PELAKITA.ID – Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan laut terbesar di dunia. Namun, di balik potensi tersebut, ancaman terhadap kelestarian ekosistem laut masih terus terjadi.
Salah satu praktik yang paling merusak adalah penggunaan bom ikan atau destructive fishing, yaitu metode penangkapan ikan dengan memanfaatkan bahan peledak untuk menghasilkan tangkapan dalam jumlah besar dalam waktu singkat.
Bagi sebagian orang, bom ikan mungkin terlihat sebagai cara cepat untuk memperoleh hasil tangkapan. Namun, dampak yang ditimbulkannya jauh lebih besar dibandingkan manfaat sesaat yang diperoleh.
Dalam hitungan detik, satu ledakan dapat menghancurkan ekosistem laut yang membutuhkan puluhan tahun untuk terbentuk dan berkembang.
Terumbu karang menjadi korban utama dari praktik ini. Gelombang kejut yang dihasilkan ledakan mampu memecahkan struktur karang yang selama ratusan tahun tumbuh menjadi rumah bagi ribuan spesies laut. Karang yang semula kokoh berubah menjadi puing-puing pecahan atau rubble yang tidak lagi mampu mendukung kehidupan berbagai organisme laut.
Kerusakan tersebut tidak berhenti pada terumbu karang. Ledakan juga membunuh ikan tanpa pandang ukuran dan usia. Tidak hanya ikan dewasa yang menjadi sasaran, tetapi juga anakan ikan, telur, larva, hingga berbagai biota laut lainnya. Akibatnya, rantai makanan terganggu dan kemampuan ekosistem untuk memperbarui populasi ikan menjadi menurun drastis.
Para ahli memperkirakan bahwa terumbu karang yang hancur akibat bom ikan memerlukan waktu antara 30 hingga 50 tahun untuk pulih secara alami. Bahkan dalam banyak kasus, pemulihan tidak pernah berlangsung sempurna karena kondisi lingkungan yang terus berubah serta tekanan aktivitas manusia lainnya. Artinya, kerusakan yang terjadi dalam satu detik dapat meninggalkan dampak yang dirasakan oleh beberapa generasi.
Dampak ekonomi dari praktik bom ikan juga sangat besar. Pada awalnya nelayan mungkin memperoleh hasil tangkapan yang melimpah, tetapi dalam jangka panjang stok ikan akan terus berkurang karena habitatnya rusak.
Ketika terumbu karang hancur, banyak spesies ikan kehilangan tempat mencari makan, berlindung, dan berkembang biak. Akibatnya, hasil tangkapan nelayan tradisional semakin menurun dari tahun ke tahun.
Kerusakan ekosistem laut juga berdampak pada sektor pariwisata bahari. Kawasan yang sebelumnya menjadi tujuan penyelam dan wisatawan kehilangan daya tariknya ketika terumbu karang berubah menjadi hamparan puing. Pendapatan masyarakat pesisir yang bergantung pada wisata laut pun ikut terancam.
Selain merugikan lingkungan dan ekonomi, penggunaan bom ikan merupakan tindakan yang melanggar hukum. Pemerintah Indonesia telah menetapkan larangan tegas terhadap penggunaan bahan peledak dalam kegiatan penangkapan ikan.
Pelaku dapat dikenakan sanksi pidana berupa hukuman penjara hingga lima tahun dan denda maksimal Rp2 miliar. Ketentuan ini menunjukkan bahwa negara memandang praktik destructive fishing sebagai kejahatan serius terhadap sumber daya alam dan masa depan bangsa.
Karena itu, upaya memberantas bom ikan tidak dapat hanya mengandalkan penegakan hukum. Diperlukan kesadaran bersama bahwa laut adalah sumber kehidupan yang harus dijaga.
Nelayan, pemerintah, akademisi, komunitas pesisir, dan masyarakat luas memiliki peran penting dalam memastikan pemanfaatan sumber daya laut dilakukan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Laut yang sehat akan menghasilkan ikan yang melimpah, mendukung kesejahteraan nelayan, serta menjaga ketahanan pangan nasional. Sebaliknya, laut yang rusak akan meninggalkan kerugian yang jauh lebih besar daripada keuntungan sesaat yang diperoleh dari praktik penangkapan yang merusak.
Satu detik ledakan mungkin menghasilkan tangkapan yang banyak. Namun, harga yang harus dibayar adalah puluhan tahun hilangnya kehidupan di bawah laut.
Karena itu, menjaga laut dari praktik bom ikan bukan sekadar kewajiban hukum, melainkan investasi untuk masa depan Indonesia sebagai negara maritim yang kuat dan berkelanjutan.
Laut Sehat, Nelayan Sejahtera, Indonesia Maju.









