Dirjen Fauzan Adziman: Riset Harus Menyelesaikan Masalah Daerah, Bukan Sekadar Menjadi Publikasi

  • Whatsapp
Fauzan mengatakan, setiap proyek penelitian kini diarahkan untuk melibatkan kampus-kampus yang berada dekat dengan lokasi riset. Model ini memungkinkan hasil penelitian tetap berkelanjutan setelah pendanaan berakhir sekaligus memperkuat kapasitas akademik di daerah.

PELAKITA.ID – MAKASSAR – Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Fauzan Adziman, menegaskan bahwa penelitian tidak boleh berhenti sebagai produk akademik semata, melainkan harus mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat dan menjadi dasar lahirnya kebijakan publik.

Pernyataan tersebut disampaikan saat menjawab pertanyaan wartawan dalam sesi diskusi pada PAIR Annual Meeting 2026 di Makassar.

Menanggapi pertanyaan mengenai bagaimana hasil riset dapat bertransformasi menjadi kebijakan pemerintah, Fauzan menjelaskan bahwa keterlibatan pemerintah daerah harus dimulai sejak tahap penyusunan proposal penelitian.

Menurutnya, setiap proyek riset diwajibkan memiliki mitra di daerah agar sejak awal penelitian diarahkan untuk menjawab kebutuhan lokal.

“Kalau riset itu tidak mau menyelesaikan masalah di daerah, sebaiknya jangan riset,” tegas Fauzan. Ia mengibaratkan riset seperti proses menanak nasi yang membutuhkan waktu dan tahapan yang tepat. Terlalu cepat akan menghasilkan pekerjaan yang belum matang, sedangkan terlalu lama tanpa implementasi membuat hasil riset kehilangan relevansinya bagi masyarakat.

Sebagai contoh nyata, Fauzan mengungkapkan bahwa hasil penelitian program sebelumnya telah berkontribusi terhadap lahirnya Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 13 Tahun 2023, khususnya dalam perencanaan sektor maritim dan perikanan.

Menurutnya, hal tersebut membuktikan bahwa riset mampu menjadi fondasi penyusunan kebijakan apabila sejak awal dibangun melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat.

Selain mendorong lahirnya kebijakan berbasis riset, Kemdiktisaintek juga menekankan pentingnya pelibatan masyarakat lokal melalui perguruan tinggi di daerah.

Fauzan mengatakan, setiap proyek penelitian kini diarahkan untuk melibatkan kampus-kampus yang berada dekat dengan lokasi riset. Model ini memungkinkan hasil penelitian tetap berkelanjutan setelah pendanaan berakhir sekaligus memperkuat kapasitas akademik di daerah.

Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai pola hub and spoke, di mana perguruan tinggi besar menjadi pusat kolaborasi yang diperkuat oleh kampus-kampus lokal.

Kemdiktisaintek juga tengah mengembangkan program Mahasiswa Berdampak, yang diharapkan mampu menjadikan mahasiswa sebagai agen perubahan di daerah. Melalui program ini, mahasiswa didorong tidak hanya menjalankan penelitian, tetapi juga memastikan hasilnya memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Menjawab pertanyaan mengenai indikator keberhasilan riset, Fauzan menilai ukuran keberhasilan tidak dapat dilihat hanya dalam satu atau dua tahun masa pendanaan.

Banyak penelitian baru menunjukkan dampaknya setelah satu dekade atau lebih. Karena itu, pemerintah mulai memberi perhatian lebih kepada kelompok peneliti yang telah membangun riset secara konsisten selama bertahun-tahun agar hasilnya dapat dipanen dan dimanfaatkan secara maksimal.

Baginya, indikator utama keberhasilan penelitian adalah sejauh mana hasil riset benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Fauzan juga menjelaskan arah baru kerja sama riset Indonesia dan Australia. Menurutnya, kolaborasi kini tidak lagi hanya mempertemukan universitas dengan universitas, tetapi juga melibatkan pemerintah dan industri kedua negara.

Pendekatan ini bertujuan mempercepat hilirisasi hasil penelitian sehingga inovasi yang dihasilkan kampus dapat dimanfaatkan oleh dunia usaha, memperkuat rantai pasok global, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Mengenai anggaran riset, Fauzan membantah anggapan bahwa pendanaan penelitian mengalami penurunan. Ia menjelaskan bahwa anggaran justru meningkat, namun jumlah proposal yang masuk melonjak drastis, dari sekitar 60 ribu proposal pada tahun sebelumnya menjadi sekitar 118 ribu proposal pada 2026.

Persaingan memperoleh hibah penelitian pun menjadi jauh lebih ketat. Pemerintah, lanjutnya, telah menambah alokasi dana riset sebesar Rp4 triliun sehingga total hibah penelitian kini mencapai sekitar Rp8 triliun per tahun. Tambahan anggaran tersebut diarahkan untuk memperluas kesempatan riset sekaligus meningkatkan kualitas ekosistem penelitian nasional bersama BRIN.

Fauzan juga menyambut baik usulan kerja sama peningkatan kapasitas jurnalis dalam bidang sains dan riset.

Ia menyatakan Kemdiktisaintek terbuka membangun kolaborasi dengan asosiasi media maupun komunitas jurnalis agar komunikasi hasil penelitian kepada publik menjadi lebih efektif dan berdampak luas.