Publikasi penting sebagai proses kalibrasi ilmu pengetahuan. Tetapi setelah itu, hasil riset harus diterjemahkan menjadi policy brief, rekomendasi kebijakan, hingga menjadi peraturan pemerintah, peraturan gubernur, atau kebijakan teknis lainnya yang benar-benar dapat dijalankan.
PELAKITA.ID – MAKASSAR – Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof. Jamaluddin Jompa, menegaskan bahwa riset yang berdampak tidak boleh hanya berakhir sebagai publikasi ilmiah. Menurutnya, penelitian harus berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat (demand-driven research) dan mampu diterjemahkan menjadi kebijakan publik yang memberikan manfaat langsung bagi pembangunan daerah.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menjelaskan filosofi pelaksanaan Program Partnership for Australia-Indonesia Research (PAIR).
Menurut Prof. Jamaluddin, PAIR bukan sekadar kolaborasi riset antara Indonesia dan Australia, melainkan model penelitian yang menempatkan masyarakat sebagai titik awal dalam menentukan arah penelitian.
Pemilihan tema, lokasi, hingga metode penelitian dilakukan melalui diskusi bersama masyarakat, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan sehingga hasil riset benar-benar menjawab persoalan yang dihadapi di lapangan.
“Riset tidak boleh hanya datang dari atas. Topik penelitian harus lahir dari kebutuhan masyarakat. Karena itu, sejak awal kami berdiskusi dengan masyarakat, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan untuk menentukan persoalan yang paling mendesak untuk diteliti,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan menjadi instrumen penting untuk membantu masyarakat memahami berbagai tantangan baru, terutama dampak perubahan iklim.
Melalui proses penelitian, masyarakat memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum mereka pahami sehingga memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan serta mempersiapkan generasi berikutnya menghadapi tantangan masa depan.
Menurut Prof. Jamaluddin, peningkatan pengetahuan masyarakat merupakan hasil riset yang sering kali tidak dapat diukur secara langsung dengan nilai ekonomi. Namun justru di situlah letak nilai strategis sebuah penelitian.
Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan, memahami risiko perubahan iklim, dan mengubah perilaku agar lebih ramah lingkungan merupakan investasi jangka panjang yang jauh melampaui ukuran materi.
“Jangan melihat dampak riset hanya dalam bentuk rupiah. Pengetahuan, kesadaran, dan kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap perubahan merupakan manfaat yang nilainya sangat besar,” katanya.
Lebih lanjut, Prof. Jamaluddin mengungkapkan bahwa hasil-hasil riset PAIR telah berkontribusi terhadap berbagai rekomendasi kebijakan pemerintah.
Sejumlah temuan penelitian bahkan menjadi bahan penyusunan regulasi, mulai dari kebijakan pengembangan sektor rumput laut, perencanaan pembangunan wilayah, hingga pengembangan infrastruktur seperti jalur kereta api di Sulawesi.
Ia mencontohkan, rekomendasi hasil penelitian pada fase awal PAIR turut memengaruhi pengembangan sumber daya manusia di bidang perkeretaapian.
Kehadiran jalur kereta api di Sulawesi, menurutnya, tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga tenaga ahli yang disiapkan melalui pembukaan program studi teknik perkeretaapian. Hal tersebut menunjukkan bahwa riset mampu mendorong perubahan kebijakan hingga pengembangan kapasitas sumber daya manusia.
Meski demikian, Prof. Jamaluddin menegaskan bahwa publikasi ilmiah tetap menjadi bagian penting dari proses penelitian. Publikasi memungkinkan hasil riset memperoleh validasi dari komunitas ilmiah internasional sehingga kualitas temuan dapat diuji dan disempurnakan. Namun, publikasi bukanlah tujuan akhir.
“Publikasi penting sebagai proses kalibrasi ilmu pengetahuan. Tetapi setelah itu, hasil riset harus diterjemahkan menjadi policy brief, rekomendasi kebijakan, hingga menjadi peraturan pemerintah, peraturan gubernur, atau kebijakan teknis lainnya yang benar-benar dapat dijalankan,” jelasnya.
Untuk memastikan proses tersebut berjalan efektif, PAIR membentuk unit khusus yang bertugas mentransformasikan hasil penelitian menjadi berbagai dokumen kebijakan.
Tim tersebut menyusun policy brief, rekomendasi strategis, hingga usulan regulasi yang dapat dimanfaatkan pemerintah dalam menyusun kebijakan pembangunan berbasis bukti (evidence-based policy).
Melalui pendekatan tersebut, Prof. Jamaluddin berharap riset tidak lagi dipandang sebagai aktivitas akademik yang berhenti di ruang laboratorium atau jurnal ilmiah, melainkan menjadi instrumen strategis dalam menyelesaikan persoalan masyarakat, memperkuat kebijakan publik, dan mendorong pembangunan berkelanjutan di Indonesia.









