PELAKITA.ID – Sabtu pagi, 22 Agustus 2026, Jalan Gunung Bawakaraeng tidak hanya sekadar menjadi urat nadi kota Makassar. Sejak fajar menyingsing, aroma kopi dari kedai-kedai pinggir jalan berpadu dengan riuh rendah tawa yang memecah kesunyian.
Ribuan orang berseragam olahraga warna-warni—merepresentasikan identitas tiap angkatan—memadati titik nol memori mereka. Suara tabuhan Gandrang Bulo yang ritmis dan menghentak menyambut langkah-langkah kaki yang rindu akan masa putih abu-abu.
Perayaan AnniverSMAnSAry ke-76 bertajuk “Celebration of Togetherness” ini terasa berbeda; ia bukan sekadar reuni, melainkan sebuah pernyataan tentang ketahanan sebuah ikatan di tengah dunia yang makin terfragmentasi.
Melihat lautan manusia ini, kita diingatkan bahwa di balik hiruk-pikuk modernitas, ada kebutuhan mendalam manusia untuk kembali ke akar.
Mengapa semangat “Smansa” tetap menyala setelah tujuh dekade? Jawabannya tidak terletak pada kemegahan acaranya, melainkan pada bagaimana ribuan orang ini memilih untuk merayakan kebersamaan dengan cara yang bermakna bagi orang lain.


Sebuah Jembatan Waktu yang Menembus Zaman
Pemandangan paling puitis dalam fun walk kali ini adalah bentangan usia para pesertanya.
Terdata sekitar 3.000 alumni hadir, mencakup 30 angkatan berbeda, mulai dari lulusan tahun 1963 hingga calon lulusan tahun 2025. Ini adalah lintasan sejarah hidup yang luar biasa; sebuah jembatan waktu yang menghubungkan para perintis dengan generasi Z.
Loyalitas tanpa batas terlihat jelas pada para alumni senior. Beberapa di antaranya hadir dengan bantuan tongkat atau kursi roda, namun binar mata mereka tetap sama dengan puluhan tahun lalu saat mereka masih duduk di bangku kelas.
Seorang perwakilan dari Angkatan 67 berbagi cerita mengharukan. Dari total 300 rekan seangkatannya, kini hanya tersisa 15 orang yang bisa berkumpul secara fisik di Makassar, namun mereka tetap kompak hadir demi sebuah rasa memiliki.
Kehadiran lintas generasi ini membuktikan bahwa identitas “Smansa” telah bertransformasi menjadi sebuah warisan nilai (legacy).
Ia melampaui usia kronologis; ia adalah bahasa universal yang menyatukan mereka yang sudah mengenyam asam garam kehidupan selama 60 tahun dengan mereka yang baru akan memulai langkah di dunia profesional.

Lebih dari Sekadar Angka
Di bawah komando Azis selaku Ketua Panitia, perayaan tahun ini mengusung misi yang jauh lebih dalam daripada sekadar kumpul-kumpul.
Sejak Juli 2026, rangkaian aksi sosial telah digelar secara masif sebagai bukti bahwa alumni Smansa ingin memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitar. Mulai dari sunatan massal bagi 107 anak, hingga aksi donor darah yang digerakkan oleh Angkatan 89.
Tak ketinggalan, Angkatan 86 menunjukkan kepedulian langsung pada almamater dengan aksi bersih-bersih sekolah, perbaikan fasilitas toilet, hingga program perluasan Mushalla Darul Ulum di lingkungan sekolah agar siswa dapat beribadah dengan lebih nyaman.
“Anniversary bukan soal bertambahnya usia, tapi bagaimana menjaga persaudaraan dan berbagi manfaat.” — Azis, Ketua Panitia.
Mengapa ini penting? Pergeseran dari format “pesta” ke “aksi sosial” menunjukkan kedewasaan organisasi alumni.
Hal ini menandakan bahwa IKA Smansa Makassar telah bertransformasi menjadi entitas yang memiliki kesadaran sosial tinggi (social impact), memastikan bahwa kehadiran mereka dirasakan manfaatnya oleh warga di luar lingkaran internal alumni.

Dari Puncak Gunung hingga Aspal Kota
Kemeriahan ulang tahun ke-76 ini diwarnai dengan beragam aktivitas yang mencerminkan energi dan pluralitas minat para anggotanya.
Semangat ini dimulai bahkan sebelum acara puncak, saat komunitas Smansa Kalpataru berhasil menaklukkan puncak Gunung Rinjani tepat pada hari kemerdekaan 17 Agustus 2026.
Saat acara puncak fun walk, kreativitas alumni tumpah ruah di jalanan. Ada rombongan yang memamerkan motor hias, ada pula yang dengan bangga mengenakan pakaian adat sembari menari di sepanjang rute. Tak hanya itu, atmosfer kompetisi yang sehat juga dibangun melalui rangkaian turnamen olahraga.
Smansa Run yang diikuti oleh 2.500 pelari, memenuhi jalanan kota dengan energi yang luar biasa.
Turnamen Padel, Domino, hingga Mini Soccer yang menjadi ajang adu tangkas sekaligus sarana melepas rindu.
Keberagaman aktivitas ini menegaskan bahwa IKA Smansa adalah wadah inklusif yang mampu menaungi berbagai hobi dan gaya hidup, namun tetap dalam satu harmoni yang sama.


Penghormatan untuk Guru
Kehadiran tokoh-tokoh penting seperti Gubernur Kalimantan Utara Zainal Paliwang (Angkatan 82), mantan Wali Kota Makassar Danny Pomanto (Angkatan 81), serta Ketua Umum IKA Smansa Andi Ina Kartika Sari (Angkatan 93) memberikan pesan kuat tentang kerendahan hati.
Meski telah menduduki posisi strategis di tingkat nasional dan daerah, mereka tetap datang sebagai “murid” yang ingin berbakti.
Momen haru terasa saat Lisa Jusuf Kalla selaku Ketua Angkatan 86 secara simbolis menyerahkan bantuan kepada para guru aktif, guru purnabakti, hingga petugas keamanan sekolah.
Giubernur Zainal Paliwang pun secara khusus menekankan bahwa bimbingan para gurulah yang menjadi fondasi kesuksesannya saat ini.
Nilai “pattabe” atau rasa hormat yang mendalam kepada pendidik merupakan fondasi karakter yang dipegang teguh oleh alumni Smansa.
Ini menunjukkan bahwa setinggi apa pun seseorang melangit, mereka tidak akan pernah melupakan akar yang telah membentuk jati diri mereka.

Merajut Masa Depan secara “Phygital”
IKAsmansa Makassar memahami bahwa persaudaraan harus didukung oleh sistem yang modern agar tetap relevan bagi generasi mendatang.
Dalam momentum ini, diluncurkan website resmi ikasmansamks.id sebagai pusat aktivitas, transparansi, dan sarana donasi digital.
Namun, digitalisasi saja tidak cukup. Andi Ina Kartika Sari juga mengajak seluruh alumni untuk berpartisipasi dalam pembangunan Gedung Alumni yang membutuhkan dana sekitar Rp 800 juta.

Pembangunan ini diharapkan menjadi “rumah fisik” permanen tempat kolaborasi lintas generasi tercipta.
Langkah ini merupakan perpaduan cerdas antara strategi digital dan physical (phygital). Website memastikan konektivitas dan transparansi di era digital, sementara gedung fisik menjadi simbol kekuatan dan tempat bertemunya ide-ide segar bagi keberlanjutan organisasi di masa depan.
Perayaan HUT ke-76 SMANSA Makassar melalui “Celebration of Togetherness” memberikan pelajaran penting bahwa sebuah komunitas akan tetap hidup selama anggotanya mau saling memberi manfaat dan menghargai sejarah.
Langkah kaki di sepanjang Jalan Gunung Bawakaraeng mungkin telah berakhir, namun jejak kebaikan melalui aksi sosial dan visi pembangunan masa depan akan terus membekas.
___
Penulis Denun
Tamarunang, Gowa, 23 Agustus 2026









