubungkan ilmu pengetahuan dengan agenda pembangunan bangsa dengan mengajak organisasi mahasiswa bersua pengambil kebijakan.
Kini, ketika Indonesia kembali berbicara tentang ekonomi biru, hilirisasi hasil laut, konservasi pesisir, karbon biru, hingga poros maritim dunia, foto ini terasa semakin relevan. Siapa gerangan yang mau melanjutkan estafet itu dengan nuansa, spirit dan arah yang terbarukan?
Bagaimana pun, foto itu mengingatkan bahwa banyak gagasan besar yang kita dengungkan hari ini sesungguhnya telah ditanam jauh sebelumnya oleh para pemikir seperti B.J. Habibie dan diperjuangkan oleh mahasiswa-mahasiswa yang percaya bahwa masa depan Indonesia berada di laut.
Bagi penulis, bagi kita semua foto ini bukan sekadar dokumentasi penyambutan seorang tokoh nasional. Ia adalah potret perjumpaan antara visi seorang negarawan dan idealisme generasi muda. Sebuah pengingat bahwa perubahan besar selalu berawal dari keberanian untuk membayangkan masa depan.
Sosodara, di antara wajah-wajah muda yang mengantar Habibie memasuki ruang seminar itu, tersimpan keyakinan yang hingga kini tetap relevan: Indonesia akan menjadi bangsa besar ketika mampu memandang laut bukan sebagai batas, melainkan sebagai identitas dan kekuatan utamanya.
___
Penulis Kamaruddin Azis









