Cengka, Gembili, atau Yakon? Menemukan Kembali Makna Pangan Lokal dari Sebuah Umbi Kampung

  • Whatsapp
Gembili merupakan tanaman umbi-umbian dari keluarga Dioscoreaceae yang tumbuh merambat. Umbinya berkulit tipis berwarna kecokelatan dengan daging berwarna putih.

PELAKITA.ID — Suatu sore, sebuah percakapan ringan di rumah membawa saya pada perjalanan kecil yang tak saya duga sebelumnya. Istri saya sedang mengingat sebuah jenis umbi yang pernah ia nikmati di kampung. Kulitnya mudah dikupas setelah direbus dan rasanya enak.

Setelah beberapa kali mencoba mengingat, ia menyebut satu nama yang terdengar akrab namun jarang saya dengar: cengka.

Rasa penasaran membuat saya segera membuka mesin pencari. Kata kunci “umbi cengka” membawa saya pada sejumlah informasi yang mengaitkannya dengan gembili atau Dioscorea esculenta, salah satu umbi lokal yang sejak lama dikenal masyarakat di berbagai daerah, termasuk Sulawesi Selatan.

Dari situlah pencarian sederhana tentang sebuah nama berubah menjadi penjelajahan yang lebih luas tentang kekayaan pangan Indonesia yang perlahan mulai terlupakan.

Gembili merupakan tanaman umbi-umbian dari keluarga Dioscoreaceae yang tumbuh merambat. Umbinya berkulit tipis berwarna kecokelatan dengan daging berwarna putih.

Setelah direbus atau dikukus, teksturnya empuk, pulen, dan sedikit manis.

Di balik bentuknya yang sederhana, gembili menyimpan potensi sebagai sumber pangan lokal yang kaya karbohidrat dan serat. Berbagai penelitian bahkan menunjukkan bahwa gembili dan beberapa umbi lokal lainnya memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari diversifikasi pangan nasional.

Perenungan tentang gembili membawa saya pada kenyataan yang lebih luas. Indonesia sesungguhnya dianugerahi kekayaan sumber pangan yang luar biasa.

Dari sagu di timur, jagung di berbagai wilayah Nusantara, hingga talas, garut, sukun, singkong, dan beragam umbi lokal lainnya. Sayangnya, sebagian besar pangan tersebut perlahan menghilang dari meja makan dan ingatan generasi muda. Banyak yang lebih mengenal produk pangan impor dibanding tanaman yang tumbuh di halaman atau kebun kampung sendiri.

Padahal pangan lokal bukan sekadar urusan mengenyangkan perut. Di dalamnya tersimpan pengetahuan panjang masyarakat tentang tanah, musim, teknik budidaya, pengolahan, hingga strategi bertahan hidup.

Nama-nama lokal seperti cengka, misalnya, bukan hanya penanda sebuah tanaman, tetapi juga bagian dari memori kolektif dan identitas budaya masyarakat yang mewariskannya dari generasi ke generasi.

Untuk memastikan apakah cengka yang dimaksud benar-benar gembili, istri saya kemudian memotret gambar umbi tersebut dan mengirimkannya kepada seorang sahabat di kampung. Kami menunggu jawaban. Namun yang datang bukanlah pesan singkat atau penjelasan panjang, melainkan sebuah kardus berisi umbi yang dikirim langsung dari kampung.

Saya tersenyum menerima kiriman itu. Teknologi telah membantu kami mencari nama dan informasi tentang tanaman tersebut, tetapi orang kampunglah yang menghadirkan bendanya secara nyata.

Ada pelajaran menarik di sana. Google memberikan data, sementara manusia memberikan konteks.

Mesin mengenali gambar, tetapi masyarakat mengenali makna. Di tengah kemajuan teknologi yang semakin pesat, kemampuan manusia untuk mengenali apa yang tumbuh di tanahnya sendiri justru menjadi sesuatu yang semakin berharga.

Dari pengalaman sederhana itu saya semakin percaya bahwa kedaulatan pangan tidak selalu dimulai dari proyek-proyek besar atau kebijakan megah.

Kadang-kadang ia lahir dari pertanyaan kecil di meja makan: “Ini umbi apa?” Pertanyaan itu kemudian membawa kita kepada petani, kampung, tradisi, keanekaragaman hayati, kesehatan, hingga kesadaran bahwa negeri ini sesungguhnya memiliki sumber pangan yang melimpah.

Namun cerita belum berakhir. Ketika kardus berisi umbi itu tiba di rumah, rasa penasaran kembali muncul. Saya memotretnya menggunakan Google Lens.

Hasilnya justru berbeda. Aplikasi tersebut mengenali umbi itu sebagai yakon (Smallanthus sonchifolius), tanaman asal Pegunungan Andes yang dikenal memiliki tekstur renyah, berair, dan rasa manis menyegarkan seperti perpaduan buah pir dan bengkoang. Berbeda dengan gembili yang lazim dikonsumsi setelah direbus, yakon bahkan dapat dimakan langsung dalam keadaan mentah.

Saat itu saya tidak lagi terlalu sibuk mencari jawaban pasti. Apakah yang saya nikmati sebenarnya gembili atau yakon? Saya belum benar-benar tahu. Namun di hadapan saya telah tersaji sepiring ubi rebus yang hangat, ditemani secangkir teh buatan istri. Kehangatan suasana itu membuat identitas umbi tersebut terasa tidak terlalu penting.

Yang paling berharga bukanlah nama ilmiah atau hasil pencarian digital tentang sebuah tanaman. Yang penting adalah nikmat yang hadir di meja makan, tangan yang menyiapkannya dengan kasih sayang, kebersamaan yang menyertainya, serta hati yang mampu mensyukuri semuanya.

Barangkali sudah waktunya kita kembali bertanya kepada orang tua, petani, dan masyarakat kampung tentang pangan-pangan yang dahulu mereka kenal, tetapi kini mulai terlupakan.

Sebab pangan masa depan Indonesia tidak selalu harus datang dari luar negeri atau lahir dari laboratorium modern.

Sebagiannya mungkin telah lama tumbuh diam-diam di tanah kita sendiri, menunggu untuk dikenali kembali, dihargai, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Menulis Makna, Membangun Peradaban.