PELAKITA.ID – MAKASSAR – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Perubahan Iklim Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) mendorong pemanfaatan kembali instalasi hidroponik di Kelurahan Cinta Damai, Kota Makassar, sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Inisiatif tersebut diwujudkan melalui kegiatan edukasi bertajuk “Panduan Praktis Menghitung Modal dan Potensi Keuntungan Usaha Ketahanan Pangan bagi Warga Cinta Damai” yang digelar di RT 06 RW 08, Kelurahan Cinta Damai, Selasa (21/7).
Kegiatan ini menyasar masyarakat, khususnya anggota Bank Sampah Unit (BSU) Cinta Damai.
Melalui program tersebut, mahasiswa memberikan pemahaman mengenai pengembangan usaha hidroponik, mulai dari perhitungan kebutuhan modal awal, biaya operasional, proyeksi pendapatan, hingga estimasi keuntungan usaha secara sederhana.
Pendekatan ini diharapkan dapat membantu masyarakat melihat hidroponik bukan sekadar aktivitas bercocok tanam, tetapi juga sebagai peluang ekonomi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Dalam pendampingannya, tim KKN-T menemukan bahwa BSU Cinta Damai sebenarnya telah memiliki instalasi hidroponik yang masih layak digunakan. Namun, fasilitas tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena terbatasnya pengetahuan masyarakat mengenai teknik budidaya serta pengelolaan usaha hidroponik.

Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa berupaya menghidupkan kembali fungsi instalasi melalui pendampingan teknis dan edukasi kewirausahaan agar sarana yang tersedia dapat memberikan manfaat nyata bagi warga.
Penanggung jawab kegiatan, Jesslyn Wisely Suchiady, mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, mengatakan bahwa hidroponik memiliki potensi besar sebagai solusi ketahanan pangan keluarga sekaligus sumber pendapatan tambahan apabila dikelola dengan baik.
“Kami ingin memperlihatkan bahwa hidroponik tidak selalu membutuhkan modal yang besar. Dengan memanfaatkan instalasi yang sudah tersedia dan memahami cara menghitung biaya serta potensi keuntungan, masyarakat dapat mengembangkan hidroponik sebagai sumber pangan sekaligus peluang usaha yang berkelanjutan,” ujar Jesslyn.
Selain penyampaian materi, peserta juga diajak mempraktikkan secara langsung proses penyemaian benih sebagai tahapan awal budidaya hidroponik. Kegiatan praktik tersebut memberikan pengalaman langsung kepada peserta sehingga diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan diri masyarakat untuk mengelola instalasi hidroponik secara mandiri.
Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, mahasiswa turut membagikan buku saku berjudul “Panduan Praktis Menghitung Modal dan Potensi Keuntungan Usaha Ketahanan Pangan.”
Modul tersebut berisi panduan sederhana mengenai perencanaan modal, biaya produksi, perhitungan pendapatan, hingga estimasi keuntungan usaha hidroponik yang dapat diterapkan oleh rumah tangga maupun kelompok masyarakat.
Program ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui penguatan ketahanan pangan, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan mendorong lahirnya peluang usaha berbasis masyarakat, SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) melalui pemanfaatan lahan perkotaan secara produktif, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui penerapan sistem budidaya yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Melalui program ini, mahasiswa KKN-T Perubahan Iklim Universitas Hasanuddin berharap instalasi hidroponik yang dimiliki BSU Cinta Damai dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Ke depan, hidroponik tidak hanya diharapkan menjadi sumber pemenuhan kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga berkembang menjadi usaha produktif yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim di tingkat lokal.
___
Penulis: Jesslyn Wisely Suchiady









