Dari Sawah Tolitoli, Alumni Unhas Menguatkan Petani dan Jejaring Usaha

  • Whatsapp
Rustan Rewa, kiri, bersama petani Tolitoli yang hendak panen (dok: istimewa)

PELAKITA.ID – Pembangunan pertanian di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari program besar yang berjalan sendiri.

Di balik hamparan sawah yang produktif, ada kerja panjang pemerintah, petani, penyuluh, pelaku usaha, dan jejaring pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman di lapangan.

Pengakuan itu disampaikan Ir. Rustan Rewa, M.P., Asisten Ekonomi Pembangunan Pemerintah Kabupaten Tolitoli, yang sebelumnya dipercaya sebagai Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tolitoli.

Sebagai birokrat sekaligus alumni Universitas Hasanuddin (Unhas), Rustan melihat pembangunan pertanian bukan sekadar urusan meningkatkan produksi, tetapi juga membangun kemampuan petani agar semakin mandiri dan mampu membaca peluang usaha.

Menurutnya, salah satu pengalaman yang memberi optimisme adalah pengelolaan padi sawah di Tolitoli.

Sistem pertanian padi telah berkembang menjadi bagian penting dari penguatan ekonomi masyarakat karena petani tidak hanya didorong untuk menghasilkan gabah, tetapi juga semakin memahami pentingnya pengelolaan usaha tani, efisiensi produksi, teknologi, dan akses terhadap pasar.

“Keberhasilan pertanian tidak hanya dilihat dari berapa banyak yang dipanen, tetapi bagaimana petani mampu mengelola usaha taninya secara berkelanjutan,” demikian semangat yang tercermin dari pengalaman Rustan selama mendampingi sektor pertanian Tolitoli.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena tantangan pertanian terus berubah. Petani berhadapan dengan kebutuhan peningkatan produktivitas, perubahan biaya produksi, akses teknologi, pasar, serta kebutuhan membangun jejaring usaha yang lebih kuat. Pemerintah kemudian memiliki peran untuk menciptakan ekosistem yang memungkinkan petani berkembang.

Pada pengalaman Rustan sebagai alumni Unhas bisa menemukan relevansinya.

Pendidikan dan jejaring yang diperoleh dari kampus tidak berhenti sebagai pengetahuan akademik, tetapi menjadi modal untuk mempertemukan berbagai pihak dan memperkuat kapasitas masyarakat.

Panen di Lapuase, Petani Tolitoli Buktikan Ketahanan Pangan di Tengah Tantangan Iklim

Pada satu momen, pada suasana syukur mewarnai aktivitas panen padi di Kelompok Tani Lapuase, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, Senin (25/8/2026) Rustan Rewa hadir bersama petani.

Menurut Rustan, panen berlangsung bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, menjadi momentum bagi petani untuk mensyukuri hasil kerja mereka di tengah tantangan musim dan perubahan iklim.

Panen tersebut memperlihatkan bahwa sebagian petani di Lapuase masih mampu mempertahankan produksi padi, termasuk pada varietas M70D yang dikembangkan di wilayah tersebut.

Meski tidak seluruh pertanaman memberikan hasil optimal, keberhasilan panen menjadi bukti pentingnya ketekunan petani dalam menjaga produktivitas sawah.

Di tengah kegiatan panen, para petani juga menyampaikan apresiasi terhadap kehadiran Bulog sebagai mitra yang selama ini ikut mendukung pengelolaan hasil pertanian.

Kemitraan tersebut dinilai penting karena tidak hanya berkaitan dengan penyerapan hasil panen, tetapi juga memberikan kepastian dan dorongan bagi petani untuk terus meningkatkan produksi.

“Alhamdulillah, hari ini kita masih bisa panen. Ini merupakan bentuk rasa syukur kita bersama petani,” demikian disampaikan dalam kegiatan panen tersebut.

Produktivitas pertanian di Tolitoli tidak terlepas dari kedisiplinan petani dalam mengikuti jadwal tanam. Di tengah fenomena El Niño dan kondisi musim panas, sebagian petani tetap mampu melaksanakan kegiatan budidaya sesuai kalender yang telah ditetapkan.

Kepatuhan terhadap jadwal tanam menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan produksi. Petani yang mengikuti jadwal dan anjuran teknis cenderung memiliki peluang lebih baik untuk memperoleh hasil, sementara keterlambatan atau ketidaksesuaian waktu tanam dapat meningkatkan risiko kegagalan.

Karena itu, pengalaman Kelompok Tani Lapuase memberikan pelajaran bahwa ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan lahan dan teknologi, tetapi juga oleh kedisiplinan petani, pendampingan, koordinasi serta kemampuan membangun kemitraan.

Dalam konteks tersebut, Bulog menjadi salah satu mitra strategis petani. Hubungan antara petani dan Bulog diharapkan terus diperkuat sehingga hasil produksi dapat terserap melalui mekanisme yang sesuai ketentuan dan standar yang berlaku.

Menurut Rustan Rewa, kepatuhan terhadap standar tersebut dipandang penting agar tata kelola hasil pertanian berlangsung secara profesional.

Petani perlu memahami kualitas, harga, mekanisme penyerapan serta ketentuan yang menjadi dasar hubungan usaha dengan mitra.

“Kalau kita punya Al-Qur’an sebagai kitab suci, maka dalam pekerjaan juga ada standar dan SOP yang harus diikuti. Kita harus mengikuti aturan dan standar profesional,” demikian pesan yang disampaikannya kepada petani.

Perhatian pemerintah daerah terhadap petani juga disebut menjadi bagian penting dari keberlanjutan sektor pertanian Tolitoli. Dukungan pemerintah, menurut pandangan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, perlu terus berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas petani dan kemitraan usaha.

Bagi petani, bertani memang tidak mengenal hari libur. Sawah harus terus dirawat, musim harus dibaca, jadwal tanam harus diperhatikan dan hasil panen harus dikelola dengan baik. Karena itu, keberhasilan panen menjadi bentuk penghargaan terhadap kerja keras mereka sepanjang musim.

Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW turut memberikan nuansa tersendiri. Di sela-sela aktivitas panen, para petani diajak menjadikan rasa syukur sebagai bagian dari perjalanan usaha pertanian, sekaligus membangun semangat untuk terus bekerja dan memperbaiki hasil pada musim berikutnya.

Pesan yang muncul juga sederhana namun kuat: ketika memperoleh rezeki, hasilnya perlu dikelola secara bijak.

Bahkan disampaikan secara jenaka kepada para petani agar keberhasilan ekonomi tidak hanya dinikmati untuk kepentingan konsumtif, tetapi juga dapat diarahkan pada hal-hal yang lebih bermakna, termasuk menunaikan ibadah ke Tanah Suci.

“Kalau punya uang, jangan hanya berpikir untuk hal-hal yang tidak penting. Kalau ada rezeki, mudah-mudahan bisa naik ke Tanah Suci,” menjadi pesan ringan yang disampaikan dalam suasana penuh keakraban.

Kehadiran para petani dalam kegiatan panen juga memperlihatkan kuatnya jejaring sosial masyarakat Tolitoli. Semangat kebersamaan menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan pertanian, terutama ketika petani harus berhadapan dengan ketidakpastian iklim dan dinamika produksi.

Ke depan, pengalaman Kelompok Tani Lapuase diharapkan dapat menjadi bagian dari penguatan sektor pertanian Tolitoli. Konsistensi jadwal tanam, penerapan teknologi budidaya, peningkatan kualitas gabah, penguatan kelompok tani serta kemitraan dengan Bulog dapat menjadi fondasi penting bagi peningkatan produktivitas.

Panen di Lapuase pada akhirnya bukan sekadar kegiatan memanen gabah. Ia menjadi gambaran tentang ketekunan petani, pentingnya disiplin mengikuti kalender tanam, dukungan pemerintah daerah dan arti strategis kemitraan dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan.

Di tengah tantangan iklim, petani Tolitoli menunjukkan bahwa optimisme tetap dapat tumbuh dari sawah. Selama petani terus bekerja, pemerintah hadir memberi dukungan dan mitra usaha menjaga hubungan yang sehat, sektor pertanian memiliki ruang besar untuk terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Alumni mengabdi

Kontribusi alumni Unhas, menurut Rustan, dapat mengambil bentuk yang sangat praktis. Pengetahuan pertanian, pengalaman kelembagaan, kemampuan membangun komunikasi, serta jejaring profesional dapat digunakan untuk membantu petani memahami perubahan dan menemukan solusi atas persoalan yang mereka hadapi.

“Alumni itu tidak harus selalu hadir dengan program baru. Kadang yang lebih penting adalah membantu membuka akses, mempertemukan orang, memperkuat kapasitas, dan membuat pengetahuan menjadi berguna bagi masyarakat,” adalah semangat yang menggambarkan kontribusi tersebut.

Rustan menjadi salah satu contoh bagaimana perjalanan seorang alumni dapat kembali memberi manfaat bagi daerah. Setelah menempuh pendidikan dan menjalani karier di sektor pemerintahan, pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Perjalanan itu juga menunjukkan bahwa kapasitas manusia merupakan investasi yang tidak pernah selesai.

Ada optimisme yang tumbuh dari pengalaman tersebut. Jika kapasitas petani terus diperkuat, produksi pertanian dapat berkembang seiring dengan meningkatnya kualitas pengelolaan usaha.

Petani tidak hanya menjadi produsen, tetapi perlahan dapat tampil sebagai pelaku ekonomi yang memiliki kemampuan mengambil keputusan dan membangun jaringan pasar.

Bagi Tolitoli, pertanian dengan demikian bukan sekadar sektor produksi pangan. Ia adalah jalan pembangunan yang menghubungkan desa, keluarga, pengetahuan, teknologi, pasar, dan masa depan generasi muda.

Editor Denun