Daeng Pakkaja dan Laut yang Makin Jauh

  • Whatsapp
Ilustrasi oleh Gemini AI

Setiap kali perahu kayu itu kembali ke Galesong, Daeng Pakkaja selalu berharap ada sesuatu yang bisa dibawanya pulang selain bau asin laut.

PELAKITA.ID – Kadang ia membawa beberapa lembar uang yang segera habis untuk beras, minyak goreng, ongkos sekolah, dan utang warung. Kadang tidak membawa apa-apa. Hanya tubuh yang lebih kurus, kulit yang semakin hitam terbakar matahari, dan mata yang menyimpan lelah yang tidak mudah diceritakan.

Daeng Pakkaja mempunyai tujuh anak.

Tujuh.

Angka itu sering muncul di kepalanya ketika ia sedang duduk di buritan perahu, memandang garis laut yang perlahan berubah menjadi hitam menjelang malam.

Tujuh anak berarti tujuh kebutuhan. Tujuh seragam sekolah. Tujuh buku. Tujuh pasang sepatu yang suatu hari akan kekecilan. Tujuh anak yang setiap pagi berangkat sekolah dengan harapan bahwa pendidikan akan membawa mereka ke kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan bapaknya. Tetapi Daeng Pakkaja sendiri tidak memiliki tabungan.

Tidak ada rekening yang bisa ia buka ketika keadaan darurat datang. Tidak ada simpanan yang bisa digunakan ketika salah seorang anak membutuhkan biaya sekolah. Tidak ada tanah luas atau usaha lain yang dapat menjadi pegangan.

Yang ia miliki hanya laut, dan sebuah keterampilan yang dipelajarinya sejak tahun 2000-an: bekerja di atas perahu kayu untuk mencari telur ikan terbang.

Selama bertahun-tahun, ia mengenal laut seperti seseorang mengenal halaman rumahnya sendiri. Ia tahu perubahan angin, arah arus, warna permukaan air, dan tanda-tanda tertentu yang bagi orang daratan mungkin tidak berarti apa-apa. Namun zaman berubah.

Laut yang dahulu terasa luas kini seperti semakin sempit.

Bukan karena airnya berkurang, melainkan karena semakin banyak aturan yang harus dipahami oleh orang seperti Daeng Pakkaja. Ada aturan dari satu wilayah, kebijakan dari provinsi lain, batas-batas antardaerah, dan kebijakan konservasi yang membuat ruang gerak nelayan semakin terbatas.

Terutama ketika mereka harus menuju wilayah perairan Papua Barat. Daeng Pakkaja tidak pernah membaca semua dokumen kebijakan itu.

Ia hanya mengenalnya dari akibatnya, dari larangan. Dari pemeriksaan, dari perubahan jalur. Dari perjalanan yang harus dihentikan.

Dari percakapan para pinggawa dan kapten kapal yang semakin sering membicarakan aturan daripada ikan. Padahal Daeng Pakkaja bukan pemilik kapal. Ia bukan kapten. Ia juga bukan orang yang menentukan ke mana perahu harus pergi.

Keterampilannya sekarang hanya tersisa pada pekerjaan-pekerjaan yang semakin tidak terlihat. Ia membantu kapten mengawasi media tempat telur ikan terbang menempel. Ia membantu mengeringkan telur. Ia ikut mengendalikan navigasi ketika perahu berlayar menuju daerah penangkapan maupun ketika kembali ke kampung.

Ia tahu laut.

Tetapi ia tidak lagi tahu bagaimana membuat pengetahuan itu cukup untuk memberi makan keluarganya. Lima kali. Sudah lima kali ia kembali ke Galesong. Setiap kepulangan terasa sama. Ia turun dari perahu dengan kaki yang berat, membawa pakaian yang berbau laut, sementara di rumah anak-anaknya menunggu.

Kadang mereka tidak bertanya apakah bapaknya mendapat bagian. Mereka sudah tahu. Kalau Daeng Pakkaja pulang dengan wajah seperti itu, berarti tidak ada banyak uang. Kapten atau pinggawa pun tidak banyak berkata.

Tidak ada bagian hasil yang bisa dibagikan,  tidak ada uang yang bisa diberikan. Yang ada hanya catatan utang. “Daeng, nanti kalau sudah ada hasil,” begitu kira-kira jawabannya. Nanti. Kata yang sederhana, tetapi bagi Daeng Pakkaja terdengar seperti sesuatu yang sangat jauh.

Nanti ketika ikan banyak, nanti ketika telur terkumpul, ketika harga bagus, ketika perjalanan berhasil, ketika aturan memungkinkan.

Nanti.

Sementara anak-anaknya membutuhkan uang sekarang. Pada suatu sore, Daeng Pakkaja duduk di depan rumahnya. Langit Galesong mulai kemerah-merahan. Dari kejauhan terdengar suara motor dan percakapan orang-orang yang pulang dari aktivitas mereka.

Anak bungsunya datang membawa buku.

“Pak.”

Daeng Pakkaja menoleh.

“Ada apa?”

“Besok harus bayar uang sekolah.”

Daeng Pakkaja diam. Tangannya masuk ke saku celana. Ia meraba beberapa lembar uang yang tersisa. Tidak cukup. Ia menghitungnya sekali. Kemudian sekali lagi. Tetap tidak cukup.

Anaknya berdiri di depannya, menunggu.

Daeng Pakkaja ingin mengatakan bahwa besok ia akan pergi melaut. Ia ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia ingin mengatakan bahwa bapaknya akan mendapatkan uang.

Tetapi ia tahu laut tidak pernah memberikan janji.

“Besok kita usahakan,” katanya akhirnya.

Anaknya mengangguk lalu pergi. Daeng Pakkaja tetap duduk. Ia memandang laut. Dulu laut adalah tempat ia mencari kehidupan.

Kini laut seperti pertanyaan panjang yang tidak pernah selesai.

Bagaimana mungkin seorang nelayan bertahan jika ikan semakin sulit ditemukan? Ia membiayai tujuh anak jika pendapatannya tidak menentu?

Bagaimana mungkin ia mengikuti semua aturan jika hidupnya sendiri bergantung pada pekerjaan yang semakin dibatasi? Saat ia pulang ke rumah dengan tangan kosong, lalu menjelaskan kepada tujuh anak bahwa sekolah tetap harus berjalan?

Malam turun perlahan di Galesong.

Di dalam rumah, anak-anaknya mulai belajar. Suara halaman buku dibalik terdengar pelan. Daeng Pakkaja memandang mereka satu per satu. Ia tidak ingin anak-anaknya menjadi seperti dirinya. Bukan karena ia malu menjadi nelayan.

Ia justru bangga. Laut telah membesarkannya. Laut telah membuatnya bertahan selama puluhan tahun tetapi ia tidak ingin anak-anaknya mewarisi kehidupan yang hanya mengenal kata utang, tidak ada hasil, dan tunggu nanti.

Ia ingin mereka mempunyai pilihan, ingin mereka bisa memilih pekerjaan, bukan dipaksa oleh keadaan, ingin mereka sekolah setinggi mungkin.

Malam itu, untuk pertama kalinya, Daeng Pakkaja merasa bahwa persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana mendapatkan ikan.

Persoalannya adalah bagaimana mempertahankan sebuah keluarga ketika laut yang selama ini menjadi sandaran hidup semakin jauh dari jangkauan.

Ia berdiri.

Memandang ke arah laut sekali lagi. Besok, mungkin ia akan pergi lagi. Mungkin perahu akan membawanya jauh dari Galesong. Mungkin ia akan kembali dengan hasil. Mungkin juga tidak.

Sebelum tidur, Daeng Pakkaja menyimpan satu harapan sederhana dalam dadanya, semoga ketujuh anaknya tidak perlu belajar menjadi miskin hanya karena bapaknya tidak punya pilihan lain.

Di luar rumah, angin laut bertiup pelan, di kejauhan, laut tetap terlihat luas. Hanya bagi Daeng Pakkaja, laut itu sudah tidak lagi terasa seperti dulu.

Laut masih luas tetapi ruang hidupnya semakin sempit.

___
Tamarunang, 6 September 2026