Pelajaran dari Kemarau Panjangan
Oleh: Muhd Nur Sangadji
PELAKITA.ID – A priori, ini cuma dugaan. Namun, basis informasinya valid. Kebakaran hutan yang pernah terjadi di Kalimantan dan di sekitar kita menyumbang asap. Itu adalah aksi antropik yang memproduksi bencana. Karena itu, patut menjadi pelajaran.
Sudah sekian bulan kita merasakan panas terik. Tidak cuma di Kota Palu. Bukan juga hanya di Indonesia, tetapi melanda berbagai kawasan di bumi. Bahkan di belahan Eropa, ribuan korban jiwa telah terjadi.
Pagi ini saya hadir di Lapangan Vatulemo, Kota Palu. Ada kegiatan ibadah salat istisqa, salah satu bentuk ibadah yang dikhususkan untuk meminta hujan. Ada juga salat istighasah yang peruntukannya lebih umum, yakni meminta pertolongan agar dihindarkan dari musibah. Ibadah-ibadah ini dipenuhi dengan kalimat istigfar dan permohonan ampunan Ilahi Rabbi.
Ini adalah ekspresi dari pengakuan kenisbian manusiawi atas musibah yang menimpa. Kesadaran bahwa peristiwa lahiriah selalu berkait dengan aspek batiniah. Peristiwa ekologis akan terhubung dengan perilaku umat di bumi.
Fakta bahwa kita tidak punya kemampuan ikhtiar untuk mengatur alam sesuka hati. Kita boleh membuat hujan buatan. Namun, berhasilnya bukanlah jaminan. Kita boleh menanam pohon. Namun, tumbuhnya bukan kita yang tentukan. Kepasrahan dengan doa menjadi ujung dari ikhtiar.
Saya tulis artikel ini sambil menikmati lagu dari Prambors. Judulnya Kemarau. Fakta yang diceritakan di lagu itu mulai terlihat. Ini potongan liriknya:
“Tiada ranting yang rimbun
daun pun berguguran
Mata air pun kering
tiada titik embun turun
Saat itu, kemarau yang datang
hati gersang dan berdebu
Curah hujan tiada turun
membasahi jiwa ini.”
Bait pertama ini mengungkap kenyataan, menipisnya dedaunan akibat berkurangnya pasokan air bumi yang ditangkap akar tanaman. Pada bait kedua diperlihatkan keringnya air mata karena kepasrahan di batas akhir. Padahal, fatwa langit, air adalah sumber kehidupan.
“Waja’alna minal mā’i kulla syai’in hayy.”
(Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup).
Bait berlanjut:
“Tiada pohon yang rindang
tempat berteduh diri
Air mata pun kering
suara hati pun membisu
Saat itu, kemarau yang datang
cita hati t’rasa sendu
Cah’ya mentari t’rasa panas
menyinari jiwa ini.”
Dua bait lirik lagu Kemarau tersebut berujung dengan kata jiwa. Pertama, “membasahi jiwa”. Kedua, “menyinari jiwa”. Nanti, satu saat kelak, Allah akan menyeru dengan panggilan:
“Wahai jiwa-jiwa yang tenang.”
Maka, jiwa ini mesti dihadapkan ke langit. Renungkan kalimat-kalimat yang tersusun rapi.
“Kami jadikan lapisan langit sebagai atap untuk melindungi kehidupan.”
“Dan, tiap lapisan langit itu diberikan tugasnya masing-masing.”
Ada ozon sebagai bagian dari lapisan stratosfer yang berfungsi sebagai penyaring sinar ultraviolet. Tanpa dia, panas bumi ini bisa sampai 240-an derajat Celsius.
Renungkan lagi seruan yang lain.
“Dan Kami giring awan itu ke tempat yang Kami kehendaki. Lalu darinya Kami turunkan hujan. Dengan air hujan itu, Kami tumbuhkan tanaman dari tempat yang tandus. Seperti itulah kelak kamu dibangkitkan.”
Terlihatlah bahwa kenisbian manusiawi tidak mampu menjangkau kehendak alam. Doa dan kepasrahan adalah jalan yang tersisa. Begitulah alasannya mengapa kaum muslimin melakukan salat istisqa. Tentu, kaum lain berseru dengan caranya sendiri.
Semuanya larut dalam harapan dan tanya. Seperti diungkap Prambors di bait terakhir:
“Kapankah mendung datang mengalun
mengusir kemarau kali ini.”
Lantas, ditutup dengan semangat optimis:
“Tapi sabarlah, diri menanti,
pasti kemarau pergi berganti.”
Insya Allah, semoga.









