PAIR Annual Meeting 2026: Peneliti Kembangkan Rakit Budidaya Rumput Laut Semi-Tenggelam Tahan Gelombang

  • Whatsapp
Ilustrasi

PELAKITA.ID – MAKASSAR – Tim peneliti dari University of Queensland (UQ), Australia, memperkenalkan inovasi rakit budidaya rumput laut semi-tenggelam (semi-submersible seaweed cultivation raft) yang dirancang untuk meningkatkan ketahanan budidaya terhadap cuaca ekstrem sekaligus mendukung produktivitas dan kesejahteraan pembudidaya rumput laut di Indonesia.

Inovasi tersebut dipresentasikan secara daring oleh Prof. Wang dalam PAIR Annual Meeting 2026 yang berlangsung di Hotel Unhas and Convention, Makassar, Rabu (22/7/2026).

Meskipun tidak dapat hadir secara langsung karena alasan kesehatan, Prof. Wang menyampaikan perkembangan terbaru riset yang dilakukan bersama tim peneliti University of Queensland.

Tim riset tersebut terdiri atas Associate Professor Wen Adam, Dr. Phuong Wen, Dr. Julian Chu, dan Chris Kong Shu Da.

Mereka mengembangkan infrastruktur budidaya rumput laut yang berkelanjutan, aman, hemat biaya, dan memiliki ketahanan tinggi terhadap kondisi laut yang dinamis.

“Kami sedang mengembangkan infrastruktur budidaya rumput laut yang baru, berkelanjutan, hemat biaya, aman, dan sangat tangguh untuk mendukung serta meningkatkan mata pencaharian pembudidaya rumput laut di Sulawesi,” ujar Prof. Wang.

Salah satu capaian utama penelitian adalah rancangan rakit budidaya semi-tenggelam yang mampu menurunkan posisi rakit beberapa meter di bawah permukaan laut ketika terjadi gelombang tinggi atau badai.

Dengan mekanisme tersebut, tanaman rumput laut diharapkan terlindungi dari hempasan gelombang permukaan yang selama ini menjadi salah satu penyebab utama kerusakan fasilitas budidaya.

Uji coba perdana sistem ini dijadwalkan berlangsung pada September atau Oktober 2026 melalui kolaborasi tiga mitra utama.

University of Queensland bertanggung jawab atas desain rekayasa, analisis struktur, dan dukungan teknis selama demonstrasi lapangan.

Daur Agro sebagai mitra industri menyediakan pendanaan untuk pengadaan material, fabrikasi, serta pemasangan rakit di lokasi uji coba.

Sementara itu, Universitas Hasanuddin akan menangani operasional budidaya yang mencakup penanaman bibit, pemeliharaan, pemantauan, panen, hingga evaluasi pertumbuhan rumput laut.

Lokasi uji coba dipilih di perairan lepas pantai Kolaka yang memiliki kedalaman sekitar 15 meter, tinggi gelombang rata-rata satu meter, periode gelombang empat detik, dan kecepatan arus sekitar 0,3 meter per detik. Kondisi tersebut dinilai mewakili karakteristik perairan budidaya yang membutuhkan infrastruktur dengan daya tahan tinggi terhadap dinamika oseanografi.

Desain rakit menggunakan empat pelampung utama yang ditempatkan di setiap sudut untuk menopang platform berbentuk persegi. Melalui sistem mekanis yang dipasang pada pelampung, tali-tali budidaya dapat diturunkan hingga beberapa meter di bawah permukaan laut ketika kondisi cuaca memburuk.

Seluruh sistem ditambatkan menggunakan blok jangkar beton yang ditempatkan di dasar laut sehingga posisi rakit tetap stabil.

Prof. Wang menjelaskan bahwa setiap pelampung dilengkapi berbagai komponen teknis untuk menjaga keseimbangan struktur. Di antaranya adalah jembatan aluminium, roda pengarah tali (roller), serta sistem pemberat (counterweight) yang dapat disesuaikan menggunakan beban beton maupun air agar pelampung tetap seimbang saat beroperasi.

Untuk meningkatkan faktor keselamatan, bagian dalam pelampung juga diisi busa polistirena sehingga tetap mengapung meskipun terjadi kebocoran pada badan pelampung.

Tim peneliti juga melakukan simulasi hidrodinamika dan hidroelastisitas guna menguji deformasi struktur, kekuatan tali, serta sistem tambat terhadap pengaruh gelombang dan arus laut pada kondisi ekstrem.

Menurut Prof. Wang, seluruh komponen dirancang berdasarkan spesifikasi teknik yang rinci, mulai dari jenis material, dimensi, panjang komponen, hingga jumlah setiap bagian yang digunakan dalam pembangunan rakit percontohan.

Ke depan, tim peneliti akan mengembangkan desain yang lebih besar dengan bentuk segi delapan (octagonal). Bentuk tersebut dipilih karena memiliki lebih banyak titik distribusi beban sehingga gaya yang diterima struktur maupun sistem tambat dapat tersebar lebih merata dibandingkan desain persegi.

Selain memperbesar kapasitas, tim juga tengah mengembangkan sistem otomatisasi melalui pelampung bergerak yang dilengkapi motor listrik bertenaga panel surya. Sistem ini memungkinkan pelampung bergerak naik-turun mengikuti tali tambat sehingga proses menurunkan maupun mengangkat platform budidaya dapat dilakukan secara otomatis tanpa banyak intervensi manual.

“Kami sangat antusias mengembangkan desain ini dan akan terus melakukan analisis secara menyeluruh untuk memastikan sistem dapat bekerja secara optimal di lokasi budidaya, termasuk di kawasan Takalar,” kata Prof. Wang.

Pengembangan rakit budidaya semi-tenggelam tersebut diharapkan menjadi salah satu inovasi penting dalam meningkatkan ketahanan sektor budidaya rumput laut terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, mitra industri, dan institusi penelitian di Indonesia, teknologi ini diharapkan mampu memperkuat produktivitas sekaligus meningkatkan keberlanjutan usaha budidaya rumput laut di kawasan pesisir.