In Memoriam, Puang Iccu

  • Whatsapp
Selamat Jalan Puang Iccu (ilustrasi oleh Pelakita.ID)
  • Interaksi dengan Puang Iccu terjadi beberapa kali, mulai dari pelaksanaan Temu Nasional III Smansa, kegiatan IKA Unhas Wilayah Sulawesi Selatan, hingga perjumpaan santai di Hometown Kopizone, kawasan Jalan Boulevard, Makassar.
  • Salah satu kenangan yang sulit dilupakan adalah ketika penulis bersama Ketua IKA Unhas Wilayah Sulsel, Danny Pomanto, melakukan sejumlah perjalanan ke kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan untuk menghadiri pelantikan pengurus IKA Unhas Daerah.

PELAKITA.ID- Posturnya tinggi. Rambutnya tebal. Meski usianya berada di sekitar 60 tahun, ada sesuatu pada dirinya yang segera mengingatkan orang pada masa muda yang indah, penuh dinamika, sekaligus memperlihatkan sosok lelaki yang solider dan setia pada kawan.

Begitu kesan penulis terhadap Rachman Rizal Andi Sapada, atau yang akrab disapa Puang Iccu.

Di kalangan alumni Smansa Makassar, Puang Iccu dikenal sebagai sosok yang aktif mewakili angkatannya, Smansa 85, dalam berbagai kegiatan IKA Smansa Makassar.

Penulis cukup akrab dengan sejumlah pengurus IKA Smansa 85, termasuk ketuanya, Arie Lantara. Ada pula beberapa nama lain yang cukup intens berkomunikasi dengan penulis, seperti Kak Warno Sudirman, Om Jak Chaerul Amir, Om Isra, hingga almarhum Rahman Rizal, alias Puang Iccu.

Interaksi dengan Puang Iccu terjadi beberapa kali, mulai dari pelaksanaan Temu Nasional III Smansa, kegiatan IKA Unhas Wilayah Sulawesi Selatan, hingga perjumpaan santai di Hometown Kopizone, kawasan Jalan Boulevard, Makassar.

Salah satu kenangan yang sulit dilupakan adalah ketika penulis bersama Ketua IKA Unhas Wilayah Sulsel, Danny Pomanto, melakukan sejumlah perjalanan ke kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan untuk menghadiri pelantikan pengurus IKA Unhas Daerah.

Dalam perjalanan-perjalanan itu, Puang Iccu kerap bercerita tentang persahabatannya dengan Danny, Wali Kota Makassar dua periode, terutama ketika keduanya aktif dalam olahraga softball.

Banyak kisah yang dibagikannya. Tentang solidaritas anak-anak Sulawesi ketika berada di atas kapal laut menuju daerah lain untuk mengikuti kompetisi.

Tentang persahabatan yang tumbuh di lapangan. Tentang suasana di sekitar arena pertandingan. Bahkan tentang drama perkelahian antarsuporter yang, dalam ingatan Puang Iccu, menjadi bagian dari warna perjalanan masa muda mereka.

Puang Iccu adalah alumni Fakultas Hukum Unhas. Jejaring pergaulannya luas dan mempertemukannya dengan banyak tokoh di Sulawesi Selatan.

Nama Sapada yang disandangnya menunjukkan latar keluarga terpandang. Pembawaannya pun memperlihatkan kewibawaan itu. Puang Iccu bukan sosok yang banyak berbicara dalam forum-forum alumni, baik di lingkungan Smansa maupun Unhas.

Ia lebih sering hadir dengan tenang, tetapi justru karena itu keberadaannya terasa. Ia adalah salah satu sosok yang langka: tidak banyak bicara, tetapi dihormati banyak kalangan.

Perbincangan terakhir saya dengannya berkaitan dengan perannya menghidupkan dunia pendidikan di Kota Parepare, kota yang turut membentuk karakter dan perjalanan hidupnya sebagai aktivis pemuda dan pelajar.

“Puang Iccu dosen, di Parepare,” ujar Kak Warno pada suatu kesempatan.

Warno dan Puang Iccu memang berkawan akrab. Keduanya tumbuh dalam lingkungan Smansa 85 yang dikenal memiliki ikatan solidaritas yang kuat.

Saya masih teringat suasana di Kopizone ketika itu. Puang Iccu tersenyum, lalu berkata ringan, “Iya, sudah tommi S2, bos, di UMI.”

Belakangan penulis tahu kalau dia adalah tenaga dosen di Institut Ilmu Sosial dan Bisnis Andi Sapada Kota Parepare.

Saya pula yang pernah menyapanya via Whatsapp dan menawarkan, “Kak Iccu masukki juga di WAG Kolaborasi Alumni dih?”

“Iya,” jawabnya pendek.

Saya pun masih membaca kehadirannya pada setiap tema obrolan meski dia hanya membaca tanpa berkomentar. Dia tetap hadir.

Kembali ke profesi, belakangan ini ia memang banyak di Parepare, sepertinya karena pekerjannya mengajarnya itu.

Ia mengatakannya ketika berbicara tentang profesinya sebagai dosen di Parepare. Tidak banyak yang dikisahkannya mengenai proses belajar-mengajar atau perjalanan akademiknya.

Dari berbagai kabar yang terdengar, Puang Iccu aktif mengambil bagian dalam menghidupkan pendidikan kaum muda di Parepare, baik melalui publikasi di media daring maupun melalui jejaring kekerabatan dengan pelajar dan mahasiswa di kota itu.

Jika saya ditanya, momen apa yang paling berkesan bersama Puang Iccu, mungkin saya akan memilih sebuah pemandangan yang sederhana. Bukan ketika ia berbicara di forum alumni. Bukan pula ketika ia bercerita tentang perjalanan panjang masa mudanya.

Melainkan ketika saya melihatnya menikmati sajian musik di Hometown Kopizone.

Ia duduk di bangku panjang, ditemani perempuan yang sama, kekasih sekaligus istrinya, Kak Elok Setyawati.

Berkali-kali penulis mendapati mereka menghabiskan akhir pekan bersama. Tidak ada yang istimewa secara kasatmata. Hanya dua orang yang duduk berdekatan, menikmati musik, percakapan, dan suasana malam.

Dari sana, dari kebersamaan mereka, terlihat sesuatu yang hangat.

Mereka tampak kompak, riang, dan menikmati kebersamaan dengan cara yang sederhana. Ada ketenangan dalam cara Puang Iccu menemani istrinya. Ada kebahagiaan yang tidak perlu diumumkan kepada siapa-siapa.

Justru kenangan sederhana seperti itulah yang kelak paling lama tinggal.

Kita sering mengingat seseorang melalui peristiwa besar: jabatan, prestasi, forum, perjalanan, atau cerita tentang masa lalu.

Yang paling menetap dalam ingatan justru sering kali adalah hal-hal kecil—sebuah senyum, sebuah sapaan, sebuah candaan, atau cara seseorang menikmati sore dan malam bersama orang yang dicintainya.

Begitulah saya mengenang Puang Iccu.

Seorang kawan dari lingkar Smansa 85. Seorang alumni Fakultas Hukum Unhas. Seorang dosen yang mengabdikan dirinya di Parepare.

Seorang lelaki dengan jejaring pertemanan yang luas. Di antara semua itu, seorang sahabat yang tampak menikmati hidup bersama orang-orang yang dicintainya.

Selamat jalan, Puang Iccu. Kini, engkau sudah bisa menemui sahabatmu, Kak Marwan Hussein hingga Dokter Toba di alam sana, terima kasih untuk cerita-cerita, tawa, perjalanan, dan persahabatan yang sempat kita bagi dalam perjalanan yang singkat ini.

Semoga segala kebaikan yang pernah ditanam menjadi bekal dalam perjalanan berikutnya.

Salamakki di jalan panjangta.

Denun
Tamarunang, 11 September 2025