“Ketika seseorang tidak lagi memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan, ia akan membanggakan etnisitasnya.”
— Arthur Schopenhauer
PELAKITA.ID – Saya berhenti cukup lama ketika membaca kutipan ini. Kalimatnya pendek, tetapi terasa tajam. Bahkan bagi sebagian orang mungkin terdengar sinis.
Sebagai seseorang yang lahir dan tumbuh di lingkungan masyarakat pesisir Sulawesi Selatan, yang akrab dengan identitas Makassar – di tepian Galesong nan namanya mahsyur itu – dan berbagai nilai budaya yang diwariskan turun-temurun, saya merasa perlu membaca kutipan ini lebih pelan, lebih hati-hati, dan lebih reflektif.
Pada pandangan pertama, seolah-olah Schopenhauer sedang meremehkan kebanggaan terhadap suku atau etnis.
Setelah direnungkan, saya justru melihat bahwa sasaran kritiknya bukanlah etnisitas itu sendiri.
Ia sedang berbicara tentang kecenderungan manusia untuk mencari sumber kebanggaan yang paling mudah, terutama ketika ia kehilangan alasan untuk bangga pada dirinya sendiri.
Etnis, bangsa, warna kulit, atau garis keturunan adalah sesuatu yang kita terima sejak lahir. Kita tidak memilihnya.
Karena itu, Schopenhauer mengajak kita bertanya: apakah kebanggaan kita dibangun dari sesuatu yang kita perjuangkan, atau hanya dari sesuatu yang kebetulan kita warisi?
Sebagai yang lahir dengan DNA ‘Mangkasara’, saya tentu bangga dengan warisan budaya yang kaya.
Saya bangga pada tradisi maritim yang melahirkan pelaut-pelaut tangguh, pada nilai siri’ na pacce yang mengajarkan harga diri dan solidaritas, serta pada sejarah panjang masyarakat pesisir yang mampu bertahan di tengah perubahan zaman.
Setelah membaca kutipan ini, saya juga bertanya kepada diri sendiri: apakah kebanggaan itu cukup?
Apakah saya hanya bangga karena lahir sebagai bagian dari sebuah kelompok, atau karena berusaha memberi makna bagi identitas tersebut melalui karya, pengabdian, dan kontribusi nyata?
Bagi saya, di situlah letak relevansi kutipan Schopenhauer. Identitas budaya memang penting. Ia memberi akar, arah, dan rasa memiliki. Tetapi identitas tidak boleh menjadi tempat persembunyian ketika kita gagal membangun kualitas diri.
Kebanggaan terhadap etnis akan menjadi indah ketika ia mendorong kita untuk bekerja lebih baik, belajar lebih banyak, dan berbuat lebih besar bagi sesama. Sebaliknya, ia bisa menjadi jebakan ketika hanya dipakai untuk merasa lebih unggul dari kelompok lain.
Di era media sosial saat ini, kita sering menyaksikan orang begitu mudah mengklaim kebesaran kelompoknya.
Ada yang membanggakan suku, daerah, bangsa, bahkan agama, tetapi lupa menunjukkan karya yang bisa memberi manfaat bagi masyarakat.
Seolah-olah identitas kolektif sudah cukup untuk menjadi alasan merasa penting.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa peradaban tidak dibangun oleh kebanggaan semata, melainkan oleh kerja keras, ilmu pengetahuan, kreativitas, dan keberanian untuk memberi solusi bagi persoalan zamannya.
Sebagai yang masih bisa menyempatkan menulis peristiwa, sebagai bagian dari proses pembangunan masyarakat, dan seseorang yang banyak berinteraksi dengan komunitas pesisir, saya justru melihat bahwa identitas terbaik bukanlah yang paling sering diteriakkan, melainkan yang paling banyak diwujudkan dalam tindakan.
Menjadi Makassar bukan sekadar soal mengingat sejarah nenek moyang pelaut yang hebat. Yang lebih penting adalah apakah kita masih mewarisi keberanian mereka untuk menjelajah, semangat mereka untuk belajar, dan kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan perubahan.
Karena itu, saya membaca kutipan Schopenhauer bukan sebagai serangan terhadap etnisitas, melainkan sebagai cermin.
Sebuah pengingat agar kita tidak berhenti pada kebanggaan yang diwariskan. Identitas adalah akar, tetapi karya adalah buahnya. Orang boleh bangga pada asal-usulnya, tetapi pada akhirnya dunia akan lebih mengingat apa yang kita lakukan daripada dari mana kita berasal.
Itulah pelajaran yang saya tangkap dari kutipan ini.
Kita boleh mencintai budaya dan menghormati warisan leluhur namun penghormatan terbaik kepada identitas bukanlah dengan terus-menerus membanggakannya, melainkan dengan menghadirkan nilai-nilai terbaiknya dalam kehidupan sehari-hari.
Saya percaya, kebanggaan yang paling kokoh bukanlah kebanggaan atas apa yang kita warisi, melainkan atas apa yang berhasil kita bangun dan tinggalkan bagi generasi setelah kita.
Tetaplah menjadi pemimpin, atau ASN yang peduli, malu jika mengambil hak orang lain, atau jadi petani yang terus semangat dan jauh dari angkara murka, atau jadi nelayan yang sabar, tidak merusak lautan dengan amarah karena hasil yang kurang.
Tetaplah menjadi pembela masyarakat rentan, tetap jadi pekerja LSM, media hingga pengusaha yang mengedepankan moralitas positif ketimbang banalitas yang menyeramkan.
__
Tamarunang, 22 Agustus 2026









