PELAKITA.ID – PAREPARE, 4 Agustus 2026 — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan inovasi sederhana dan ramah lingkungan berupa lubang biopori berbahan pipa PVC yang difungsikan sekaligus sebagai komposter di Kelurahan Bukit Indah, Kecamatan Soreang, Kota Parepare.
Program ini dirancang untuk mendukung pertanian berkelanjutan sekaligus mendorong masyarakat, khususnya petani, memanfaatkan sampah organik rumah tangga dan limbah pertanian menjadi pupuk organik yang dapat digunakan kembali.
Selain mengolah limbah organik, biopori pipa tersebut memiliki fungsi ekologis lain, yakni membantu meningkatkan daya resap air ke dalam tanah sehingga dapat mengurangi genangan, menjaga kelembapan tanah, dan membantu menekan potensi erosi.
Teknologi yang diperkenalkan mahasiswa KKN ini menggunakan pipa PVC berlubang yang ditanam ke dalam tanah. Pipa berfungsi sebagai tempat memasukkan bahan organik yang kemudian mengalami proses penguraian secara alami.
Teknologi tersebut relatif murah, mudah dibuat, mudah dirawat, dan dapat diterapkan langsung di lahan pertanian maupun lingkungan rumah tangga.
Satu Teknologi, Dua Manfaat
Ketua Tim KKN Unhas Kelurahan Bukit Indah, Muh. Naufal Irham Abdullah, menjelaskan bahwa program ini lahir dari kebutuhan petani untuk memperoleh alternatif pupuk yang lebih terjangkau sekaligus mengurangi limbah organik.
“Lubang biopori pipa ini memiliki fungsi ganda. Selain menyerap air hujan ke dalam tanah untuk menjaga kelembapan lahan, pipa ini berfungsi sebagai reaktor kompos alami. Sampah organik sisa dapur maupun sisa panen dapat dimasukkan ke dalam pipa dan secara bertahap terurai menjadi bahan organik yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk,” jelas Naufal.
Menurutnya, pemanfaatan limbah organik melalui sistem tersebut juga dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk dari luar sekaligus membangun kebiasaan pengelolaan limbah yang lebih ramah lingkungan.
Diawali Sosialisasi dan Demplot
Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai pembuatan, pemasangan, dan cara kerja biopori pipa kepada masyarakat dan kelompok tani.
Mahasiswa KKN kemudian membuat demonstration plot (demplot) sebagai percontohan di area perkebunan atau lahan pertanian warga. Melalui praktik langsung tersebut, petani dapat melihat cara memasang pipa, memasukkan bahan organik, serta memahami proses penguraian yang berlangsung di dalamnya.
Pendekatan praktik ini diharapkan membuat teknologi tersebut lebih mudah dipahami dan direplikasi secara mandiri oleh masyarakat.
Ketua Kelompok Tani Kelurahan Bukit Indah, Yohanes, menyampaikan apresiasi terhadap inovasi yang diperkenalkan mahasiswa KKN Unhas. Menurutnya, teknologi tersebut memiliki keunggulan karena bahan pembuatannya mudah diperoleh dan penggunaannya relatif sederhana.
“Inovasi dari adik-adik mahasiswa Unhas ini sangat bermanfaat bagi kami. Bahan pembuatannya mudah didapat dan cara pakainya tidak rumit. Dengan biopori pipa ini, para petani tidak lagi membakar daun-daunan mati untuk dijadikan pupuk, tetapi bisa mengolahnya menjadi bahan organik yang bermanfaat bagi lahan,” ungkap Yohanes.
Dari Limbah Menjadi Sumber Daya
Sebagai bagian dari program, tim KKN Unhas juga menyerahkan sejumlah unit biopori pipa siap pakai serta modul panduan pembuatan secara mandiri kepada pengurus kelompok tani.
Langkah tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan demonstrasi selama masa KKN. Sebaliknya, teknologi sederhana itu dapat dikembangkan dan direplikasi oleh petani maupun warga lainnya sesuai kebutuhan.
Lebih jauh, program ini memperlihatkan bahwa inovasi pertanian tidak selalu membutuhkan teknologi mahal. Dengan memanfaatkan bahan sederhana yang tersedia di sekitar masyarakat, limbah organik dapat diubah menjadi sumber daya, sementara air hujan dapat dikembalikan ke dalam tanah.
Bagi Kelurahan Bukit Indah, inovasi biopori-komposter ini dapat menjadi langkah kecil menuju pengelolaan pertanian yang lebih efisien, mandiri, dan ramah lingkungan.
Dari pipa sederhana, mahasiswa KKN Unhas mencoba menghadirkan gagasan sederhana pula: sampah tidak harus menjadi beban, tetapi dapat kembali menjadi nutrisi bagi tanah dan kehidupan.









