PELAKITA.ID – BLORA, 2 Agustus 2026 — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus memperkuat pengembangan budidaya ikan tematik sebagai salah satu strategi meningkatkan produksi perikanan budidaya sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat dan ketahanan pangan nasional.
Program tersebut juga diarahkan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan protein dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui pengembangan kawasan budidaya yang terintegrasi dengan rantai pasok pangan.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, budidaya ikan tematik dirancang bukan sekadar untuk meningkatkan produksi, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi desa yang memberikan kepastian usaha bagi pembudidaya sekaligus memperluas akses pasar.
“Budidaya ikan tematik menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi desa. Melalui penguatan kelembagaan dan kemitraan, hasil produksi perikanan memiliki kepastian pasar sekaligus mendukung penyediaan pangan bergizi bagi masyarakat,” ujar Trenggono saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Jumat (31/7).
24 Kolam Bioflok untuk Produksi Lele
Di Blora, KKP mengembangkan budidaya ikan lele berbasis teknologi bioflok. Sebanyak 24 unit kolam bioflok berdiameter empat meter telah dibangun untuk mendukung produksi lele secara lebih efisien dan berkelanjutan.
Teknologi bioflok memungkinkan budidaya dilakukan dengan penggunaan lahan dan air yang relatif efisien, sekaligus berpotensi meningkatkan produktivitas apabila dikelola dengan baik.
Pengembangan kawasan tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan ikan, tetapi juga membangun mata rantai ekonomi masyarakat dari produksi hingga pemasaran.
Pendekatan ini menjadi penting karena tantangan perikanan budidaya tidak berhenti pada kemampuan memproduksi ikan. Kepastian pasar menjadi faktor penting agar pembudidaya memiliki insentif untuk meningkatkan kapasitas produksi dan menjaga kualitas hasil budidayanya.
Lele Blora Masuk Rantai Pasok Program MBG
Salah satu aspek strategis dari pengembangan budidaya ikan tematik di Blora adalah keterhubungannya dengan Program Makan Bergizi Gratis.
Produksi lele dari kawasan tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan bagi empat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yakni SPPG Kamolan, Banjarejo, Mojowetan, dan Gempolrejo.
Keterhubungan tersebut membuka peluang bagi pembudidaya lokal untuk mendapatkan pasar yang lebih jelas sekaligus meningkatkan kapasitas produksi.
Di sisi lain, skema tersebut memperpendek rantai pasok pangan karena hasil budidaya masyarakat dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sumber protein bagi penerima manfaat program pemerintah.
Dengan demikian, program budidaya ikan tematik memiliki dua fungsi sekaligus: memperkuat ekonomi pembudidaya dan mendukung ketersediaan pangan bergizi bagi masyarakat.
Dari Produksi ke Ekosistem Ekonomi Desa
Trenggono berharap model budidaya ikan tematik dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi sektor perikanan budidaya dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Program tersebut juga diharapkan berkontribusi terhadap target swasembada pangan nasional, khususnya melalui peningkatan produksi sumber protein berbasis perikanan.
“Model budidaya ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai daerah dengan menyesuaikan potensi komoditas unggulan masing-masing wilayah, sehingga manfaat ekonomi dan sosialnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” katanya.
Karena itu, pendekatan kawasan menjadi salah satu kunci pengembangan program. Setiap daerah dapat mengembangkan komoditas yang sesuai dengan kondisi sumber daya, kemampuan pembudidaya, kebutuhan pasar, dan karakteristik ekonomi lokal.
Membangun Rantai Usaha Perikanan yang Terintegrasi
Program budidaya ikan tematik merupakan bagian dari strategi KKP untuk mengembangkan perikanan budidaya berbasis kawasan yang produktif, efisien, dan berkelanjutan.
Melalui pendekatan tersebut, pemerintah mendorong terbentuknya rantai usaha yang terintegrasi mulai dari produksi, pengelolaan usaha, pemasaran hingga pemanfaatan hasil budidaya.
Model seperti ini membuat budidaya ikan tidak berdiri sendiri sebagai aktivitas produksi, tetapi menjadi bagian dari sistem ekonomi lokal.
Jika dikembangkan secara konsisten, kawasan budidaya dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di pedesaan: pembudidaya memperoleh kepastian pasar, masyarakat mendapatkan peluang usaha, sementara pemerintah memperoleh dukungan pasokan pangan bergizi.
Pengembangan budidaya lele di Blora sekaligus menunjukkan bahwa program ketahanan pangan dapat dibangun dari desa, dengan memanfaatkan potensi lokal dan menghubungkannya langsung dengan kebutuhan pangan masyarakat.
Keberhasilan budidaya ikan tematik tidak hanya diukur dari berapa banyak ikan yang diproduksi, tetapi dari sejauh mana produksi tersebut mampu meningkatkan pendapatan pembudidaya, menciptakan pasar yang berkelanjutan, memperkuat ekonomi desa, dan menyediakan sumber protein bergizi bagi masyarakat.









