PELAKITA.ID – MAKASSAR — Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia membuka ruang kolaborasi strategis untuk memperkuat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), teknologi energi berkelanjutan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Kolaborasi tersebut tidak hanya diarahkan pada hubungan kelembagaan, tetapi juga pada upaya mempertemukan kekuatan akademik, kebijakan pemerintah, inovasi teknologi, riset, dan kebutuhan pembangunan.
Pendekatan lintas sektor dinilai penting karena transisi energi tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan teknologi.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM RI, Prof. Dr. Eng. Eniya Listiani Dewi, B.Eng., M.Eng., IPU., mengatakan Unhas memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu mitra strategis pemerintah dalam pengembangan energi masa depan.
Menurutnya, pengembangan energi baru dan terbarukan membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin ilmu. Persoalan energi bersinggungan dengan aspek sosial, ekonomi, metalurgi, daur ulang, critical minerals, hingga pengembangan teknologi baterai.
“Alhamdulillah hari ini memberikan kuliah umum yang tanggapan dari mahasiswa juga bagus sekali, jadi terinspirasi. Tadi ada beberapa hal yang perlu kita cermati masalah isu sosial, masalah ekonomi, masalah metalurgi mengenai recycle, lalu critical minerals, juga kebutuhan baterai,” kata Prof. Eniya.
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi menjadi penting untuk memastikan bahwa pengembangan teknologi energi berjalan beriringan dengan kesiapan sosial, kelayakan ekonomi, ketersediaan sumber daya, serta penguatan kapasitas manusia.
Prof. Eniya juga membuka peluang untuk memperkuat kolaborasi kelembagaan antara Kementerian ESDM dan Unhas. Salah satu gagasan yang tengah dipertimbangkan adalah kehadiran kantor perwakilan Kementerian ESDM di lingkungan Unhas.
“Ke depan saya yakin ada banyak kolaborasi. Bahkan akan ada, lagi saya pikirkan, kantor perwakilan Kementerian ESDM di Unhas,” ujarnya.
Gagasan tersebut memperlihatkan peluang untuk menjadikan kampus bukan hanya sebagai tempat pendidikan dan penelitian, tetapi juga sebagai ruang pertemuan antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat dalam merumuskan serta menguji solusi energi berkelanjutan.
Prof. Eniya juga mengapresiasi komitmen Unhas dalam mendorong pemanfaatan energi terbarukan di lingkungan kampus. Menurutnya, berbagai fasilitas dan bangunan di Unhas dapat menjadi bagian dari praktik transisi energi dengan mengintegrasikan sumber EBT dan konsep green building.
“Saya tadi juga sangat apresiasi sekali kepada Pak Rektor karena sudah menyebutkan berbagai gedung yang ada di universitas ini nanti bisa menggunakan berbagai EBT yang bisa digabungkan dan juga menggunakan konsep green building,” ungkapnya.
Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., menegaskan kesiapan universitas untuk memperluas kolaborasi dengan Kementerian ESDM. Ia menilai agenda energi berkelanjutan harus ditempatkan bukan sekadar sebagai program sektoral, tetapi menjadi bagian dari kebijakan institusi dan perubahan gaya hidup masyarakat.
“Indonesia harus bangkit, bukan hanya tumbuh tinggi, tumbuh cepat, tapi juga tumbuh hijau. Energi baru terbarukan dan juga efisiensi-efisiensi energi ini harus menjadi bagian dari gaya hidup dan kebijakan Unhas,” kata Prof. Jamaluddin.
Komitmen tersebut antara lain diwujudkan melalui penerbitan Peraturan Rektor mengenai target zero emission. Salah satu implementasinya adalah kebijakan penggunaan kendaraan listrik untuk kendaraan dinas di lingkungan Unhas.
“Kami telah menerbitkan Peraturan Rektor terkait target zero emission. Salah satu implementasinya adalah kebijakan penggunaan kendaraan listrik untuk kendaraan dinas. Mulai tahun ini tidak ada lagi pembelian kendaraan dinas yang menggunakan bahan bakar fosil, semua harus kendaraan listrik,” ujarnya.
Prof. Jamaluddin menekankan bahwa transisi energi membutuhkan kolaborasi lintas disiplin. Pengembangan EBT tidak hanya membutuhkan keahlian di bidang teknik dan metalurgi, tetapi juga membutuhkan kontribusi dari ilmu ekonomi, pertanian, peternakan, kelautan, sosial, dan berbagai bidang keilmuan lainnya.
Dalam konteks tersebut, universitas memiliki posisi strategis karena dapat mempertemukan berbagai disiplin ilmu dalam satu ekosistem pengetahuan. Sementara pemerintah memiliki peran dalam menghadirkan kebijakan, regulasi, insentif, dan arah pembangunan yang memungkinkan inovasi dapat diterapkan secara lebih luas.
Kolaborasi Unhas dan Kementerian ESDM selanjutnya diharapkan berkembang ke berbagai bidang, mulai dari riset bersama, pengembangan teknologi EBT, penerapan inovasi energi di lingkungan kampus dan masyarakat, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Lebih jauh, kolaborasi tersebut dapat menjadi model bagaimana perguruan tinggi dan pemerintah bersama-sama membangun ekosistem transisi energi. Kampus menyediakan pengetahuan, riset, talenta, dan ruang inovasi, sementara pemerintah menghadirkan kebijakan dan dukungan implementasi agar pengetahuan tersebut dapat memberi dampak nyata.
Penguatan kolaborasi ini menjadi semakin relevan di tengah kebutuhan Indonesia untuk membangun sistem energi yang lebih bersih, efisien, mandiri, dan berkelanjutan. Transisi energi pada akhirnya bukan hanya persoalan mengganti sumber energi, melainkan juga membangun cara baru dalam memproduksi, menggunakan, mengelola, dan memaknai energi dalam kehidupan masyarakat.
Kolaborasi Unhas dan Kementerian ESDM tersebut mengemuka dalam Sarasehan Nasional Energi Terbarukan Universitas Hasanuddin bertema “Katalisasi Potensi Energi Hijau Multisektor: Peran Strategis Universitas Hasanuddin Menuju Kemandirian Energi Bangsa”, yang berlangsung Kamis (10 September 2026) di Ruang Arsjad Rasjid Theater Lecture, Universitas Hasanuddin, Makassar.









