Kementerian Pertanian (Kementan) telah berkomitmen menyuntikkan investasi senilai lebih dari Rp11 miliar untuk pengadaan 50 unit drone perdana. Dengan harga per unit mencapai Rp225 juta, alat ini jelas bukan sekadar “mainan” atau alat hobi, melainkan aset industrial berteknologi tinggi.
PELAKITA.ID – Selama puluhan tahun, ekosistem pendidikan tinggi kita terjebak dalam sebuah ironi besar: ribuan riset brilian lahir dari otak-otak terbaik bangsa, namun mayoritas berakhir tragis sebagai tumpukan kertas laporan yang berdebu atau prototipe yang kaku di pojok laboratorium.
Ada jurang yang sangat lebar antara “kecanggihan di atas kertas” dengan “kebutuhan di atas lahan.”
Itu cerita lama, kini, Universitas Hasanuddin (Unhas) baru saja meruntuhkan stigma tersebut. Lewat gebrakan inovasi drone pertanian yang berhasil menembus kontrak industri bernilai miliaran rupiah, Unhas mengirimkan pesan kuat kepada dunia akademik: riset kampus tidak boleh lagi hanya menjadi menara gading yang terisolasi. Inovasi harus mampu turun ke tanah, menyentuh lumpur, dan menggerakkan roda ekonomi nasional.
Ini bukan sekadar cerita tentang purwarupa yang berhasil terbang, melainkan tentang bagaimana sebuah institusi pendidikan tinggi bertransformasi menjadi mesin penggerak modernisasi pangan yang kompetitif secara komersial.
Hilirisasi Nyata: Dari Laboratorium ke Karakter Lahan yang Beragam
Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., secara tegas membuktikan bahwa “hilirisasi riset” bukan sekadar jargon politik kampus.
Drone pertanian ini telah melewati tahapan krusial yang sering gagal dilalui riset lokal: validasi lapangan. Teknologi ini tidak hanya diuji di lingkungan terkendali, tetapi langsung diterjunkan untuk menghadapi berbagai karakter lahan dan komoditas yang berbeda di seluruh Indonesia.
Kemampuan untuk melakukan transisi dari prototipe laboratorium ke produksi massal adalah langkah yang paling sulit sekaligus paling vital bagi kemandirian teknologi Indonesia. Unhas telah memvalidasi bahwa inovasi lokal mampu memenuhi standar industri yang ketat, sekaligus menjadi solusi bagi kebutuhan spesifik petani di berbagai wilayah tanah air.
“Kita patut bersyukur karena Unhas bukan hanya memproduksi drone untuk digunakan di Makassar, tetapi sudah dipakai di seluruh Indonesia,” ungkap Prof. Jamaluddin Jompa.
Investasi Strategis Rp11 Miliar: Validasi atas Kualitas Lokal
Kepercayaan negara terhadap inovasi ini tercermin dalam nilai kerja sama yang sangat signifikan.
Kementerian Pertanian (Kementan) telah berkomitmen menyuntikkan investasi senilai lebih dari Rp11 miliar untuk pengadaan 50 unit drone perdana. Dengan harga per unit mencapai Rp225 juta, alat ini jelas bukan sekadar “mainan” atau alat hobi, melainkan aset industrial berteknologi tinggi.
Secara analisis ekonomi, angka Rp11 miliar ini merupakan pengakuan terhadap skala ekonomi (scale of economy) yang layak.
Investasi besar dari Kementan ini menunjukkan bahwa pemerintah mulai melihat bahwa membiayai inovasi anak bangsa jauh lebih strategis dan efisien dalam jangka panjang dibandingkan terus-menerus bergantung pada teknologi impor yang belum tentu adaptif dengan karakter lahan tropis Indonesia.
Daya tawar utama drone Unhas ini terletak pada kemampuannya mengimplementasikan konsep precision farming. Tidak sekadar menyemprotkan cairan secara acak, drone ini dilengkapi dengan sistem navigasi canggih yang memungkinkan penaburan benih secara otomatis dan penyemprotan presisi.
Analisis teknis menunjukkan bahwa navigasi cerdas ini mampu mengatur dosis secara akurat sesuai dengan kebutuhan spesifik di setiap titik lahan.
Dampaknya bukan hanya pada kecepatan kerja, tetapi pada penghematan biaya produksi petani melalui pengurangan penggunaan bahan kimia yang berlebihan (wasteful use of materials). Inilah inti dari modernisasi: teknologi yang mendatangkan keuntungan finansial sekaligus menjaga kelestarian lahan.
Sinergi “Triple Helix”: Memutus Silo Birokrasi
Keberhasilan ini adalah buah dari ekosistem yang disebut “Triple Helix,” sebuah model kolaborasi yang sering kali hanya menjadi teori di buku teks, namun berhasil diwujudkan oleh Unhas.
Universitas Hasanuddin (Riset & Inovasi) sebagai otak di balik pengembangan teknologi sementara Kementerian Pertanian (Kebijakan & Pasar): Sebagai penyedia dukungan anggaran sekaligus pengguna utama yang menjamin penyerapan produk. Lalu ada PT EnerSky Innovation (Produksi Industri) sebagai mitra yang mengelola kapasitas manufaktur dalam skala besar.
Kolaborasi ini sangat langka namun krusial karena berhasil memutus silo birokrasi. Unhas menyediakan risetnya, EnerSky menyiagakan pabriknya, dan Kementan memastikan pasarnya. Sinergi ini menciptakan sebuah closed-loop ecosystem yang memastikan inovasi tidak mati di tengah jalan karena kendala produksi atau ketiadaan pembeli.
Ambisi Global 2027: Menantang Dominasi Pemain Dunia
Meski rilis resminya tercatat pada Juli 2026, Unhas sudah menatap jauh ke depan.
Prof. Jamaluddin Jompa mengungkapkan bahwa komunikasi dengan beberapa negara telah dibuka untuk menjajaki pasar ekspor. Targetnya adalah menembus pasar internasional mulai tahun depan.
Sebagai analisis atas inovasi itu, kita melihat drone Unhas memiliki keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki produsen global seperti DJI dari Tiongkok: adaptabilitas tropis.
Drone ini lahir dan diuji di atas karakter lahan yang beragam—dari perbukitan hingga lahan basah—dan pada berbagai komoditas khas tropis.
Jika Unhas mampu mempertahankan standar kualitas ini, tidak mustahil teknologi lokal kita akan menjadi raja di pasar agrikultur global.
Pencapaian Unhas adalah pengingat bahwa ketahanan pangan nasional hanya bisa dicapai melalui kemandirian teknologi. Inovasi drone ini membuktikan bahwa ketika riset akademis bertemu dengan visi industri dan dukungan kebijakan yang tepat, hasilnya adalah sebuah kekuatan ekonomi baru yang mampu mengangkat martabat petani kita.
Model kerja sama berkelanjutan ini seharusnya menjadi standar baru bagi seluruh universitas di Indonesia. Keberhasilan Unhas membawa riset dari ruang laboratorium menuju lahan pertanian adalah bukti bahwa kita mampu bersaing.
__
Tim Editorial Pelakita.ID









