Oleh Kamaruddin Azis
Pendiri Pelakita.ID
PELAKITA.ID – Pensiun sering kali dipandang sebagai penutup sebuah babak kehidupan. Namun bagi Mustamin Raga, masa pensiun justru lebih tepat dimaknai sebagai awal dari perjalanan baru.
Masa tugas resminya sebagai aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Gowa memang akan berakhir pada 1 Agustus 2026, tetapi dedikasinya terhadap ilmu pengetahuan, literasi, dan ruang diskursus publik akan terus menginspirasi siapa pun yang pernah bekerja dan belajar bersamanya.
Bagi banyak orang, Mustamin Raga dikenal sebagai seorang birokrat yang profesional. Bagi yang lain, ia adalah penulis produktif, pegiat literasi, sekaligus pemikir komunikasi.
Di lingkungan Pelakita.ID, ia lebih dari itu. Ia adalah mentor, sahabat intelektual, dan sumber inspirasi yang tenang namun kuat, yang terus mendorong kami untuk menulis lebih baik, berpikir lebih mendalam, serta memberi kontribusi yang lebih bermakna bagi masyarakat.
Sepanjang perjalanan kariernya, Mustamin tidak pernah membatasi aktivitas menulis hanya pada halaman-halaman buku. Baginya, menulis adalah instrumen transformasi sosial.
Karya-karyanya secara konsisten mengajak pembaca memandang kehidupan publik secara kritis, menghubungkan komunikasi, politik, budaya, dan kewargaan dalam bahasa yang tetap dekat dengan kehidupan masyarakat.
Buku terbarunya, Negara Dalam Kemasan: Dari Brand Produk ke Politik Citra, mencerminkan perjalanan intelektual tersebut. Buku ini mengulas bagaimana teknik-teknik branding yang dahulu identik dengan pemasaran produk komersial kini semakin membentuk komunikasi politik dan persepsi publik.
Melalui karya ini, Mustamin menunjukkan ketertarikannya yang konsisten untuk memahami bagaimana narasi, simbol, dan pencitraan memengaruhi demokrasi serta tata kelola pemerintahan.
Namun kontribusi Mustamin melampaui dunia penerbitan konvensional. Ia dengan terbuka merangkul perkembangan teknologi digital yang bergerak begitu cepat. Baginya, komunikasi yang bermakna pada era sekarang membutuhkan lebih dari sekadar kata-kata yang tercetak di atas kertas.
Ia menjadi salah satu penggerak yang mendorong optimalisasi media sosial sebagai ruang edukasi publik, mengajak para penulis, lembaga, dan komunitas menghasilkan konten yang kredibel, menarik, sekaligus memberi dampak positif bagi masyarakat.
Alih-alih memandang teknologi sebagai ancaman, Mustamin justru mengeksplorasi bagaimana kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dapat membantu penulis dan komunikator dalam mengembangkan ide, memperkuat alur cerita, memverifikasi informasi, memperbaiki penyajian visual, serta memperluas jangkauan konten edukatif. Baginya, teknologi tidak boleh menggantikan kreativitas manusia, melainkan harus memperkuat komunikasi yang bertanggung jawab dan berbasis pengetahuan.
Yang paling membedakan Mustamin adalah keyakinannya yang tak pernah goyah terhadap efek berganda (multiplier effect) dari sebuah tulisan.
Ia percaya setiap artikel, esai, buku, maupun unggahan di media sosial memiliki potensi untuk mendidik, memengaruhi, menginspirasi, sekaligus menggerakkan orang lain. Menulis bukanlah sekadar pencapaian pribadi, tetapi investasi sosial yang manfaatnya terus menyebar jauh melampaui pembacanya.
Filosofi itu tercermin dalam produktivitasnya yang luar biasa. Selama bertahun-tahun, Mustamin telah melahirkan banyak buku dan ribuan tulisan yang menunjukkan ketajaman pengamatan, rasa ingin tahu yang tinggi, serta komitmen yang tak pernah surut terhadap pendidikan publik.
Produktivitasnya tidak pernah digerakkan oleh hasrat mencari pengakuan, melainkan oleh keinginan tulus untuk memperkaya pemahaman kolektif masyarakat.
Di lingkungan Pelakita.ID, Mustamin telah menjadi salah satu pilar ekosistem intelektual kami. Bersama Rusdin Tompo dan Muliadi Saleh, ia mewakili semangat yang sejak awal menghidupkan platform ini: voluntarisme, kepedulian sosial, dan pengabdian kepada masyarakat.
Masing-masing memiliki kekuatan yang berbeda. Namun bersama-sama mereka mengingatkan kami bahwa jurnalisme bukan sekadar menyampaikan peristiwa, melainkan juga merawat gagasan, membangun dialog, dan memperkuat kehidupan masyarakat.
Komitmen mereka telah menjadikan Pelakita.ID bukan hanya sebuah media, melainkan rumah bagi percakapan-percakapan yang bermakna dan keterlibatan publik yang konstruktif.
Secara pribadi, saya selalu mengagumi kemurahan hati Mustamin. Ia berbagi gagasan tanpa pernah berhitung, membimbing penulis-penulis muda tanpa ragu, dan menjalani setiap diskusi dengan kerendahan hati serta keterbukaan.
Kesediaannya untuk terus belajar—bahkan ketika dunia berubah cepat oleh media digital dan kecerdasan buatan—membuktikan bahwa pertumbuhan intelektual tidak mengenal usia pensiun.
Kini, ketika memasuki babak baru kehidupannya, kami yakin suara dan pemikirannya justru akan semakin luas menjangkau masyarakat. Terlepas dari rutinitas birokrasi, ia akan memiliki lebih banyak ruang untuk menulis, membimbing, menerbitkan karya, berbicara di berbagai forum, dan terus memperkuat gerakan literasi di Indonesia.
Karena sesungguhnya, pensiun hanyalah akhir dari masa pengabdian formal, bukan akhir dari pengabdian kepada masyarakat.
Atas nama seluruh keluarga besar Pelakita.ID, kami menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas persahabatan, kebijaksanaan, integritas, serta dedikasi Bapak terhadap dunia literasi.
Selamat memasuki masa purnabakti, Mustamin Raga.
Semoga 1 Agustus 2026 bukan menjadi tanda perpisahan, melainkan halaman pertama dari babak kehidupan yang lebih bermakna—babak yang dipenuhi buku-buku baru, gagasan-gagasan segar, percakapan yang mencerahkan, dan kontribusi yang semakin besar bagi Indonesia.
Terima kasih telah membuktikan bahwa kata-kata memang mampu mengubah dunia, satu pembaca pada satu waktu.
—
Kamaruddin Azis
Pendiri Pelakita.ID









