Bagi Daeng Manye, perayaan semacam ini memiliki makna lebih luas daripada sekadar mempertahankan sebuah menu tradisional. Ia merupakan cara masyarakat menyatakan identitas sekaligus merayakan sumber daya yang menopang kehidupan mereka. Karena itu, penguatan tradisi kuliner lokal dapat menjadi bagian dari pembangunan kebudayaan.
PELAKITA.ID – Di pelosok Takalar, perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak selalu hadir dalam bentuk panggung hiburan atau seremoni resmi. Di desa-desa pesisir dan pedalaman Takalar, rasa syukur atas kemerdekaan dirayakan melalui tradisi yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat: Kaddo Minynya’.
Bagi Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye, Kaddo Minynya’ bukan sekadar hidangan yang disajikan dalam sebuah pesta kesyukuran.
Di dalamnya terdapat cerita tentang kekayaan alam, kehidupan petani dan nelayan, tradisi masyarakat pesisir hingga pedalaman, serta identitas sosial-kultural Takalar yang diwariskan lintas generasi.
“Kaddo Minynya’ adalah manifestasi kekayaan sumber daya alam pertanian, peternakan, kelautan dan perikanan yang menjadi ciri khas masyarakat pesisir maupun pedalaman Takalar,” kata Daeng Manye kepada Pelakita.ID, Selasa, 18 Agustus 2026.
Dalam satu sajian Kaddo Minynya’, berbagai unsur kehidupan masyarakat Takalar bertemu. Formasi utama berupa nasi menjadi representasi kuatnya tradisi pertanian.
Di atasnya hadir ayam goreng lokal, paria kambu, sementara tumpi-tumpi dari ikan tembang atau sibula membawa cita rasa pesisir dan laut. Juga bandeng goreng isi parutan kelapa.
Ikan tersebut menghubungkan bentang pesisir Takalar, dari Laikang hingga kawasan Galesong Utara, sementara sejumlah pelengkap seperti bawang goreng, cengkeh dan telur dadar yang diiris tipis menjadi bagian dari ornamen sekaligus kekayaan rasa sajian.
Kaddo Minynya’ karena itu dapat dibaca lebih jauh sebagai sebuah “peta pangan” Takalar. Di dalam satu hidangan, masyarakat dapat melihat hubungan antara sawah, kebun, peternakan, laut, dan dapur keluarga.
Tradisi ini bukan sesuatu yang baru. Kaddo Minynya’ telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Takalar, dari komunitas petani di Cakura di wilayah timur hingga masyarakat pesisir Galesong, dari Mangindara hingga Aeng Towa.
Ia hadir dalam berbagai momentum syukuran masyarakat dan menjadi bagian dari ekspresi kebersamaan. Makanan tidak sekadar dikonsumsi, tetapi menjadi medium untuk merawat ingatan, hubungan sosial, dan rasa syukur.
Menghidupkan Kembali Cinta pada Kuliner Lokal
Daeng Manye melihat tradisi tersebut sebagai bagian penting dari upaya memperkuat identitas Takalar.
“Saya dapat banyak sekali masukan dari masyarakat untuk terus menggaungkan semangat cinta kuliner masyarakat Takalar seperti Kaddo Minynya’ ini,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika Daeng Manye dalam perjalanan menghadiri acara syukuran perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di salah satu desa, sekaligus tanda dimulainya perayaan Kesyukuran Kemerdekaan RI ke-81 di pelosok semesta Takalar, dalam bentuk Pesta Kaddo’ Minyanya’.
“Malam ini ada perayaan atau tanda kesyukuran atas Kemerdekaan RI ke-81, seluruh desa-kelurahan di Takalar kita gelar Pesta Kaddo’ Minynya’. Warga menggelar pesta Kaddo Minynya’,” terang Daeng Manye yang didampingi Kepala Bagian Umum Pemerintah Daerah Takalar, Amran Torada.
Bagi Daeng Manye, perayaan semacam ini memiliki makna lebih luas daripada sekadar mempertahankan sebuah menu tradisional.
Semangat tersebut sejalan dengan visi pembangunan Kabupaten Takalar, yakni “Takalar Maju dan Berdaya Saing Melalui Ekonomi Digital.”
Ia merupakan cara masyarakat menyatakan identitas sekaligus merayakan sumber daya yang menopang kehidupan mereka. Karena itu, penguatan tradisi kuliner lokal dapat menjadi bagian dari pembangunan kebudayaan.
Ketika masyarakat mengenali makanan khasnya, memahami asal bahan-bahannya, dan menceritakan kembali sejarahnya, maka sebuah tradisi tidak hanya bertahan, tetapi juga memperoleh ruang baru dalam kehidupan generasi berikutnya.
Dari Infrastruktur hingga Infrastruktur Kebudayaan
Jargon “Takalar Cepat” yang melekat pada kepemimpinan Daeng Manye selama ini banyak dikaitkan dengan percepatan pembangunan dan penguatan berbagai potensi daerah. Arah pembangunan Takalar tidak berhenti pada pembangunan fisik dan infrastruktur.
Daeng Manye juga mulai memberi perhatian pada dimensi sosial-kultural dan keagamaan yang menjadi bagian fundamental dari kehidupan masyarakat Takalar.
Setelah mendorong sejumlah destinasi wisata unggulan Takalar yang mendapat respons positif publik, perhatian kini bergerak pada khazanah tradisi dan budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Kaddo Minynya’ menjadi salah satu pintu masuknya.
Tradisi ini memiliki dimensi keagamaan yang kuat. Dalam sejumlah momentum kesyukuran, penyajian Kaddo Minynya’ dapat disertai a’rate, pembacaan Al-Qur’an, hingga barzanji. Dengan demikian, makanan, tradisi, doa, dan kebersamaan masyarakat bertemu dalam satu ruang sosial.
Di sinilah Kaddo Minynya’ menjadi menarik untuk dibaca sebagai bagian dari pembangunan daerah.
Ia tidak berdiri sendiri sebagai kuliner, tetapi berada di persimpangan antara ekonomi lokal, ekologi, pertanian, perikanan, peternakan, tradisi, agama, dan kehidupan sosial masyarakat.
Menjadikan Tradisi sebagai Modal Pembangunan
Ke depan, pendekatan semacam ini berpotensi menjadi salah satu ciri pembangunan Takalar: pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga memperkuat modal sosial dan kebudayaan masyarakat.
Kaddo Minynya’ misalnya, dapat membuka ruang bagi pengembangan ekonomi lokal melalui bahan pangan lokal, UMKM kuliner, promosi produk pertanian dan perikanan, hingga pengembangan wisata berbasis budaya.
Pada saat yang sama, tradisi tersebut membawa pesan ekologis. Beras, ayam, ikan, rempah, dan bahan pangan lainnya menunjukkan ketergantungan masyarakat pada ekosistem darat dan laut. Dengan merawat tradisi pangan, masyarakat secara tidak langsung juga diajak menghargai sumber daya yang menopang tradisi tersebut.
Ada pula dimensi sosial yang tak kalah penting. Pesta Kaddo Minynya’ mempertemukan warga, keluarga, tokoh masyarakat, dan berbagai kelompok sosial dalam suasana kebersamaan.
Sementara dimensi keagamaan memberi ruang bagi pesan syukur, doa, dan nilai-nilai spiritual yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Takalar.
Dengan pendekatan seperti itu, pembangunan Takalar ke depan dapat menemukan formulanya sendiri: memadukan aspek sosial, ekonomi, ekologi, serta suprastruktur kebudayaan berupa tradisi, nilai-nilai lokal, dan pesan-pesan keagamaan.
Dari Meja Makan untuk Masa Depan Takalar
Kaddo Minynya’ bukan hanya cerita tentang apa yang tersaji di atas sebuah nampan. Ia adalah cerita tentang sawah dan laut, tentang petani dan nelayan, tentang ayam kampung dan ikan tembang, tentang cengkeh dan pangan lokal, tentang doa dan kebersamaan.
Di tengah perayaan Kemerdekaan RI ke-81, masyarakat mulai dari Laikang, Mangngara Bombang, Sanrobone, Tanakeke, Pattallassang, Palleko, Cakura, Bontolanra hingga pesisir Galesong di barat Takalar menunjukkan bahwa rasa syukur dapat dirayakan dengan cara yang sangat lokal, tetapi memiliki pesan yang universal: merdeka berarti mampu mengenali, menghargai, dan merawat kekayaan yang dimiliki sendiri.
Dari sepiring Kaddo Minynya’, Bupati Takalar dan warganya menemukan satu lagi cara untuk bercerita tentang masa depannya—bukan hanya melalui apa yang dibangun, tetapi juga melalui apa yang diwariskan.
___
Penulis Denun









