Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
PELAKITA.ID – Ada sebuah grup WhatsApp yang setiap hari hidup dengan cara yang hampir sama. Seseorang menulis, “Assalamualaikum,” lalu beberapa orang menjawab, “Waalaikumussalam.”
Setelah itu sunyi kembali, seperti sebuah rumah yang pintunya terbuka tetapi tidak ada siapa-siapa yang duduk berbincang di dalamnya. Esok hari, adegan yang sama terulang: salam, jawaban salam, kemudian hening.
Pada mulanya, mungkin ini sebagai tanda kesantunan. Salam adalah doa, dan menjawab salam adalah kewajiban moral sekaligus bentuk penghormatan kepada sesama.
Tetapi ketika sebuah ruang komunikasi hanya berhenti pada salam tanpa pernah berkembang menjadi percakapan, berbagi pengetahuan, bertukar pengalaman, atau saling menguatkan, muncul sebuah pertanyaan sederhana: mengapa ada yang membuat grup jika tidak benar-benar ingin berkomunikasi?
Pertanyaan itu menjadi semakin menarik karena kehidupan digital sebenarnya sangat ramai.
Data Kementerian Komunikasi dan Digital yang mengutip survei APJII menunjukkan bahwa pada 2025 penetrasi internet Indonesia telah mencapai 80,66 persen atau sekitar 229,4 juta orang, sementara lebih dari 140 juta di antaranya aktif berinteraksi di media sosial. Artinya, persoalannya bukan lagi apakah kita memiliki ruang untuk berbicara, melainkan apakah kita memiliki keberanian, kepedulian, dan sesuatu yang bermakna untuk dibicarakan.
Barangkali inilah paradoks komunikasi digital.
Semakin mudah seseorang mengirim pesan, semakin banyak pula orang memilih menjadi pembaca yang diam. Mereka masuk ke grup, membaca percakapan, melihat informasi yang beredar, tetapi enggan mengetik satu kalimat.
Ada yang takut salah bicara, khawatir pendapatnya dianggap tidak relevan, tidak ingin terjadi perdebatan, atau merasa bahwa tidak ada yang benar-benar membutuhkan suaranya.
Sebagian lainnya mungkin mengalami kelelahan digital. Setiap hari ponsel membawa puluhan bahkan ratusan notifikasi, sehingga otak membutuhkan ruang untuk beristirahat.
Grup yang terlalu ramai akhirnya terasa seperti pasar yang tak pernah tutup, sedangkan grup yang terlalu sepi justru berubah menjadi ruang formalitas. Di antara dua ekstrem itu, manusia sering memilih jalan paling aman: membaca tanpa berkomentar.
Ada pula persoalan lain yang lebih halus yakni kehilangan budaya bertanya. Padahal percakapan yang sehat tidak selalu harus dimulai dari pengetahuan yang besar.
Kadang cukup dengan pertanyaan sederhana, “Bagaimana kabarnya hari ini?”, “Ada pengalaman menarik yang bisa dibagikan?”, atau “Apa pendapat teman-teman tentang persoalan ini?” Pertanyaan adalah pintu kecil yang dapat membuka ruang besar bagi pengetahuan dan persaudaraan.
Dalam konteks ini, grup WhatsApp sesungguhnya bukan sekadar kumpulan nomor telepon. Ia adalah ruang sosial kecil, semacam kampung digital tempat orang-orang bertemu tanpa harus duduk di satu meja.
Di dalamnya dapat tumbuh silaturahmi, pengetahuan, kepedulian, bahkan gerakan bersama. Tetapi sebagaimana kampung membutuhkan interaksi agar tetap hidup. Grup digital juga membutuhkan kontribusi manusia agar tidak berubah menjadi sekadar daftar kontak.
Kementerian Komunikasi dan Digital menempatkan kecakapan digital, budaya digital, etika digital, dan keamanan digital sebagai empat pilar literasi digital.
Ini penting karena menjadi warga digital bukan hanya persoalan mampu menggunakan aplikasi, tetapi juga memahami bagaimana menggunakan teknologi secara produktif, berbudaya, etis, dan aman.
Data Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025 memberikan gambaran yang menarik.
BPSDM Komdigi mencatat nilai IMDI nasional sebesar 44,53, naik 1,19 poin dibandingkan 2024, berdasarkan pengukuran terhadap lebih dari 18 ribu responden individu dan 11 ribu responden industri. Angka itu mengingatkan kita bahwa transformasi digital tidak selesai hanya karena masyarakat semakin banyak menggunakan internet; kualitas manusia dalam menggunakan ruang digital tetap menjadi pekerjaan besar.
Karena itu, diam dalam grup tidak selalu buruk. Diam bisa menjadi kebijaksanaan ketika seseorang memilih tidak ikut menyebarkan kabar yang belum jelas, tidak memperpanjang perdebatan, atau tidak menanggapi sesuatu yang tidak perlu.
Dalam survei IMDI 2025, misalnya, 92,1 persen responden menyatakan tidak pernah menyebarkan rumor atau informasi yang belum diverifikasi, sebuah indikasi bahwa kehati-hatian digital memiliki tempat penting dalam perilaku masyarakat.
Namun, diam juga bisa menjadi mudarat ketika berubah menjadi ketidakpedulian. Jika semua orang hanya menunggu orang lain berbicara, sebuah grup akan kehilangan energi kolektifnya. Tidak ada pertanyaan, tidak ada pengalaman yang dibagikan, tidak ada ilmu yang ditularkan, bahkan tidak ada sapaan yang berkembang menjadi persaudaraan.
Kita mungkin perlu membedakan diam karena bijaksana dengan diam karena tidak peduli. Yang pertama menjaga lisan; yang kedua dapat mematikan kehidupan sosial. Dalam ruang digital, keduanya tampak sama-sama tidak mengetik, tetapi berasal dari keadaan batin yang berbeda.
Maka, mungkin kita perlu menghidupkan kembali budaya sharing, bukan sekadar forwarding.
Berbagi bukan berarti setiap hari mengirim puluhan video, gambar, kutipan, atau berita tanpa konteks. Berbagi yang bermakna adalah memberikan sesuatu yang membuat orang lain memperoleh pengetahuan, inspirasi, perspektif, atau sekadar merasa bahwa dirinya tidak sendirian.
Grup WhatsApp yang sehat tidak harus selalu ramai. Ia bahkan boleh sunyi sesekali. Tetapi ketika seseorang membuka pintu percakapan, hendaknya ada yang menyambut bukan hanya dengan emoji, melainkan dengan pikiran, pengalaman, dan perhatian.
Sebab komunikasi yang baik bukan diukur dari berapa banyak pesan yang terkirim, melainkan dari berapa banyak makna yang berpindah dari satu hati ke hati yang lain.
Dalam tradisi spiritual, lisan bukan sekadar alat berbicara; ia adalah amanah. Karena itu, diam ketika kata-kata hanya akan melukai adalah ibadah kesadaran, tetapi berbicara ketika kata-kata dapat memberi manfaat juga merupakan bentuk pengabdian. Yang dicari bukan banyaknya suara, melainkan kejernihan niat di balik suara itu.
Salam pun sesungguhnya bukan sekadar pembuka percakapan.
Betapa indahnya salam jika salam itu tidak berhenti sebagai teks di layar, tetapi dilanjutkan menjadi perhatian, ilmu, nasihat, humor yang sehat, pengalaman hidup, dan kepedulian—hingga sebuah grup benar-benar menjadi ruang silaturahmi, bukan sekadar tempat saling memastikan bahwa kita masih ada.
Dunia digital tidak kekurangan orang yang bisa berbicara; yang semakin kita butuhkan adalah manusia yang tahu kapan harus diam, kapan harus bertanya, dan kapan harus berbagi sesuatu yang membuat kehidupan orang lain sedikit lebih baik.
____
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”.









