PELAKITA.ID – MAKASSAR – Rumput laut kembali ditegaskan sebagai salah satu komoditas strategis yang dapat menjadi penggerak ekonomi biru Indonesia. Namun, potensi besar tersebut tidak akan berkembang optimal tanpa pembenahan tata kelola, inovasi teknologi, penguatan sistem perbenihan, serta kolaborasi multipihak yang berkelanjutan.
Pesan itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diikuti penulis bertema Circular Economy Based on Seaweed pada PAIR (Partnership for Australia-Indonesia Research) Annual Meeting 2026 di Makassar.
Diskusi mempertemukan peneliti Indonesia dan Australia, pemerintah, akademisi, pelaku industri, hingga organisasi pembangunan untuk merumuskan arah transformasi industri rumput laut nasional.
Indonesia saat ini dikenal sebagai salah satu produsen rumput laut terbesar di dunia. Meski demikian, pemanfaatan lahan budidaya dinilai masih jauh dari optimal. Tantangan yang dihadapi tidak lagi sekadar meningkatkan produksi, tetapi membangun ekosistem industri yang efisien, adaptif terhadap perubahan iklim, dan mampu menciptakan nilai tambah melalui pendekatan ekonomi sirkular.
Salah satu isu yang mendapat perhatian besar adalah kepastian tata ruang laut.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Selatan menjelaskan bahwa dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) yang berlaku saat ini masih mengelompokkan kawasan budidaya secara umum.
Belum terdapat pembagian ruang secara spesifik untuk komoditas seperti rumput laut, keramba jaring apung, maupun budidaya lobster.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memunculkan konflik pemanfaatan ruang antarsektor. Pengalaman di Jeneponto, misalnya, memperlihatkan bagaimana kawasan budidaya rumput laut bersinggungan dengan pengembangan pariwisata.
Karena itu, revisi RTRWP yang akan dilakukan diharapkan mampu menghasilkan zonasi yang lebih detail dengan dukungan data geospasial beresolusi tinggi sehingga memberikan kepastian investasi sekaligus perlindungan bagi masyarakat pesisir.
Selain persoalan ruang, tantangan kelembagaan juga menjadi perhatian. Prof. Mochammad Chalid menilai keberhasilan transformasi industri sangat ditentukan oleh kemampuan seluruh pemangku kepentingan menyepakati persoalan utama yang ingin diselesaikan.
Menurutnya, koordinasi lintas kementerian, pemerintah daerah, dunia usaha, dan perguruan tinggi masih perlu diperkuat agar kebijakan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Ia juga menyoroti keterbatasan anggaran daerah bagi program ekonomi sirkular yang masih sering diposisikan sebagai program pelengkap, bukan bagian dari pembangunan utama.
Di sisi lain, keberlanjutan kebijakan juga sangat bergantung pada komitmen kepala daerah yang kerap berubah mengikuti dinamika politik.
Aspek biologis menjadi perhatian berikutnya. Prof. Nita Rukminasari menjelaskan bahwa produktivitas rumput laut nasional mulai menghadapi gejala biological fatigue akibat penggunaan bibit vegetatif secara berulang dalam waktu panjang.
Dampaknya, tanaman semakin rentan terhadap penyakit ice-ice maupun perubahan kondisi lingkungan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, forum merekomendasikan pembangunan sistem perbenihan nasional yang lebih kuat melalui standardisasi mutu bibit, sertifikasi nasional, pengembangan kebun induk adaptif sesuai karakteristik lokal, hingga pengembangan teknologi pemuliaan berbasis genomik.
Pembentukan National Seed Center juga dipandang penting sebagai pusat konservasi plasma nutfah sekaligus pengembangan varietas unggul yang lebih tahan terhadap perubahan iklim.
Transformasi industri juga dinilai tidak dapat dilepaskan dari pemanfaatan teknologi digital. Prof. Nurjannah Nurdin memaparkan pemanfaatan sistem informasi geografis (GIS), kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), serta citra drone untuk memetakan kawasan budidaya rumput laut.
Ribuan foto udara yang dikombinasikan dengan data lingkungan selama lebih dari satu dekade memungkinkan penyusunan model prediksi produksi yang lebih akurat.
Data tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam sebuah government dashboard yang dapat dimanfaatkan pemerintah sebagai sistem pendukung pengambilan keputusan, mulai dari penentuan waktu tanam, identifikasi lokasi yang sesuai, hingga penyaluran bantuan budidaya secara lebih tepat sasaran.
Di tingkat lapangan, inovasi teknik budidaya juga menunjukkan hasil menjanjikan. Penggunaan metode double line dilaporkan mampu meningkatkan produksi sekitar 60–70 persen dibandingkan metode single line, tanpa memerlukan perluasan areal budidaya yang signifikan.
Adaptasi terhadap perubahan iklim turut menjadi fokus pembahasan. Kolaborasi University of Queensland, Universitas Hasanuddin, dan mitra industri mengembangkan teknologi rakit semi-submersible, yaitu rakit yang dapat diturunkan beberapa meter ke bawah permukaan laut ketika gelombang tinggi atau badai datang sehingga tanaman tetap terlindungi.
Teknologi tersebut memanfaatkan sistem pelampung, roller, serta penyeimbang beban agar tetap stabil dalam kondisi laut ekstrem.
Uji lapangan direncanakan berlangsung di Kolaka pada akhir 2026, sebelum dikembangkan lebih lanjut melalui otomatisasi berbasis tenaga surya untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Forum juga memperluas perspektif dengan mengangkat potensi Ulva, rumput laut hijau yang selama ini sering dianggap gulma.
Peneliti memaparkan bahwa Ulva memiliki kandungan protein tinggi serta berpotensi dikembangkan sebagai bahan pangan, pakan, hingga material kemasan hayati yang dapat terurai secara alami.
Pemanfaatan komoditas seperti ini dinilai membuka peluang baru bagi industri rumput laut Indonesia dalam menjawab meningkatnya permintaan pasar global terhadap produk berbasis nabati dan ramah lingkungan.
Rangkaian diskusi pada PAIR Annual Meeting 2026 memperlihatkan bahwa masa depan industri rumput laut Indonesia tidak cukup hanya bertumpu pada peningkatan produksi.
Transformasi harus dibangun melalui integrasi kebijakan tata ruang, inovasi teknologi, penguatan sistem perbenihan, pengembangan infrastruktur adaptif, serta model ekonomi sirkular yang melibatkan masyarakat pesisir sebagai pelaku utama.
Kolaborasi riset Indonesia–Australia yang dibangun melalui PAIR diharapkan menjadi katalis bagi lahirnya ekosistem industri rumput laut yang lebih inklusif, tangguh menghadapi perubahan iklim, sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Dengan fondasi tersebut, rumput laut berpeluang menjadi salah satu pilar utama pembangunan ekonomi biru Indonesia di masa depan.
Gambaran spesifik
Perhelatan PAIR Annual Meeting 2026 di Makassar menjadi momentum krusial bagi kolaborasi riset lintas negara antara Indonesia dan Australia.
Dokumen ini merangkum narasi strategis terpadu yang menyintesiskan inovasi teknologi, penguatan biologis, dan ketegasan regulasi untuk menciptakan ekosistem industri yang tidak hanya kompetitif secara global, tetapi juga inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.
Fondasi Tata Ruang dan Kelola: Kunci Kepastian Usaha
Tanpa kepastian ruang, investasi akan selalu dibayangi risiko. Hal inilah yang menjadi sorotan utama dalam membedah tata kelola pesisir saat ini.
Urgensi Tata Ruang Detail Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulawesi Selatan menekankan bahwa dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) yang ada (Perda No. 3/2022) masih terlalu general. Zona budidaya belum dirinci spesifik untuk komoditas tertentu seperti rumput laut vs keramba jaring apung.
Akibatnya, konflik pemanfaatan ruang menjadi residu permanen, sebagaimana terjadi di Kabupaten Jeneponto di mana sektor budidaya berbenturan keras dengan pariwisata. Hambatan teknis utama terletak pada integrasi data dengan skala peta yang berbeda (1:50.000 dan 1:250.000), sehingga revisi RTRWP tahun depan wajib menggunakan peta presisi tinggi guna menjamin keadilan ruang.
Kepemimpinan dan Koordinasi Kelembagaan Prof. Mochammad Chalid memberikan perspektif tajam bahwa kegagalan transformasi sering kali berakar dari ketidakmampuan menyepakati problem statement lintas lembaga. Indonesia menghadapi tantangan birokrasi yang berlapis:
Friksi Hierarki Administratif: Pemerintah daerah kerap terjebak dalam disonansi arahan antara mandat sektoral dari kementerian teknis dengan jalur koordinasi administratif di bawah Kemendagri.
Paradoks Anggaran: Sektor lingkungan dan ekonomi sirkular sering kali hanya dipandang sebagai program tambahan, bukan kebutuhan dasar pembangunan seperti kesehatan, sehingga alokasi anggaran daerah untuk program ini sangat terbatas.
Vulnerabilitas Kepemimpinan: Keberlanjutan kebijakan sangat bergantung pada komitmen kepala daerah, yang sering kali goyah saat terjadi suksesi politik.
Revolusi Perbenihan: Mengatasi Kelelahan Biologis
Stagnasi produktivitas nasional bukan sekadar masalah teknis budidaya, melainkan gejala biological fatigue (kelelahan biologis) yang akut. Prof. Nita Rukminasari memperingatkan bahwa penggunaan bibit hasil propagasi vegetatif yang berulang-ulang telah melemahkan daya tahan tanaman terhadap penyakit ice-ice dan fluktuasi iklim.
Rekomendasi Kebijakan Bibit Unggul:
Jangka Pendek: Standardisasi mutu dan sistem sertifikasi bibit nasional untuk memastikan ketertelusuran (traceability). Jangka Menengah: Pembangunan kebun percontohan yang adaptif lokal. Pelajaran penting dari Sulawesi Barat menunjukkan bahwa teknologi kultur jaringan tidak memberikan hasil optimal di semua lokasi. Ini membuktikan bahwa pendekatan “satu solusi untuk semua” adalah kekeliruan; teknologi harus disesuaikan dengan karakteristik oseanografi setempat. Jangka Panjang: Transformasi menuju pemuliaan genomik dan bioteknologi untuk menciptakan varietas tahan iklim.
Langkah ini harus dipayungi oleh pembentukan National Seed Center sebagai bank sumber daya genetik dan pusat riset perbenihan regional.

Transformasi Digital dan Teknologi “Smart Aquaculture”
Era baru budidaya rumput laut kini bergantung pada kekuatan data masif (big data) untuk memitigasi risiko kegagalan panen. Kecerdasan Buatan dan Data Geospasial Prof. Nurjannah Nurdin memaparkan terobosan penggunaan teknologi GIS dan AI yang mengolah lebih dari 7.700 foto udara hasil pemetaan drone.
Kekuatan utama model ini terletak pada penggunaan data lingkungan historis selama 10 tahun untuk membangun prediksi produksi yang akurat secara near real-time. Seluruh data ini diintegrasikan ke dalam sebuah government dashboard, yang bukan sekadar situs informasi, melainkan alat bantu pengambilan keputusan strategis bagi pemerintah untuk menentukan waktu tanam dan alokasi bantuan.
Efektivitas Teknik Budidaya Inovasi teknis terbukti mampu mengeskalasi hasil tanpa perlu melakukan ekspansi lahan yang masif:
| Metode Budidaya | Estimasi Peningkatan Produksi |
| Single Line | Standar/Basis |
| Double Line | 60–70% lebih tinggi dibandingkan Single Line |
Inovasi Infrastruktur: Rakit Tahan Cuaca Ekstrem
Ketangguhan infrastruktur menjadi penentu keberlanjutan usaha di tengah dinamika laut yang kian liar. Kolaborasi antara University of Queensland, Universitas Hasanuddin, dan mitra industri Daur Agro telah melahirkan inovasi rakit semi-submersible (semi-tenggelam).
Teknologi ini dirancang agar rakit dapat diturunkan beberapa meter di bawah permukaan laut saat badai atau gelombang tinggi menerjang, melindungi tanaman dari energi hempasan permukaan.
Mekanisme Teknis: Menggunakan pelampung dengan roda pengarah tali (roller) dan sistem counterweight untuk menjaga stabilitas. Badan pelampung diisi polistirena guna mencegah tenggelam total jika terjadi kebocoran.
Peta Jalan: Uji coba lapangan akan dilakukan di Kolaka pada akhir 2026. Pengembangan selanjutnya mencakup desain oktagonal untuk distribusi beban yang lebih merata serta otomatisasi berbasis tenaga surya untuk efisiensi operasional di kawasan seperti Takalar.
Diversifikasi Komoditas: Mengangkat Potensi “Ulva”
Strategi diversifikasi kini mulai melirik rumput laut hijau (Ulva). Selama ini dianggap sebagai gulma pengganggu, peneliti dari Jasuda, Zulung, memaparkan bahwa Ulva adalah komoditas dengan nilai ekonomi tinggi yang belum terjamah.
Keunggulan Strategis Ulva: Profil Nutrisi Unggul: Memiliki kandungan protein yang sangat tinggi, berada tepat di bawah Porphyra (bahan baku utama nori). Inovasi Material: Berpotensi besar sebagai lapisan pembungkus makanan hayati yang mampu menjaga kesegaran produk pangan secara alami. Pasar Masa Depan: Sangat relevan dengan pertumbuhan pasar global plant-based food dan solusi kemasan ramah lingkungan.
Menuju Ekosistem Rumput Laut yang Inklusif dan Berkelanjutan
Transformasi industri rumput laut Indonesia memerlukan sinergi total: revisi RTRWP memberikan “rumah” hukum yang pasti, inovasi AI dan rakit semi-submersible menyediakan alat kerja yang cerdas, dan revolusi perbenihan memperkuat basis biologisnya. Namun, sebagaimana ditekankan oleh Prof. Mochammad Chalid, seluruh kemajuan teknologi ini akan hampa jika tidak dibarengi dengan model bisnis sirkular yang inklusif.
Transformasi ini harus merangkul pelaku di akar rumput, mulai dari pembudidaya kecil hingga kelompok pemulung sampah pesisir, sebagai bagian integral dari rantai pasok. Melalui riset kolaboratif PAIR, Indonesia optimistis mampu menempatkan rumput laut sebagai pilar utama kedaulatan ekonomi pesisir di kancah global.
___
Penulis Kamaruddin Azis









