PELAKITA.ID – Pada puncak peringatan Dies Natalis ke-70, Universitas Hasanuddin memperkenalkan lima program strategis yang dirancang untuk menjawab kebutuhan kampus masa kini sekaligus menyiapkan landasan bagi pengembangan universitas ke depan.
Lima inisiatif tersebut adalah Unhas Prime, Unhas Excellent Program Indicator (EPI), Campus Immigration Point (CIP Unhas), Unhas Satu Data, dan Critical Mineral Institute.
Peluncuran ditandai dengan penekanan tombol oleh Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc, bersama Ketua Majelis Wali Amanat, Ketua Senat Akademik, Ikatan Alumni Unhas, dan jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sulawesi Selatan.
Unhas Prime: Menyatukan Kesehatan Fisik, Mental, dan Spiritual
Program ini dikembangkan dengan pendekatan yang lebih menyeluruh terhadap kesehatan sivitas akademika. Program ini menggabungkan kesehatan fisik, mental, dan spiritual dalam satu sistem yang dilengkapi indikator serta basis data sehingga perkembangannya dapat dipantau secara berkelanjutan.
“Unhas Prime ingin kita jadikan contoh. Ini kombinasi program kesehatan fisik, mental, dan spiritual yang menyatu dalam satu program. Ada indikatornya, ada databasenya, dan terus dimonitor,” kata Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc.
Pemantauan dilakukan melalui medical check-up (MCU) serta penguatan pemeriksaan psikologis.
Aspek kesehatan mental juga mendapat perhatian melalui pengukuran tingkat stres dan identifikasi faktor yang memengaruhinya. Dengan basis data tersebut, kondisi sivitas dapat dipetakan secara lebih terukur sebagai dasar untuk menentukan langkah tindak lanjut.
Unhas Excellent Program Indicator: Mengukur Kualitas dan Kesejahteraan Sivitas
Pada sisi kesejahteraan, Unhas memperkenalkan Excellent Program Indikator (EPI) sebagai instrumen penguatan kualitas dan kesejahteraan sivitas. Program ini diarahkan untuk membangun indikator yang dapat digunakan dalam mengukur serta memantau capaian kesejahteraan di lingkungan universitas.
Campus Immigration Point: Mendekatkan Layanan Imigrasi ke Kampus
Sementara itu, CIP Unhas menghadirkan layanan keimigrasian langsung di lingkungan kampus. Layanan ini memberi akses yang lebih mudah untuk memenuhi kebutuhan administrasi keimigrasian, termasuk pengurusan visa dan paspor.
Kehadiran CIP Unhas juga berkaitan dengan ambisi Unhas memperluas ekosistem internasionalnya, dengan target jumlah mahasiswa asing mencapai 1.000 orang pada tahun mendatang. Peningkatan tersebut diharapkan berjalan beriringan dengan semakin luasnya jejaring global dan ketertarikan berbagai negara terhadap perkembangan Unhas.
Satu Data: Mengintegrasikan Data untuk Tata Kelola Universitas
Di ranah tata kelola, Unhas mulai mengembangkan konsep satu data yang mengintegrasikan berbagai data yang tersedia di lingkungan universitas. Sistem ini diarahkan untuk menghadirkan informasi yang lebih terpadu sehingga dapat mendukung pengambilan keputusan dan pengelolaan universitas secara lebih efektif.
“Ini menjadi awal bagi kita untuk bisa berbuat lebih jauh. Kita akan mengembangkan satu data yang ada di Unhas,” tutur Prof. JJ.
Critical Mineral Institute: Memperkuat Riset Mineral Kritis
Terobosan lainnya hadir melalui Critical Mineral Institute. Lembaga ini disiapkan untuk memperkuat kapasitas Unhas dalam pengembangan riset, inovasi, dan kolaborasi pada bidang mineral kritis yang memiliki arti strategis bagi perkembangan teknologi dan industri masa depan.
Lima program tersebut diluncurkan pada momentum Dies Natalis ke-70 Unhas sebagai bagian dari agenda pengembangan universitas yang semakin berorientasi pada kualitas, data, internasionalisasi, serta bidang-bidang strategis.
“Terima kasih atas dukungan Bapak dan Ibu semua. Ini menjadi awal bagi kita untuk berbuat lebih banyak dan membawa Unhas terus bergerak ke depan,” ujar Rektor, Prof. JJ. (*/dhs)









