#KopiAno
PELAKITA.ID – Kondisi antrean BBM di ibu kota Sulawesi Selatan, Makassar, hari ini semakin tidak terkendali.
Sejumlah laporan media Makassar menyebut kemacetan terjadi di depan Mapolda Sulsel, Jalan Hertasning, hingga antrean kendaraan yang mencapai sekitar 7 kilometer di kawasan BTP, Jalan Perintis Kemerdekaan, sejak subuh sekitar pukul 03.00 WITA.
Antrean panjang juga terjadi di Jalan Ratulangi dan Jalan Tentara Pelajar. Warga kehilangan begitu banyak waktu di jalan hanya demi mendapatkan Pertalite dan Solar.
Jika cara normal sudah mentok dan situasi mulai membuat kota lumpuh, Pertamina bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sebaiknya mengambil langkah luar biasa atau extraordinary measures. Jangan hanya mengimbau warga, memperketat aturan, lalu melakukan sidak.
Imbauan dan sidak sebenarnya sudah menjadi pola yang dipahami oleh pengelola maupun pihak SPBU.
Karena itu, #KopiAno mengajukan satu solusi taktis: sistem jemput bola BBM.
Caranya sederhana. Kerahkan armada mobil tangki mini atau kendaraan distribusi BBM yang memenuhi ketentuan keselamatan dan regulasi ke titik-titik antrean panjang di jalan raya.
Kendaraan yang terjebak dalam antrean dapat dilayani langsung di lokasi dengan mekanisme pengisian yang aman dan terkontrol.
Tentu, sistem ini harus disertai kuota atau batas pembelian yang tegas untuk setiap kendaraan. Data kendaraan, jenis BBM, volume pembelian, dan transaksi perlu dicatat agar distribusi tetap adil, transparan, serta mencegah pembelian berulang atau penimbunan.
Langkah darurat semacam ini setidaknya dapat menjadi shock therapy untuk mengurai kepadatan di SPBU sekaligus mengurangi beban kemacetan di jalan raya.
Ketika antrean sudah meluber ke ruas-ruas utama kota, persoalannya bukan lagi sekadar urusan pelayanan SPBU, melainkan sudah menjadi persoalan mobilitas publik dan aktivitas ekonomi warga.
Pertamina dan pemerintah tidak harus menunggu antrean selesai dengan sendirinya. Dalam kondisi luar biasa, diperlukan respons yang juga luar biasa.
Saatnya jemput bola. Saatnya eksekusi nyata, bukan sekadar menunggu antrean semakin panjang dan kota semakin lumpuh.
#KopiAno
AlBadar, 10 September 2026









