PAIR Annual Meeting 2026: Konsorsium Peneliti Lintas Kampus Kembangkan Teknologi Geospasial dan AI untuk Transformasi Budidaya Rumput Laut

  • Whatsapp
Prof Nurjannah Nurdin (imaage by Pelakita.ID)

PELAKITA.ID – MAKASSAR – Konsorsium peneliti dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan Australia mendorong pemanfaatan teknologi geospasial, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta sistem berbasis data untuk mentransformasi budidaya rumput laut menjadi lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan.

Gagasan tersebut dipaparkan dalam presentasi kelompok kerja bertajuk Smart Technology and Automation pada PAIR Annual Meeting 2026 yang berlangsung di Hotel Unhas and Convention, Makassar, Rabu (22/7/2026).

Paparan disampaikan oleh Prof. Nurjannah Nurdin, pakar Sistem Informasi Geografis (GIS) dan Penginderaan Jauh Universitas Hasanuddin, yang mewakili konsorsium peneliti.

Tim ini menghimpun pakar dari sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), serta Monash University, Australia, dengan dukungan kolaborasi berbagai mitra riset lainnya.

Menurut Prof. Nurjannah, konsorsium tersebut berupaya mengintegrasikan berbagai teknologi digital ke dalam sistem budidaya rumput laut agar mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir.

“Penelitian difokuskan pada dua aktivitas utama, yakni menganalisis proses budidaya beserta faktor-faktor lingkungan yang memengaruhinya, serta membangun sistem informasi berbasis data untuk mendukung pengambilan keputusan oleh pembudidaya maupun pemerintah,” jelasnya.

Dikatakan, dalam penelitian ini, tim mengembangkan empat kelompok data utama yang saling terintegrasi, yaitu data lingkungan perairan, kesehatan rumput laut, kondisi pasar, dan pengelolaan limbah.

“Integrasi keempat komponen tersebut diharapkan mampu memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi usaha budidaya sekaligus menjadi dasar penyusunan rekomendasi berbasis bukti,” sebutnya.

Konsorsium memanfaatkan teknologi geospasial dan kecerdasan buatan dengan mengolah lebih dari 7.700 foto udara hasil pemetaan menggunakan drone di sejumlah lokasi penelitian, termasuk Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Pemetaan tersebut memungkinkan peneliti mengidentifikasi distribusi kawasan budidaya, memperkirakan potensi produksi, hingga memantau perubahan kondisi perairan secara lebih akurat.

Selain itu, tim juga mengolah data lingkungan selama sepuluh tahun untuk membangun model yang mampu memberikan informasi kondisi perairan secara hampir waktu nyata (near real time).

Menurut Nurjannah, informasi tersebut diharapkan dapat membantu pembudidaya menentukan waktu tanam, mengantisipasi perubahan lingkungan, dan meningkatkan produktivitas usaha.

Pendekatan penelitian tidak hanya mengandalkan citra udara. Konsorsium juga melakukan survei lapangan secara digital terhadap 331 pembudidaya rumput laut melalui 113 pertanyaan yang menggali aspek teknis budidaya, kondisi sosial ekonomi, hingga praktik usaha.

Data tersebut menjadi dasar pengembangan sistem pendukung keputusan berbasis data.

Salah satu temuan penting penelitian menunjukkan bahwa metode budidaya menggunakan tali ganda (double line) mampu menghasilkan produksi sekitar 60–70 persen lebih tinggi dibandingkan metode tali tunggal (single line) yang masih banyak diterapkan pembudidaya di berbagai daerah.

Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas dapat dicapai melalui inovasi teknik budidaya tanpa harus memperluas area produksi.

Konsorsium juga tengah mengembangkan sistem berbagi data melalui government dashboard dan platform informasi yang dapat diakses oleh pembudidaya.

Melalui sistem tersebut, pemerintah memperoleh data spasial untuk mendukung penyusunan kebijakan, sementara petani dapat mengakses informasi penting mengenai suhu perairan, tinggi gelombang, kondisi lingkungan, hingga indikator lain yang memengaruhi keberhasilan budidaya.

Melalui kolaborasi lintas perguruan tinggi dan pemanfaatan teknologi digital, konsorsium peneliti berharap lahir ekosistem budidaya rumput laut yang lebih presisi, adaptif, dan berkelanjutan.

Pendekatan ini diharapkan menjadi fondasi pengembangan smart aquaculture yang mampu meningkatkan kesejahteraan pembudidaya sekaligus memperkuat daya saing industri rumput laut Indonesia.

___
Editor Denun