PELAKITA.ID – Makassar, 9 September 2026 — Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin kembali memperkuat atmosfer akademik berwawasan global melalui kuliah tamu internasional bertajuk “Communities Behind the Lens.”
Kegiatan yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom ini menghadirkan *Shannon Switzer Swanson, Ph.D., adalah seorang National Geographic Explorer. Kuliah tamu tersebut dimoderatori oleh Dr. Abigail Mary Moore, B.Sc., M.Sc dan diikuti oleh mahasiswa, dosen, peneliti, serta peserta dari berbagai kalangan.
Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin, yang diwakili oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof. Dr. Ir. Nadiarti, M.Sc. memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, kuliah tamu internasional merupakan salah satu sarana strategis untuk mempertemukan sivitas akademika Unhas dengan akademisi dan peneliti berpengalaman dari berbagai negara.
Kegiatan semacam ini diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa, memperkuat kapasitas penelitian, serta membuka peluang kolaborasi akademik yang berkelanjutan.
“Sekolah Pascasarjana Unhas terus mendorong terselenggaranya kegiatan akademik yang inovatif dan berwawasan internasional. Mahasiswa tidak hanya perlu menguasai teori dan metode penelitian, tetapi juga harus mampu memahami masyarakat, membangun kolaborasi, dan menghasilkan ilmu pengetahuan yang memberikan dampak nyata,” ujar Prof. Sukri.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan komunitas perlu menjadi bagian penting dalam pengembangan penelitian multidisiplin, khususnya penelitian yang berkaitan dengan lingkungan, kesehatan, sosial, dan pembangunan berkelanjutan.
Dalam pemaparannya, Shannon memperkenalkan beragam metode visual partisipatif, terutama PhotoVoice, participatory video, dan Community Voice Method. Pendekatan tersebut memberikan ruang kepada anggota komunitas untuk mendokumentasikan dan merefleksikan pengalaman, kekuatan, kebutuhan, serta permasalahan yang mereka hadapi melalui foto, video, dan narasi.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai sumber data, tetapi juga dilibatkan sebagai mitra aktif dalam proses produksi dan penyebarluasan pengetahuan.
“Di balik setiap foto, kumpulan data, dan publikasi ilmiah terdapat komunitas yang pengetahuan, pengalaman, serta hubungannya dengan alam perlu diakui dan dihargai,” ungkap Shannon.
Menurutnya, universitas dan peneliti tidak seharusnya hanya datang untuk mempelajari masyarakat, tetapi juga perlu mendengarkan, belajar, dan melibatkan mereka sebagai mitra yang bermakna. Pendekatan tersebut sangat penting dalam penelitian kelautan, pesisir, dan lingkungan karena masyarakat lokal memiliki pengetahuan ekologis yang terbentuk dan diwariskan melalui interaksi lintas generasi dengan lingkungan mereka.
Shannon turut membagikan pengalaman penelitiannya bersama komunitas pesisir di berbagai negara, termasuk Indonesia, Filipina, Kenya, Thailand, dan sejumlah wilayah kepulauan lainnya.
Berbagai studi tersebut menunjukkan bahwa foto dan film partisipatif dapat mengungkap pengalaman serta persoalan masyarakat yang terkadang tidak tertangkap melalui metode penelitian konvensional. Hasilnya dapat digunakan untuk mendorong dialog publik, meningkatkan kesadaran bersama, memperkuat posisi masyarakat, dan memberikan masukan bagi penyusunan kebijakan yang lebih sesuai dengan kebutuhan lokal.

Dalam sesi diskusi, para peserta mendalami peluang pengembangan film sebagai bagian dari luaran penelitian ilmiah dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Shannon menjelaskan bahwa film partisipatif dapat digunakan untuk menyampaikan suara komunitas sekaligus mendukung proses analisis penelitian, selama dikembangkan berdasarkan pertanyaan penelitian yang jelas, metode yang sistematis, prinsip etika yang kuat, dan keterlibatan masyarakat sejak tahap perencanaan.
“Komunitas perlu dilibatkan untuk menentukan persoalan dan dampak yang ingin dicapai. Pertanyaan penelitian harus selaras dengan kebutuhan masyarakat sekaligus tujuan ilmiah peneliti,” jelasnya.
Prof. Nadiarti berharap kuliah tamu ini dapat menginspirasi sivitas akademika untuk mengembangkan penelitian yang lebih peka terhadap suara, pengalaman, dan pengetahuan masyarakat. “Penelitian tidak seharusnya berhenti pada penerbitan artikel ilmiah. Penelitian juga harus mampu membangun dialog, memperkuat kapasitas komunitas, serta menjadi dasar bagi kebijakan dan tindakan yang lebih responsif,” tegasnya.
Melalui kuliah tamu internasional ini, Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin semakin meneguhkan komitmennya dalam mengembangkan pendidikan dan penelitian yang unggul, inklusif, beretika, serta berorientasi pada keberlanjutan.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring kolaborasi internasional dan meningkatkan kontribusi Unhas dalam menghasilkan pengetahuan yang relevan serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.









