Nelayan mungkin menghabiskan sebagian besar waktunya di laut, sementara perempuan kerap terlibat dalam pengolahan, perdagangan, pengelolaan keuangan rumah tangga serta berbagai bagian lain dari rantai nilai perikanan. Kaum muda memiliki pengalaman yang berbeda lagi, terutama ketika migrasi, pendidikan dan perubahan aspirasi ikut memengaruhi kehidupan mereka.
PELAKITA.ID — Sebuah foto tentang komunitas nelayan dapat menyampaikan cerita hanya dalam hitungan detik. Seorang nelayan yang berdiri di samping perahunya, perempuan yang sedang memilah ikan, anak-anak yang bermain di tepian pantai, atau penyelam yang baru kembali dari laut, semuanya dapat dengan cepat menggambarkan kemiskinan, ketangguhan, mata pencaharian, maupun kebudayaan.
Namun, ada pertanyaan lain di balik setiap gambar: siapa yang mengambil foto tersebut, dan cerita siapa yang sedang disampaikan?
Pertanyaan itulah yang menjadi inti dari “Communities Behind the Lens”, sebuah kuliah tamu yang akan diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin pada Rabu, 9 September 2026.
Kegiatan ini menghadirkan Associate Professor Shannon Switzer-Swanson, Ph.D., seorang National Geographic Explorer. Sementara itu, Prof. Sukri Palutturi, Dekan Sekolah Pascasarjana Unhas, akan memberikan sambutan, dengan Dr. Abigail Mary Moore bertindak sebagai moderator.
Judul kuliah tersebut memang provokatif. Sebuah komunitas biasanya ditempatkan sebagai subjek penelitian, jurnalistik, fotografi, maupun produksi dokumenter. Peneliti datang membawa kamera, catatan dan pertanyaan; masyarakat menyediakan informasi, cerita dan gambar. Produk akhirnya kemudian beredar melalui jurnal akademik, media, pameran atau laporan kelembagaan.
Namun, bagaimana jika komunitas itu sendiri yang memegang kamera?
Di sinilah perjalanan akademik dan profesional Swanson menjadi menarik.
Swanson menggambarkan dirinya sebagai seorang marine social ecologist, fotojurnalis dan “water woman”. Karyanya mengeksplorasi hubungan antara manusia dan laut dengan menggabungkan penelitian ilmiah dan penceritaan visual. Ia menyebut penelitiannya berupaya memahami dimensi psiko-kultural masyarakat serta bekerja bersama komunitas untuk mengembangkan pendekatan konservasi yang berakar pada konteks lokal.
Hubungannya dengan Indonesia sangat penting. National Geographic menggambarkan Swanson sebagai seorang marine social ecologist yang penelitiannya antara lain mencakup perikanan berkelanjutan berbasis masyarakat adat di Indonesia. Pengalaman lapangannya membawanya ke berbagai komunitas pesisir, tempat mata pencaharian, budaya dan konservasi laut saling terkait erat.
Salah satu minat utama penelitiannya adalah perdagangan ikan hias laut di Indonesia. National Geographic mendokumentasikan kiprahnya menelusuri perjalanan ikan tropis dari nelayan dan komunitas pesisir Indonesia melalui rantai pasok internasional hingga ke para penghobi akuarium di Amerika Serikat.
Proyek tersebut tidak hanya berusaha memahami perdagangan ikan, tetapi juga manusia dan hubungan sosial yang berada di baliknya.
Perbedaan itu penting. Foto konvensional tentang seorang nelayan mungkin memperlihatkan hasil dari sebuah mata pencaharian. Pendekatan visual partisipatif justru meminta nelayan tersebut menunjukkan apa arti mata pencaharian itu bagi dirinya. Keduanya belum tentu menghasilkan cerita yang sama.
Pemikiran tersebut juga tercermin dalam karya akademik Swanson. Dalam artikel yang diterbitkan pada 2021 di Biological Conservation, bersama Nicole M. Ardoin, ia mengkaji Visual Participatory Methods (VPMs) dalam konservasi keanekaragaman hayati. Penelitian tersebut menelaah 24 studi konservasi yang menggunakan pendekatan seperti fotografi partisipatif, video partisipatif dan berbagai metode visual lain yang dihasilkan oleh komunitas.
Argumen utamanya sangat kuat: foto dan video yang dibuat oleh anggota komunitas dapat mengungkap dimensi kehidupan sosial dan ekologis yang mungkin terlewatkan oleh metode penelitian konvensional.
Metode visual dapat membantu peneliti memahami bagaimana warga memandang lingkungannya, bagaimana peristiwa sejarah membentuk komunitas mereka, bagaimana masyarakat memahami hubungan mereka dengan alam, serta di mana perspektif mereka berbeda dari pemerintah, organisasi konservasi maupun peneliti.
Hal ini menjadi sangat relevan dalam konteks pesisir Indonesia.
Bayangkan sebuah desa nelayan yang mengalami penurunan hasil tangkapan. Peneliti dari luar mungkin mendokumentasikan menurunnya stok ikan, kerusakan terumbu karang atau perubahan praktik penangkapan ikan. Laporan pemerintah mungkin mengukur pendapatan, kepemilikan perahu atau volume produksi. Jurnalis mungkin memotret nelayan yang kembali dengan keranjang kosong.
Semua itu memberikan informasi yang berguna. Namun, mintalah komunitas mendokumentasikan realitas yang sama, dan cerita lain mungkin muncul.
Seorang nelayan mungkin memotret tempat ayahnya dahulu mengajarinya menangkap ikan. Seorang perempuan mungkin memotret pasar tempat ia berjualan ikan selama 20 tahun. Seorang anak muda mungkin memotret garis pantai yang dipenuhi sampah plastik. Warga lain mungkin mendokumentasikan kawasan mangrove yang telah hilang sepanjang hidupnya.
Tiba-tiba, komunitas tidak lagi sekadar menjadi objek pengamatan. Mereka menafsirkan sendiri lanskap sosial-ekologisnya. Di sinilah persoalan gender juga menjadi penting.
Siapa yang memegang kamera menjadi penting karena komunitas tidak terdiri atas satu suara. Laki-laki dan perempuan sering mengalami ekonomi pesisir dengan cara yang berbeda.
Nelayan mungkin menghabiskan sebagian besar waktunya di laut, sementara perempuan kerap terlibat dalam pengolahan, perdagangan, pengelolaan keuangan rumah tangga serta berbagai bagian lain dari rantai nilai perikanan. Kaum muda memiliki pengalaman yang berbeda lagi, terutama ketika migrasi, pendidikan dan perubahan aspirasi ikut memengaruhi kehidupan mereka.
Kamera yang diberikan kepada anggota komunitas yang berbeda karena itu dapat menghasilkan versi berbeda tentang desa yang sama.
Refleksi Swanson tentang perempuan yang ditemuinya di Indonesia juga mengarah pada dimensi tersebut. Ia pernah menulis mengenai perempuan-perempuan di Indonesia yang menunjukkan kemampuan luar biasa dalam menciptakan sumber penghidupan di tengah situasi yang sulit. Ia juga menggambarkan perempuan sebagai agen perubahan yang penting dalam merespons tantangan lingkungan dan sosial.
Pelajarannya penting bagi konservasi, tetapi relevansinya jauh lebih luas.
Hal ini juga berkaitan dengan pembangunan pesisir, program ekonomi biru, tata kelola perikanan dan pemberdayaan masyarakat. Ketika pemerintah merancang program untuk masyarakat pesisir, ada kecenderungan untuk mendefinisikan komunitas melalui statistik: jumlah nelayan, pendapatan rumah tangga, jumlah kapal, volume produksi atau tingkat kemiskinan.
Indikator-indikator tersebut memang diperlukan. Namun, indikator itu tidak selalu mampu menggambarkan bagaimana masyarakat mengalami dan memaknai kehidupan mereka sendiri.
Metode visual partisipatif dapat melengkapi statistik tersebut dengan memberikan ruang kepada warga untuk mendokumentasikan hal-hal yang menurut mereka penting. Swanson dan Ardoin berpendapat bahwa pendekatan semacam ini dapat berkontribusi pada konservasi yang lebih inklusif dan berkeadilan dengan membawa perspektif masyarakat ke dalam proses produksi pengetahuan dan pengambilan keputusan.
Bagi Indonesia, pendekatan ini menawarkan sebuah kemungkinan yang menarik.
Program seperti Kampung Nelayan Merah Putih, restorasi pesisir, kawasan konservasi laut dan perikanan berkelanjutan berpotensi memasukkan dokumentasi visual yang dibuat masyarakat sebagai bagian dari penilaian sosial maupun pemantauan program.
Alih-alih pihak luar yang mendokumentasikan apakah sebuah program telah mengubah sebuah desa, warga sendiri dapat mendokumentasikan perubahan tersebut.
Foto sebelum dan sesudah dapat merekam perubahan pantai, wilayah penangkapan ikan, mangrove, pasar dan mata pencaharian rumah tangga. Perempuan dapat mendokumentasikan perubahan dalam aktivitas pengolahan dan perdagangan. Anak muda dapat merekam aspirasi serta kekhawatiran mereka terhadap lingkungan. Nelayan dapat mendokumentasikan perubahan yang mereka lihat di laut.
Hasilnya bukan sekadar kumpulan foto. Ia dapat menjadi bukti yang dihasilkan oleh komunitas sendiri.
Mungkin inilah makna yang lebih dalam dari Communities Behind the Lens.
Lensa tidak pernah sepenuhnya netral. Ia menentukan apa yang menjadi terlihat dan apa yang tetap berada di luar bingkai. Ketika peneliti, jurnalis atau lembaga mengendalikan lensa, mereka juga memiliki tingkat kendali tertentu atas narasi.
Memberikan lensa kepada komunitas tidak otomatis membuat setiap cerita menjadi akurat atau representatif. Komunitas sendiri memiliki perbedaan, ketimpangan dan kepentingan yang saling berkompetisi. Namun, metode visual partisipatif menciptakan ruang lain agar perbedaan tersebut dapat muncul dan terlihat.
Bagi universitas seperti Universitas Hasanuddin, yang memiliki keterkaitan kuat dengan ilmu kelautan, kesehatan masyarakat, komunitas pesisir dan penelitian pembangunan, percakapan ini terasa sangat relevan.
Tantangannya kini bukan lagi sekadar mempelajari komunitas. Kita perlu belajar bagaimana mempelajari bersama komunitas, dan mungkin, semakin jauh ke depan, membiarkan komunitas memberi tahu kita apa yang mereka lihat.
Itulah janji sesungguhnya di balik lensa: bukan sekadar menghasilkan foto yang lebih baik, melainkan membangun hubungan yang berbeda antara pengetahuan, representasi dan kekuasaan.
____
Sumber dan bacaan lanjutan
- National Geographic Education — Explorers at Work: Shannon Switzer Swanson — latar belakang mengenai keilmuan marine social ecology Swanson dan kiprahnya dalam konservasi di Indonesia.
- Shannon Switzer Swanson — Research & Expertise — profil penelitian dan publikasi.
- Communities Behind the Lens — Biological Conservation — kajian Swanson dan Ardoin pada 2021 mengenai metode visual partisipatif.
- National Geographic — How Tropical Fish Get From Coral Reefs to Your Aquarium — laporan mengenai penelitian Swanson tentang perdagangan ikan hias laut di Indonesia.









