Yayasan Bumi Tangguh Salurkan 5.000 Masker bagi Masyarakat Terdampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK)

  • Whatsapp
Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan melibatkan SIBAT Way Muli Timur, Destana Way Muli Timur, TP. PKK Desa Way Muli Timur, anggota PKK Way Muli Timur, kader Posyandu Way Muli Timur, serta Kader Pemberdayaan Masyarakat Way Muli Timur. Bantuan disalurkan kepada Madrasah Ibtidaiyah Way Muli Timur, Madrasah Tsanawiyah Al Khairiyah Way Muli Timur, serta masyarakat Desa Way Muli Timur.

Rangkaian distribusi bantuan dilaksanakan secara bertahap pada 10–12 September 2026, dengan melibatkan kelompok kebencanaan, yaitu Tim SIBAT (Siaga Bencana Berbasis Masyarakat) dan Destana (Desa Tangguh Bencana), pemerintah desa, PKK, kader masyarakat, serta unsur masyarakat lainnya.

PELAKITA.ID – Lampung Selatan, 12 September 2026 — Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sejak awal September 2026 telah menyebabkan penyebaran abu vulkanik dan memengaruhi aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah, termasuk kawasan pesisir Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan.

Dalam beberapa hari terakhir, Gunung Anak Krakatau masih mengalami erupsi dan mengeluarkan abu vulkanik. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral terus menyampaikan perkembangan aktivitas gunung api tersebut hingga 11 September 2026.

Meskipun aktivitas sehari-hari masyarakat mulai berjalan, debu vulkanik masih ditemukan di sekitar permukiman dan jalanan.

Debu yang telah mengendap juga dapat kembali beterbangan ketika tertiup angin atau terangkat oleh kendaraan yang melintas. Oleh karena itu, masyarakat masih membutuhkan masker, terutama ketika beraktivitas di luar rumah.

Partikel abu vulkanik yang berukuran halus dapat terhirup dan menyebabkan iritasi pada hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan. Paparan abu juga dapat menimbulkan batuk, rasa tidak nyaman di dada, sesak napas, serta iritasi pada mata dan kulit.

Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang dengan asma atau penyakit pernapasan dan jantung merupakan kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih karena lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik.

Merespons kondisi tersebut, Yayasan Bumi Tangguh (YBT) menyalurkan sebanyak 5.000 masker kepada masyarakat terdampak di Desa Way Muli Timur dan Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan.

Rangkaian distribusi bantuan dilaksanakan secara bertahap pada 10–12 September 2026, dengan melibatkan kelompok kebencanaan, yaitu Tim SIBAT (Siaga Bencana Berbasis Masyarakat) dan Destana (Desa Tangguh Bencana), pemerintah desa, PKK, kader masyarakat, serta unsur masyarakat lainnya.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memastikan bantuan perlindungan kesehatan dapat menjangkau masyarakat yang tetap melakukan aktivitas bersama di tengah kondisi lingkungan yang masih terdampak abu vulkanik.

Pada 10 September 2026, distribusi bantuan dilakukan di Desa Way Muli melalui kerja sama dengan Tim SIBAT dan Destana Way Muli. Sebanyak 250 masker dibagikan kepada jemaah dalam kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memastikan bantuan perlindungan kesehatan dapat menjangkau masyarakat yang tetap melakukan aktivitas bersama di tengah kondisi lingkungan yang masih terdampak abu vulkanik.

Pada 11 September 2026, YBT melanjutkan distribusi sebanyak 2.500 masker di Desa Way Muli Timur.

Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan melibatkan SIBAT Way Muli Timur, Destana Way Muli Timur, TP. PKK Desa Way Muli Timur, anggota PKK Way Muli Timur, kader Posyandu Way Muli Timur, serta Kader Pemberdayaan Masyarakat Way Muli Timur. Bantuan disalurkan kepada Madrasah Ibtidaiyah Way Muli Timur, Madrasah Tsanawiyah Al Khairiyah Way Muli Timur, serta masyarakat Desa Way Muli Timur.

Pada 12 September 2026, distribusi dilanjutkan di Desa Way Muli dengan menyalurkan sebanyak 2.250 masker kepada masyarakat terdampak abu vulkanik. Bantuan juga menjangkau sejumlah sekolah, yaitu TK Satu Atap Way Muli, SDN 1 Way Muli, SDN 2 Way Muli, dan Madrasah Aliyah Way Muli, sebagai bagian dari perhatian terhadap perlindungan anak-anak, pelajar, guru, dan tenaga pendidikan yang tetap menjalankan aktivitas di tengah paparan abu vulkanik.

Dengan demikian, selama tiga hari pelaksanaan, YBT bersama para mitra dan unsur masyarakat setempat telah menyalurkan seluruh 5.000 masker kepada kelompok sasaran di Desa Way Muli Timur dan Desa Way Muli.

SIBAT Way Muli Timur dan SIBAT Way Muli merupakan kelompok masyarakat yang berada di bawah binaan PMI Kabupaten Lampung Selatan. Sementara itu, Destana Way Muli Timur dan Destana Way Muli berada di bawah binaan BPBD Kabupaten Lampung Selatan.

Keterlibatan kedua kelompok kebencanaan tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung koordinasi dan pelaksanaan distribusi bantuan di tingkat masyarakat.

Keterlibatan SIBAT dalam kegiatan ini juga merupakan bagian dari keberlanjutan penguatan kapasitas masyarakat yang telah dilakukan sebelumnya. SIBAT Way Muli Timur dan SIBAT Way Muli merupakan kelompok yang pernah difasilitasi pembentukan dan pelatihannya oleh Yayasan Bumi Tangguh pada tahun 2019, dalam rangka respons terhadap bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda wilayah tersebut.

Pengalaman dan kapasitas yang telah dibangun sejak saat itu menjadi modal penting bagi masyarakat untuk terus berperan dalam kesiapsiagaan dan respons terhadap berbagai ancaman bencana, termasuk dalam menghadapi dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Ketua Yayasan Bumi Tangguh, Dennie Mamonto, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen YBT untuk melindungi masyarakat dan memperkuat ketangguhan mereka dalam menghadapi bencana.

“Kegiatan ini merupakan pelaksanaan salah satu misi Yayasan Bumi Tangguh, yaitu berperan aktif dalam pengurangan risiko, kesiapsiagaan, tanggap darurat, dan pemulihan bencana untuk memperkuat ketangguhan masyarakat. Kami berharap bantuan masker ini dapat membantu mengurangi risiko kesehatan masyarakat yang masih harus menjalankan aktivitas sehari-hari di tengah paparan debu vulkanik,” ujar Dennie.

Koordinator kegiatan, Darwin, menjelaskan bahwa kebutuhan masker masih cukup tinggi karena abu vulkanik masih ditemukan di lingkungan permukiman dan sepanjang jalan.

“Bantuan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat, terutama mereka yang harus beraktivitas di luar rumah. Debu vulkanik masih ada di sekitar permukiman dan jalan serta dapat kembali beterbangan saat tertiup angin atau ketika kendaraan melintas. Masyarakat menyampaikan terima kasih kepada Yayasan Bumi Tangguh atas bantuan yang telah diberikan,” kata Darwin.

Darwin bersama para mitra di tingkat desa mengoordinasikan pendistribusian bantuan agar masker dapat menjangkau sekolah dan masyarakat yang membutuhkan. Pelibatan SIBAT, Destana, PKK, kader Posyandu, Kader Pemberdayaan Masyarakat, serta unsur masyarakat lainnya membantu memastikan distribusi dilakukan secara terkoordinasi dan tepat sasaran.

YBT mengimbau masyarakat untuk tetap mengikuti informasi dan arahan resmi pemerintah, membatasi aktivitas di luar rumah saat paparan abu meningkat, serta menggunakan masker dengan benar apabila harus berada di luar rumah.

Masyarakat juga diharapkan menghindari kegiatan yang dapat membuat debu kembali beterbangan dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan atau keluhan kesehatan lainnya.

Melalui kerja sama dengan SIBAT, Destana, TP. PKK dan anggota PKK, kader Posyandu, Kader Pemberdayaan Masyarakat, sekolah, serta masyarakat Desa Way Muli Timur dan Desa Way Muli, YBT berharap bantuan ini dapat membantu melindungi kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat kesiapsiagaan dan respons bencana berbasis masyarakat.

Tentang Yayasan Bumi Tangguh

Yayasan Bumi Tangguh (YBT) merupakan organisasi nirlaba Indonesia yang didirikan pada 9 Juni 2017 atas kepedulian terhadap pelestarian lingkungan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan penanggulangan bencana. YBT bekerja bersama masyarakat untuk memperkuat kemampuan menghadapi bencana, perubahan iklim, tekanan lingkungan, serta tantangan sosial dan ekonomi.

Program YBT berfokus pada tiga pilar utama, yaitu penanggulangan bencana; perlindungan lingkungan, pesisir, dan laut; serta pemberdayaan masyarakat.

Dalam bidang kebencanaan, YBT berpengalaman melaksanakan pengurangan risiko dan kesiapsiagaan, tanggap darurat, penyediaan kebutuhan dasar, air bersih dan sanitasi, dukungan psikososial, pemulihan mata pencaharian, rehabilitasi, serta pembangunan kembali rumah ramah gempa.

Sejak 2017, YBT telah melaksanakan kegiatan kemanusiaan, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Lampung, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Barat. Seluruh kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif, inklusif, kolaboratif, berbasis masyarakat, dan berorientasi pada keberlanjutan.