Pascasarjana Unhas Sosialisasikan Strategi Memilih Jurnal Target dan Mengenali Jurnal Predator

  • Whatsapp
Suasana “Sosialisasi Pemilihan Jurnal Target dan Pengenalan Jurnal Predator” yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Jumat, 2 Oktober 2026. (dok: Pelakita.ID)

PELAKITA.ID — Memilih jurnal yang tepat menjadi salah satu tahapan penting dalam proses publikasi ilmiah. Kesalahan menentukan jurnal target bukan hanya dapat memperlambat proses publikasi, tetapi juga berisiko membawa penulis pada jurnal yang tidak kredibel atau bahkan jurnal predator.

Isu tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan “Sosialisasi Pemilihan Jurnal Target dan Pengenalan Jurnal Predator” yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Jumat, 2 Oktober 2026.

Kegiatan yang berlangsung secara daring dan luring ini diikuti sekitar 100 peserta secara daring dan 20-an peserta secara luring di Aula Kelas Pascasarjana Unhas.

Sesi sosialisasi menghadirkan Prof. Andi Dirpan, Ph.D sebagai pemateri. Kegiatan tersebut juga dihadiri Dekan Pascasarjana Unhas, Prof. Sukri Palutturi Ph.D, yang memberikan perhatian terhadap pentingnya penguatan kapasitas sivitas akademika dalam mengelola publikasi ilmiah secara lebih cermat dan bertanggung jawab.

Menurut Prof. Sukri, kemampuan publikasi perlu dibangun dari penguasaan pengetahuan dasar yang sering kali dianggap sederhana, tetapi justru menentukan kualitas dan ketepatan sebuah naskah.

Kata dia, penulis perlu memahami karakter jurnal yang dituju, termasuk ruang lingkup, format tulisan, ketentuan jumlah kata, sistem sitasi, proses peer review, hingga berbagai persyaratan teknis lainnya.

“Kita ingin mahasiswa dan dosen tidak hanya mampu menulis artikel ilmiah, tetapi juga memahami ke mana artikel itu sebaiknya dikirim. Hal-hal dasar seperti berapa jumlah kata yang dipersyaratkan, bagaimana format artikel, bagaimana cara mengirimkan naskah, sampai bagaimana membaca ketentuan sebuah jurnal itu harus dipahami. Ini kelihatannya sederhana, tetapi sangat penting dalam proses publikasi,” ujar Prof. Sukri Palutturi.

Ia juga menekankan bahwa perkembangan teknologi membuat literasi publikasi tidak dapat dipisahkan dari kemampuan menggunakan teknologi informasi dan internet.

Penulis perlu memiliki kecakapan untuk mencari informasi, menelusuri reputasi jurnal, memeriksa indeksasi, membaca laman jurnal secara kritis, serta membedakan informasi yang valid dengan berbagai tawaran publikasi yang berpotensi menyesatkan.

“Sekarang literasi kita tidak cukup hanya literasi membaca dan menulis. Ada literasi IT, literasi internet, kemampuan mencari dan memeriksa informasi. Kita harus tahu bagaimana mencari jurnal, bagaimana mengecek jurnal itu, siapa editornya, diindeks di mana, bagaimana proses review-nya, dan apakah informasi yang disampaikan jurnal tersebut memang benar,” katanya.

Menurutnya, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru dalam penulisan akademik.

Teknologi tersebut dapat membantu proses pencarian ide, pengorganisasian informasi, penyuntingan bahasa, atau pekerjaan teknis tertentu, tetapi penggunaannya tetap perlu ditempatkan dalam kerangka etika dan tanggung jawab akademik.

“AI sekarang sudah menjadi bagian dari kehidupan akademik. Kita boleh memanfaatkan teknologi, tetapi kita tetap harus memiliki ilmu dasarnya. Jangan sampai kita menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI. Kita harus bisa memeriksa kembali informasi, memahami sumbernya, memastikan data dan referensi benar, serta tetap bertanggung jawab terhadap tulisan yang kita hasilkan,” jelas Prof. Sukri.

Di luar kemampuan teknis tersebut, Prof. Sukri juga mengingatkan mahasiswa mengenai pentingnya fokus dan kesediaan menyediakan waktu untuk menyelesaikan pendidikan. Keinginan untuk memperoleh gelar magister atau doktor perlu diikuti dengan komitmen terhadap proses akademik yang dijalani, termasuk penelitian, penulisan, revisi, hingga publikasi.

“Kalau kita ingin menjadi doktor atau master, kita harus fokus dan menyediakan waktu. Jangan terlalu khawatir dengan prosesnya. Pascasarjana akan membantu dan memfasilitasi. Yang penting mahasiswa punya kemauan, fokus, dan menyediakan waktu untuk menyelesaikan tahapan-tahapannya,” kata Prof. Sukri.

Menurutnya, mahasiswa tidak perlu menghadapi seluruh proses tersebut sendirian. Pascasarjana memiliki tanggung jawab untuk menyediakan lingkungan akademik yang mendukung, baik melalui sarana dan prasarana maupun dukungan sumber daya manusia yang dapat membantu mahasiswa menghadapi berbagai tahapan akademik, terutama ketika memasuki proses publikasi.

“Kami akan berusaha memfasilitasi, baik dari sisi sarana dan prasarana maupun asistensi. Kita punya dosen dan peneliti yang terbaik yang bisa membantu mahasiswa, terutama ketika berurusan dengan proses publikasi. Jadi jangan merasa bahwa mahasiswa harus menghadapi semuanya sendiri,” ujarnya.

Panduan oleh Andi Dirpan

Pada sesi yang sama, Prof. Andi Dirpan, Ph.D memberikan penekanan pada pentingnya memilih jalur penelusuran jurnal yang terpercaya. Menurutnya, penulis perlu mengembangkan kebiasaan mencari jurnal melalui penerbit dan sumber informasi akademik yang jelas, bukan semata-mata berdasarkan tawaran publikasi yang masuk melalui surat elektronik atau media digital lainnya.

Dia juga menyatakan, perlunya mengenai sumber-sumber yang terpercaya.

“Kalau mencari jurnal, kita bisa masuk melalui penerbit atau platform akademik yang sudah dikenal, seperti Elsevier, Wiley dan sumber-sumber terpercaya lainnya. Dengan begitu, kita memiliki jalur penelusuran yang lebih aman dan bisa memeriksa jurnal, bidangnya, proses editorialnya, serta informasi publikasinya secara lebih jelas,” jelas Prof. Andi Dirpan.

“Keberhasilan publikasi riset tidak lahir secara kebetulan, melainkan dari perencanaan matang dan fondasi ilmu dasar yang kuat. Mulailah studi dengan menyusun review paper, manfaatkan teknologi AI secara bijak, dan senantiasa pahami standar ekspektasi editor jurnal bereputasi,” ucapnya.

Menurutnya, keberadaan penerbit besar atau platform akademik bukan berarti penulis dapat berhenti melakukan verifikasi. Nama penerbit tetap perlu diperiksa bersama informasi jurnal, karena yang penting bagi penulis adalah memastikan identitas jurnal, scope, proses editorial, indeksasi, dan informasi lainnya sesuai dengan sumber resmi.

“Jangan hanya melihat nama atau tampilan sebuah website. Kita harus masuk ke sumber resminya, membaca scope-nya, melihat siapa editornya, bagaimana proses peer review-nya, dan mengecek apakah jurnal tersebut memang terindeks sebagaimana yang diklaim. Prinsipnya, semakin baik kita melakukan verifikasi di awal, semakin kecil risiko kita salah memilih jurnal,” tambahnya.

Pemahaman tersebut menjadi penting karena penulis kini menghadapi lingkungan publikasi yang sangat luas. Mesin pencari, media sosial, email, platform akademik, hingga berbagai layanan berbasis AI dapat membantu menemukan informasi jurnal, tetapi sekaligus menuntut kemampuan untuk memeriksa kembali informasi yang diperoleh.

Dalam konteks pendidikan pascasarjana, kemampuan publikasi tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan artikel ilmiah.

Peneliti juga dituntut memahami ekosistem publikasi, mengenali karakteristik jurnal yang sesuai dengan bidang kajian, serta mampu menilai kredibilitas dan rekam jejak jurnal sebelum mengirimkan naskah.

Pemilihan jurnal target idealnya dimulai sejak penulis memahami tujuan dan kontribusi artikelnya. Bidang kajian, ruang lingkup jurnal, jenis artikel, pembaca yang dituju, hingga rekam publikasi sebelumnya perlu menjadi pertimbangan agar naskah tidak sekadar dikirim ke jurnal yang terlihat menawarkan proses cepat.

“Kunci menembus jurnal bereputasi adalah kombinasi antara kedalaman ilmu dasar dan kecerdasan memanfaatkan teknologi modern. Saat perencanaan terstruktur dan pesan ilmiah kita selaras dengan kebutuhan editor, publikasi dunia bukan lagi hal yang mustahil.”

— Prof. Andi Dirpan

Karena itu, mengenali jurnal predator menjadi bagian penting dari literasi publikasi akademik. Penulis perlu waspada terhadap jurnal yang menawarkan publikasi secara agresif, memberikan janji proses yang tidak wajar, tidak transparan mengenai proses editorial, atau mencantumkan klaim indeksasi dan reputasi yang tidak dapat diverifikasi.

Peserta diajak untuk lebih kritis terhadap berbagai informasi yang ditampilkan oleh sebuah jurnal, termasuk klaim indeksasi, reputasi, proses review, biaya publikasi, komposisi dewan editor, hingga transparansi pengelolaan jurnal. Informasi tersebut perlu diverifikasi melalui sumber dan basis data yang dapat dipercaya, bukan hanya berdasarkan tampilan laman jurnal atau komunikasi promosi yang diterima penulis.

Pembahasan ini menjadi semakin relevan karena perkembangan teknologi digital telah membuat informasi mengenai publikasi ilmiah semakin mudah diakses.

Di satu sisi, kondisi tersebut membuka kesempatan lebih luas bagi peneliti untuk mempublikasikan karya. Di sisi lain, penulis juga menghadapi semakin banyak informasi yang perlu disaring secara kritis.

Bagi mahasiswa pascasarjana, persoalan tersebut memiliki dimensi yang lebih luas. Publikasi merupakan bagian dari perjalanan akademik yang berkaitan dengan pengembangan pengetahuan, rekam jejak penelitian, dan komunikasi hasil riset kepada komunitas ilmiah. Karena itu, keputusan mengenai jurnal target seharusnya menjadi bagian dari strategi penelitian, bukan sekadar tahap administratif setelah penelitian selesai.

Antusiasme peserta, baik yang hadir langsung maupun mengikuti secara daring, menunjukkan bahwa persoalan publikasi ilmiah menjadi kebutuhan yang semakin penting bagi sivitas akademika.

Sekitar 120 peserta mengikuti kegiatan dari dua format kehadiran tersebut, memperlihatkan kebutuhan terhadap pengetahuan praktis mengenai strategi publikasi, pemilihan jurnal, dan pengenalan risiko jurnal predator.

Kegiatan ini mengingatkan bahwa publikasi ilmiah bukan hanya soal di mana sebuah artikel dapat diterbitkan, tetapi juga di mana pengetahuan yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Ketelitian memilih jurnal menjadi bagian dari integritas ilmiah penulis.

Penguasaan ilmu dasar, literasi teknologi informasi, kemampuan menelusuri sumber di internet, dan kecakapan menggunakan AI secara kritis menjadi bagian dari kompetensi yang semakin dibutuhkan dalam dunia akademik. Teknologi dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi kualitas keputusan akademik tetap bergantung pada kemampuan manusia untuk memahami, memeriksa, dan mempertanggungjawabkan pengetahuan yang digunakan.

Kemampuan membaca karakter jurnal, memeriksa kredibilitasnya, memahami proses editorial, memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab, serta memanfaatkan dukungan dosen dan peneliti merupakan bagian dari perjalanan akademik yang saling melengkapi.

Kualitas publikasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas naskah, tetapi juga oleh ketepatan penulis dalam menempatkan karya tersebut pada ekosistem ilmiah yang sesuai. Sosialisasi ini menjadi salah satu ruang pembelajaran untuk membangun kecermatan tersebut, sekaligus memperkuat budaya publikasi yang lebih kritis, transparan, dan berintegritas di lingkungan Pascasarjana Universitas Hasanuddin.

___
Penulis K. Azis