PELAKITA.ID – MAKASSAR – Program Studi S1 Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) kembali memperkuat kompetensi mahasiswanya melalui kegiatan Pembekalan Evidence Based Learning II (EBL-II) yang berlangsung pada 22–23 Juli 2026 di Aula Prof. Sirajuddin Beku, FKM Unhas.
Sebanyak 108 mahasiswa mengikuti pembekalan sebagai persiapan sebelum melaksanakan pembelajaran lapangan di 13 desa di Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep.
Kegiatan ini merupakan bagian dari model pembelajaran Evidence Based Learning (EBL) yang mengintegrasikan teori di ruang kuliah dengan pengalaman nyata di masyarakat.
Pada tahap EBL-II, mahasiswa ditugaskan menganalisis data yang telah dikumpulkan pada EBL-I untuk mengidentifikasi masalah gizi prioritas, mengkaji faktor penyebabnya, serta menyusun rekomendasi intervensi berbasis bukti yang akan menjadi dasar kegiatan pada tahap berikutnya.
Ketua Pengelola Evidence Based Learning, Safrullah Amir, S.Gz., MPH, menjelaskan bahwa EBL-II merupakan kelanjutan dari EBL-I sehingga mahasiswa kembali ditempatkan di desa yang sama. Pendekatan ini memungkinkan mahasiswa tidak hanya memotret kondisi status gizi masyarakat, tetapi juga memahami akar persoalan yang dihadapi setiap wilayah secara lebih mendalam.
“Kesinambungan proses pembelajaran ini menjadi kekuatan EBL karena menghasilkan analisis dan rekomendasi yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Ketua Program Studi S1 Ilmu Gizi FKM Unhas, Dr. Abdul Salam, SKM, M.Kes., Dietisien, menegaskan bahwa EBL merupakan bagian integral dari implementasi kurikulum melalui konversi Mata Kuliah Penguatan Kompetensi (MKPK).
Menurutnya, pengalaman belajar langsung di lapangan menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, mengintegrasikan ilmu gizi dengan pendekatan kesehatan masyarakat, serta mengambil keputusan berdasarkan bukti ilmiah.
“Kompetensi tersebut sangat penting sebagai bekal lulusan dalam menghadapi berbagai tantangan persoalan gizi yang semakin kompleks, baik di tingkat nasional maupun global,” katanya.
Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FKM Unhas, Dr. Wahiduddin, SKM, M.Kes., menekankan bahwa pelaksanaan EBL tidak hanya memberikan pengalaman akademik, tetapi juga membuka peluang menghasilkan karya ilmiah.
Data dan hasil analisis yang diperoleh mahasiswa selama kegiatan dapat dikembangkan menjadi artikel ilmiah dan dipublikasikan pada jurnal sebagai bagian dari luaran akademik.
Ia mendorong mahasiswa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meningkatkan kualitas penelitian sekaligus memperkuat budaya publikasi ilmiah di lingkungan FKM Unhas.
Pelaksanaan EBL-II juga menjadi bagian dari kontribusi Universitas Hasanuddin dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Melalui identifikasi masalah gizi secara komprehensif, kegiatan ini mendukung SDG 3 (Good Health and Well-being) dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Selain itu, fokus pada penanganan berbagai persoalan gizi, seperti stunting, anemia, gizi kurang, maupun gizi lebih, turut berkontribusi terhadap SDG 2 (Zero Hunger) yang menekankan pentingnya perbaikan status gizi masyarakat.
Dari sisi pendidikan, model pembelajaran berbasis pengalaman lapangan ini juga mendukung SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kompetensi profesional, kemampuan analisis, dan pemecahan masalah secara nyata.
Selama dua hari pembekalan, mahasiswa memperoleh penguatan materi mengenai analisis masalah gizi, identifikasi faktor risiko, penentuan prioritas masalah, penyusunan rekomendasi intervensi berbasis bukti, hingga mekanisme pelaksanaan kegiatan di lapangan.
Bekal tersebut diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi yang tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh pemerintah desa, puskesmas, maupun pemangku kepentingan lainnya dalam merancang program peningkatan status gizi masyarakat.
Melalui penyelenggaraan Evidence Based Learning, Program Studi S1 Ilmu Gizi FKM Universitas Hasanuddin terus menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang unggul secara akademik, memiliki kepekaan sosial, serta mampu menghadirkan solusi berbasis bukti bagi berbagai persoalan kesehatan masyarakat.
Pendekatan ini sekaligus memperlihatkan peran strategis perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan kesehatan yang berkelanjutan di Indonesia.









