Mengenang Sudirman Nasir, MWH., Ph.D.
Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
PELAKITA.ID – Ada duka yang datang tanpa tanda. Tidak memberi kesempatan kepada hati untuk bersiap. Ia datang tiba-tiba, lalu membuat dunia seakan berhenti beberapa saat.
Menjelang pagi, dari ujung telepon, tangis Nana pecah. Suaranya tertahan, kalimatnya terbata. Lalu sebuah kabar yang membuat dada saya sesak.
“Kak Mul, Sudi sudah tidak ada…”
Saya terdiam.
Beberapa menit sebelumnya, sebuah pesan WhatsApp sebenarnya telah dikirim Nana—istri Sudi.
“Kak Mul, kondisi Sudi drop, di ICU. Mohon doanya yang terbaik untuk Sudi, Kak.”
Pesan itu belum sempat saya baca.
Saat ini saya sendiri masih menjalani masa pemulihan. Baru keluar dari rumah sakit setelah terserang stroke ringan. Langkah kaki belum sepenuhnya normal. Tubuh masih harus belajar kembali untuk kuat.
Tetapi rupanya, pagi itu Allah sedang mengajarkan saya sesuatu tentang perpisahan, cinta, dan jejak kebaikan seorang manusia.
Saya mengenal Sudi jauh sebelum kami menjadi tetangga. Saya mengenalnya ketika ia masih duduk di bangku SMP di Pesantren IMMIM Makassar. Saat itu namanya Sudirman HN. Sebagai senior, saya pernah menjadi salah satu pembinanya.
Setelah itu, kehidupan membawa kami ke jalan masing-masing. Ia melanjutkan pendidikan di SMANSA Makassar, kemudian Universitas Hasanuddin, hingga menapaki perjalanan akademik yang membawanya jauh ke Australia.
Jarak dan waktu membuat kami tidak selalu dekat.
Namun Allah mempertemukan kami kembali dengan cara yang sangat sederhana.
Kami menjadi tetangga.
Rumahnya di Bukit Baruga hanya berjarak beberapa rumah dari tempat tinggal saya. Sejak saat itu, pertemuan kami kembali intens. Benang persahabatan yang sempat tersimpan lama dalam perjalanan waktu kembali tersambung.
Ia sering menyapa ketika berpapasan atau ketika melintas di depan rumah. Kadang ia singgah. Biasanya kami berbincang cukup lama di teras rumah.
Sudi—begitu biasa saya memanggilnya—bukan sekadar seorang dosen. Bukan hanya seorang akademisi dengan gelar panjang di belakang namanya.
Ia adalah manusia yang memiliki kegelisahan.
Ia gelisah melihat lingkungan yang tidak sehat. Ia terusik oleh sampah plastik yang berserakan. Ia bahagia ketika melihat anak-anak belajar membuang sampah pada tempatnya.
Hal-hal yang bagi sebagian orang tampak kecil, ternyata begitu besar di dalam hatinya.
Kami berdiskusi tentang urban farming. Tentang lingkungan perumahan. Tentang kesehatan masyarakat. Tentang masa depan generasi muda.
Saya pernah mengundangnya ketika menggagas “SANRO SAKTI”, sebuah ikhtiar yang memberi perhatian pada kesehatan ibu dan anak dengan mensinergikan berbagai peran sosial dan kesehatan di masyarakat.
Kami membicarakan bagaimana mengorkestrasi peran dan fungsi puskesmas, polindes, posyandu, bidan, perawat hingga dokter agar pelayanan kesehatan masyarakat tidak berjalan sendiri-sendiri.
Sudi selalu memiliki kegelisahan yang ingin ia ubah menjadi kerja nyata.
Salah satu yang paling sering kami bicarakan adalah kesehatan petani.
Ia begitu peduli kepada mereka yang bekerja di bawah terik matahari, mengolah tanah, menggunakan berbagai sarana produksi, tetapi kesehatan mereka sering kali luput dari perhatian.
Saya melihat kegelisahan itu bukan sekadar bahan diskusi akademik.
Ia sungguh-sungguh memikirkannya.
Bahkan ketika tubuhnya mulai melemah, semangatnya tidak ikut sakit.
Saya pernah datang ke rumahnya ketika ia sudah berada di atas kursi roda. Namun Sudi tetaplah Sudi.
Ia masih ingin berbicara.
Masih ingin berdiskusi.
Masih memikirkan kesehatan masyarakat.
Masih memikirkan generasi muda.
Seolah tubuh boleh melemah, tetapi pikirannya tidak pernah ingin berhenti bekerja untuk orang lain.
Barangkali, itulah salah satu hal yang paling saya kagumi darinya.
Ia begitu peduli kepada orang lain, tetapi tidak ingin menyusahkan siapa pun.
Bahkan ketika sakit, ia tetap berusaha menjaga perasaan orang-orang di sekelilingnya.
Beberapa waktu lalu, saya sempat menjenguknya di rumah sakit. Saya melihat tubuhnya yang semakin lemah.
Saya mendekat. Saya mencoba menguatkan hati yang mungkin sedang berjuang dalam diam.
Saya memeluknya cukup lama, lalu berbisik di telinganya:
“Semangat, Dinda. Insya Allah sembuh.”
Ia hanya mengangguk pelan.
Lalu menatap saya.
Tatapan itu kini tinggal kenangan.
Hari ini, saya duduk di atas kursi roda.
Tubuh saya belum memungkinkan bergerak seperti biasa. Saya tidak bisa berdiri lama. Saya tidak bisa berjalan ke rumahmu, Dinda.
Saya tidak bisa melakukan banyak hal sebagaimana seorang tetangga dan sahabat sebenarnya ingin lakukan.
Tetapi dari tempat saya duduk, saya menyaksikan sesuatu yang membuat dada saya sesak sekaligus haru.
Saya menyaksikan lautan cinta untukmu.
Orang-orang datang silih berganti.
Mobil dan motor berjejer panjang di sepanjang jalan. Anak-anak muda berdatangan. Mahasiswa dan pemuda datang tanpa henti. Sahabat-sahabatmu hadir. Kolega-kolegamu hadir.
Melalui grup WhatsApp kompleks, saya melihat kabar bahwa Rektor Universitas Hasanuddin, Wakil Rektor I, dan para kolegamu turut datang memberikan penghormatan terakhir.
Saya menyaksikan semua itu dari kejauhan.
Dan air mata saya jatuh.
Bukan hanya karena engkau telah pergi.
Tetapi karena baru pada hari perpisahan ini saya melihat dengan begitu jelas betapa banyak manusia yang telah engkau sentuh sepanjang hidupmu.
Lalu datanglah anak-anak santri tahfidz dari Masjid Fatimah Bukit Baruga.
Mereka datang membawa ayat-ayat suci. Suara mereka mengalun, membawa doa. Di tengah duka, Al-Qur’an seakan menjadi jembatan yang mengantar seorang hamba pulang kepada Tuhannya.
Saat itulah hati saya benar-benar pecah.
Maafkan saya, Dinda Sudi.
Saya tidak bisa ikut bersama para santri mendoakanmu di rumahmu.
Saya tidak bisa ikut mengurus jenazahmu.
Saya tidak bisa ikut mengantarmu sebagaimana hati ini sebenarnya ingin melakukannya.
Tubuh saya sedang sakit.
Kursi roda ini membatasi langkah saya.
Tetapi, Dinda, ada sesuatu yang tidak pernah bisa dibatasi oleh sakit dan jarak.
Doa.
Hari ini, dari kursi roda ini, saya mengirimkan doa untukmu.
Sebagai tetangga.
Sebagai sahabat seperjalanan sejak Pesantren IMMIM.
Sebagai kakak.
Sebagai teman diskusi.
Sebagai sesama jamaah Masjid Fatimah Bukit Baruga.
Dan sebagai seseorang yang merasa beruntung pernah mengenalmu.
Hari ini saya menyaksikan bahwa manusia sesungguhnya tidak hanya meninggalkan rumah, jabatan, gelar, atau karya ketika ia pergi.
Ada sesuatu yang jauh lebih abadi dari semuanya.
Ia meninggalkan jejak di hati manusia.
Dan engkau, Dinda Sudi, telah meninggalkan begitu banyak jejak.
Tangis keluarga adalah cinta.
Kehadiran sahabat adalah cinta.
Langkah para mahasiswa adalah cinta.
Kedatangan para kolega adalah cinta.
Lantunan ayat para santri adalah cinta.
Bahkan jalan yang dipenuhi kendaraan dan manusia yang datang melayatmu adalah bahasa cinta yang tidak membutuhkan kata-kata.
Hari ini saya mengerti, Dinda.
Betapa kaya seseorang bukan diukur dari apa yang ia kumpulkan selama hidup, tetapi dari berapa banyak hati yang merasa kehilangan ketika ia pergi.
Dan hari ini, engkau pergi dengan membawa begitu banyak cinta.
Selamat jalan, Dinda Sudi.
Dr. Sudirman Nasir, S.Ked., MWH., Ph.D.
Terima kasih telah menjadi adik yang membanggakan.
Terima kasih telah menjadi sahabat yang peduli.
Terima kasih atas kegelisahanmu terhadap kesehatan manusia, lingkungan, petani, dan generasi muda.
Terima kasih karena telah mengajarkan, tanpa banyak kata, bahwa ilmu yang paling mulia adalah ilmu yang membuat kita semakin peduli kepada sesama.
Saya mungkin tidak mampu berjalan mengantarmu hari ini.
Tetapi dari kursi roda ini, saya menyaksikan lautan cinta mengiringi kepergianmu.
Dan saya percaya, di antara lautan manusia yang datang dan doa-doa yang terbang ke langit, ada pesan yang sedang Allah tunjukkan kepada kita semua:
Orang baik mungkin pergi, tetapi kebaikannya selalu menemukan jalan untuk tetap tinggal.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Ya Allah, ampuni segala khilafnya. Terima seluruh amal kebajikannya. Lapangkan kuburnya. Terangi tempat peristirahatannya. Tempatkanlah Dinda Sudi di tempat terbaik di sisi-Mu.
Untuk Nana Saleh dan Ananda Rifqy, tetaplah sabar dan tabah. Iringi kepergian beliau dengan doa-doa terbaik.
Kami semua akan selalu ada bersama kalian.
Selamat jalan, sahabatku.
Surga tempatmu, Dinda Sudi.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
“Kematian memang memisahkan tubuh, tetapi kebaikan membuat seseorang tetap hidup di dalam hati mereka yang pernah disentuhnya.”
Muliadi Saleh
“Menulis Makna, Membangun Peradaban.”









