Muhd Nur Sangadji | Bencana, Krakatau dan Kie Besi

  • Whatsapp

Bertobat dan Segeralah Kembali

Oleh: Muhd Nur Sangadji

PELAKIA.ID – Di kampusku pada 1996, seorang profesor pernah bercerita tentang beberapa letusan gunung api paling dahsyat yang pernah dicatat dalam sejarah bumi. Tersebutlah dua gunung yang kemudian melekat kuat dalam ingatan saya: Krakatau, yang berada di antara Pulau Jawa dan Sumatra, dan Kie Besi, gunung api di Pulau Makian, Maluku Utara.

Sebuah video dikirim seorang sahabat melalui grup WhatsApp Kerukunan Masyarakat Maluku Utara di Kota Palu. Video itu, bersamaan dengan kabar tentang aktivitas Gunung Anak Krakatau, tiba-tiba membawa saya kembali kepada sebuah memori lebih dari tiga dekade silam, ketika saya masih menempuh pendidikan di Prancis.

Kala itu, tahun 1996, saya berada di sebuah aula perkuliahan umum di Fakultas Geografi Université Jean Moulin Lyon 3, Prancis. Profesor Gérard Moutet, pembimbing S2 saya, sedang memberikan kuliah tentang geografi fisik. Beliau adalah seorang ahli geografi fisik berkebangsaan Prancis yang sangat saya hormati.

Tiba-tiba, dalam kuliahnya, beliau menyebut dua nama gunung: Krakatau dan Kie Besi di Pulau Makian, Maluku Utara. Menurut penjelasan beliau, keduanya termasuk gunung api yang memiliki sejarah letusan sangat dahsyat dan penting dalam kajian kebencanaan serta geografi fisik.

Bisa dibayangkan betapa kagetnya saya mendengar nama dua gunung tersebut disebut di sebuah ruang kuliah di Prancis. Lebih mengejutkan lagi, setelah menyebut nama keduanya, sang profesor langsung menunjuk ke arah saya.

Beliau kemudian memperkenalkan saya kepada para mahasiswa sebagai anak bimbingannya yang berasal dari wilayah yang memiliki hubungan dengan dua gunung api tersebut. Seketika saya merasa gugup setengah mati. Saya membayangkan setelah kuliah nanti para mahasiswa akan menyerbu saya dengan berbagai pertanyaan tentang Krakatau dan Kie Besi.

Masalahnya sederhana: saya tidak merasa memiliki pengetahuan yang cukup mendalam mengenai kedua gunung tersebut. Karena itu, begitu profesor menutup kuliahnya, saya justru langsung menghilang.

Saya kabur menuju perpustakaan untuk mencari literatur sebanyak mungkin tentang Krakatau, Kie Besi, sejarah letusannya, serta kaitannya dengan masyarakat dan lingkungan.

Pengalaman itu menjadi salah satu kejadian pertama ketika saya merasa “dikagetkan” oleh informasi tentang tanah air sendiri, justru ketika berada jauh di luar Indonesia. Tanah yang selama ini saya kenal sebagai tempat kelahiran tiba-tiba hadir sebagai objek pengetahuan di ruang akademik Eropa.

Krakatau, atau Krakatoa dalam pelafalan dan penulisan yang sering saya dengar di Prancis, adalah bagian dari sejarah besar kebencanaan dunia. Sementara Kie Besi berada di Pulau Makian, di kawasan Maluku Utara, bagian dari wilayah leluhur Kie Raha, Jazirah Al-Muluk, tempat saya dilahirkan.

Dalam ingatan saya ketika itu, kisah letusan Kie Besi juga sangat mengesankan. Letusan besar dapat mengubah bentang alam, memindahkan material dalam jumlah besar, dan dalam kondisi tertentu memicu gangguan besar terhadap laut serta menghasilkan gelombang tsunami. Alam, dengan segala kekuatannya, memang memiliki cara sendiri untuk mengingatkan manusia bahwa tidak semua ruang kehidupan dapat sepenuhnya dikendalikan.

Tiga Kali Indonesia Hadir di Negeri Orang

Kejadian itu sebenarnya menjadi bagian dari pengalaman yang lebih panjang. Selama berada di Prancis, setidaknya ada tiga peristiwa ketika Indonesia tiba-tiba hadir dalam percakapan orang-orang yang saya temui di sana.

Yang pertama adalah Krakatau dan Kie Besi. Saya terkejut karena dua nama gunung dari tanah air saya diketahui dan dibicarakan dalam ruang akademik di Prancis. Saya yang datang dari wilayah kepulauan yang jauh dari Eropa tiba-tiba menjadi semacam “wakil kecil” dari cerita geografi Indonesia.

Kekagetan kedua jauh lebih heboh. Namanya Sumanto. Mereka yang sudah dewasa pada era 1990-an tentu masih mengingat kisah tentang sosok yang ketika itu menggemparkan Indonesia dan bahkan menarik perhatian dunia karena kasus kanibalisme yang diberitakan secara luas.

Sejak informasi tentang kasus tersebut menyebar, setiap kali orang mengetahui bahwa saya, atau kami, berasal dari Indonesia, raut wajah mereka terkadang berubah. Ada semacam ekspresi yang sulit dijelaskan. Dari situ saya segera mengerti duduk perkaranya.

Indonesia ternyata bisa hadir di kepala orang asing melalui banyak pintu. Kadang melalui bencana alam, kadang melalui tragedi kemanusiaan, dan kadang pula melalui sesuatu yang membanggakan.

Hal ketiga justru membuat saya dan orang-orang Indonesia lainnya merasa bangga. Namanya Anggun C. Sasmi.

Penyanyi asal Indonesia itu ketika itu menjadi sangat populer di Prancis melalui lagunya, La Neige au Sahara. Selama bertahun-tahun, lagu tersebut terdengar di berbagai ruang publik. Di bus, pusat perbelanjaan, kampus, dan berbagai tempat lainnya.

Maka, setiap kali orang mengetahui bahwa saya berasal dari Indonesia, respons mereka berbeda. Kali ini bukan ekspresi kaget atau bingung, melainkan kekaguman.

“Ohhh… Anggun!”

Saya pun ikut tersenyum dan bangga. Di negeri orang, nama Indonesia ternyata bisa hadir melalui ilmu pengetahuan, melalui tragedi, dan melalui karya seni.

Krakatau, Debu, Panas dan Kecemasan

Kini perhatian saya kembali tertuju kepada Krakatau. Aktivitas gunung api, terutama ketika terjadi peningkatan erupsi dan semburan material vulkanik, selalu mengingatkan kita bahwa kehidupan manusia sangat dekat dengan kekuatan alam yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi.

Material vulkanik, abu, dan gas yang dilepaskan dari aktivitas gunung api dapat membawa konsekuensi serius terhadap kesehatan, transportasi, penerbangan, pertanian, serta kehidupan masyarakat di wilayah terdampak.

Abu vulkanik, misalnya, dapat mengganggu jarak pandang dan membahayakan penerbangan ketika konsentrasinya cukup tinggi.

Gunung api juga melepaskan berbagai jenis gas, termasuk karbon dioksida (CO₂), sulfur dioksida (SO₂), hidrogen klorida (HCl), hidrogen sulfida (H₂S), serta sejumlah senyawa lainnya. Dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan bergantung pada jenis gas, konsentrasi, durasi paparan, serta kondisi atmosfer di sekitar kawasan terdampak.

Namun, di sinilah saya ingin menarik ingatan tentang bencana ke persoalan yang lebih luas. Kita hidup dalam zaman ketika peristiwa alam bertemu dengan perubahan lingkungan yang semakin kompleks akibat aktivitas manusia.

Kita menyaksikan perubahan iklim, peningkatan suhu, degradasi ekosistem, pencemaran, deforestasi, perubahan penggunaan lahan, serta eksploitasi sumber daya yang berlangsung di berbagai belahan bumi. Tidak semua bencana dapat disebut sebagai akibat langsung perilaku manusia, tetapi kerentanan masyarakat terhadap bencana sering kali diperbesar oleh keputusan dan aktivitas manusia sendiri.

Karena itu, bencana tidak semestinya hanya dibaca sebagai kemurkaan alam. Bencana juga harus dibaca sebagai cermin tentang bagaimana manusia memperlakukan ruang hidupnya.

Tidak Boleh Kehilangan Harapan

Pada akhirnya, peristiwa seperti Krakatau membawa kita kepada satu kesadaran sederhana: ada kekuatan alam yang berada jauh di luar jangkauan ikhtiar manusia.

Kita dapat membangun teknologi, menyusun sistem peringatan dini, membuat peta rawan bencana, menyiapkan jalur evakuasi, memperkuat mitigasi, dan meningkatkan pengetahuan masyarakat. Tetapi kita tetap harus menyadari bahwa manusia bukan penguasa mutlak atas alam.

Akumulasi persoalan ekologis yang bertemu dengan perilaku antropogenik memang mengkhawatirkan. Dampaknya bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari gangguan kesehatan, kerusakan lingkungan, kehilangan mata pencaharian, perpindahan penduduk, hingga jatuhnya korban ketika masyarakat tidak memiliki kemampuan adaptasi dan perlindungan yang memadai.

Mungkin keadaan itu tidak akan membuat manusia berubah menjadi kanibal seperti dalam kisah yang pernah menghebohkan Indonesia pada masa lalu. Tetapi kesulitan yang bertumpuk, krisis pangan, kehilangan pekerjaan, bencana, dan tekanan sosial dapat melahirkan penderitaan yang jauh lebih besar apabila kita tidak belajar mengantisipasinya.

Meski begitu, kita tidak boleh kehilangan harapan. Sebab keajaiban, bagi Tuhan, bukan sesuatu yang sulit.

Saya kembali teringat kepada lagu Anggun C. Sasmi yang dahulu begitu populer di Prancis: La Neige au Sahara—salju yang turun di Gurun Sahara. Sebuah gambaran yang secara imajinatif terasa mustahil, tetapi justru menjadi simbol bahwa manusia selalu memiliki ruang untuk berharap terhadap sesuatu yang berada di luar perkiraannya.

Maka, dari Krakatau dan Kie Besi kita perlu belajar sesuatu yang lebih sederhana daripada sekadar membaca sejarah letusan. Bertobat dan segeralah kembali.

Kembali kepada kesadaran bahwa manusia bukan satu-satunya penghuni bumi. Kembali menghormati alam. Kembali menjaga laut, hutan, tanah, dan udara. Kembali memperlakukan lingkungan bukan semata sebagai sumber yang dapat dieksploitasi, tetapi sebagai ruang kehidupan yang harus diwariskan.

ketika alam mulai berbicara dengan bahasa letusan, tsunami, panas, banjir, kekeringan, dan perubahan iklim, mungkin yang sesungguhnya sedang diminta bukan hanya kemampuan manusia untuk bertahan, tetapi juga kesediaannya untuk berubah.

Krakatau mengingatkan kita tentang kekuatan bumi. Kie Besi mengingatkan saya tentang tanah leluhur. Keduanya, pada akhirnya, mengingatkan kita bahwa manusia harus tahu kapan berhenti menaklukkan alam dan mulai berdamai dengannya.

____
Muhd Nur Sangadji

Menulis dari ingatan, membaca alam, dan mencoba memahami manusia.