Kolaborasi Konservasi di Tangkulara, Saat Ekosistem Karang Teluk Bone Makin Sehat Melalui Program Adopsi Karang

  • Whatsapp
Berdasarkan hasil survei kesehatan karang menggunakan metode Coral Health Chart yang dilakukan hari ini, pertumbuhan terumbu karang hasil transplantasi menunjukkan tingkat kelangsungan hidup dan kondisi kesehatan yang sangat memuaskan.

PELAKITA.ID – Semangat pelestarian ekosistem laut terus bergelora di pesisir Sulawesi Selatan khususnya di Teluk Bone.

Hari ini, 25 Agustus 2026, kolaborasi sinergis antara Uni Dive, Jaringan Adopsi Karang Indonesia (JARI), GGI SCUBA, dan Politeknik Kelautan dan Perikanan (Poltek KP) Bone sukses menggelar kegiatan pemantauan sekaligus perluasan area adopsi karang di kawasan Tangkulara, Teluk Bone, Kabupaten Bone.

Kegiatan yang berlangsung pada Selasa ini tidak hanya berfokus pada penanaman bibit baru, tetapi juga melakukan evaluasi kuantitatif terhadap kondisi ekologis terumbu karang yang telah diturunkan satu tahun sebelumnya, yakni pada Agustus 2025.

Berdasarkan hasil survei kesehatan karang menggunakan metode Coral Health Chart yang dilakukan hari ini, pertumbuhan terumbu karang hasil transplantasi menunjukkan tingkat kelangsungan hidup dan kondisi kesehatan yang sangat memuaskan.

Data persentase frekuensi skor warna karang (Coral Colour Scores) mengindikasikan bahwa seluruh karang yang dipantau terhindar dari pemutihan (bleaching).

Data persentase frekuensi skor warna karang (Coral Colour Scores) mengindikasikan bahwa seluruh karang yang dipantau terhindar dari pemutihan (bleaching).

Secara rinci, tidak ditemukan karang yang memiliki skor warna 1, 2, maupun 3 (0%).

Mayoritas tingkat kecerahan warna karang berada pada kategori sangat sehat, didominasi oleh skor 5 sebesar 64,29%, kemudian disusul oleh skor 4 sebesar 28,57%, dan skor 6 dengan persentase 7,14%. Angka ini membuktikan bahwa kepadatan zooxanthellae (alga mikroskopis yang bersimbiosis dengan karang) berada dalam kondisi optimal, mendukung laju pertumbuhan dan pembentukan cabang primer maupun sekunder yang baik.

Selain melakukan pemantauan, tim gabungan juga terus memperluas area restorasi. Pada hari yang sama, dilakukan penambahan karang transplantasi sebanyak 9 unit media spider frame (kerangka laba-laba).

Setiap media kerangka diisi dengan 15 fragmen karang, sehingga total terdapat 135 fragmen karang baru yang sukses diturunkan ke dasar perairan Tangkulara.

Fitri Ahyuni Herman, Dive Instructor sekaligus Inisiator Program Adopsi Karang di Kabupaten Bone, menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh pihak yang terlibat, terutama masyarakat yang telah berpartisipasi secara finansial maupun moral.

Mudasir Zainuddin, S.Si., M.Si., selaku Ketua JARI dan Peneliti Karang dari Universitas Wira Bhakti serta perwakilan GGI SCUBA, menyoroti aspek saintifik dan pentingnya sinergi antarlembaga dalam keberhasilan restorasi ekosistem laut.

“Kegiatan di Tangkulara ini adalah bukti nyata bahwa kepedulian terhadap laut Bone bisa diwujudkan dalam aksi yang terukur. Saya selaku inisiator sangat berterima kasih kepada para adopter yang telah mempercayakan dan menyalurkan donasinya untuk kegiatan pelestarian ini. Tanpa dukungan para adopter, perluasan taman karang dan pemeliharaan rutin seperti pembersihan makroalga pada media transplantasi ini tidak akan bisa berjalan secara berkelanjutan. Karang-karang ini adalah warisan kita untuk generasi mendatang,” terang Ahyuni dengan penuh haru.

Sementara itu, Mudasir Zainuddin, S.Si., M.Si., selaku Ketua JARI dan Peneliti Karang dari Universitas Wira Bhakti serta perwakilan GGI SCUBA, menyoroti aspek saintifik dan pentingnya sinergi antarlembaga dalam keberhasilan restorasi ekosistem laut.

“Melihat hasil survei kesehatan karang hari ini yang didominasi skor warna 4 dan 5, ini menjadi indikator ekologis yang sangat kuat bahwa perairan Tangkulara sangat mendukung metode transplantasi yang kita terapkan. Tingkat sintasan (survival rate) yang tinggi ini tidak lepas dari desain struktur kerangka dan teknik perawatan berkala yang selalu kita dorong bersama,” jelas Mudasir.

“Kolaborasi lintas sektor antara akademisi, instruktur penyelam, dan komunitas konservasi seperti Uni Dive, JARI, GGI SCUBA, dan Poltek KP Bone adalah model ideal untuk Nature-based Solutions (Solusi Berbasis Alam). Kami berharap kawasan Tangkulara tidak hanya menjadi benteng alami ekosistem pesisir Bone, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan bioindikator kesehatan laut yang terus kita pantau pertumbuhannya dari tahun ke tahun,” tambahnya.

Ke depannya, area restorasi di Tangkulara ini akan terus dipantau secara berkala untuk mencatat metrik pertumbuhan lanjutan, sekaligus dipersiapkan sebagai kawasan percontohan untuk program pariwisata bahari ramah lingkungan dan edukasi konservasi bagi masyarakat luas.

___
Editor Aisya Sofianita Kamaruddin