PELAKITA.ID – RUTENG, NTT — Tim tanggap bencana Universitas Hasanuddin (Unhas) tiba di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 19 Agustus 2026 untuk melakukan pemantauan dan asesmen lapangan terhadap kondisi masyarakat serta infrastruktur di wilayah terdampak gempa.
Ilham Alimuddin, Kepala Pusat Kebencanaan Unhas yang turut berada di lapangan, melaporkan bahwa kondisi masyarakat masih diwarnai kewaspadaan tinggi menyusul guncangan-guncangan susulan yang masih dirasakan.
“Situation on the housing condition, we are still experiencing big aftershakes,” kata Ilham dalam laporan lapangannya.
Menurut Ilham, guncangan susulan menjadi salah satu persoalan utama karena masyarakat masih khawatir kembali ke dalam rumah, terutama bangunan yang sebelumnya telah mengalami keretakan atau kerusakan struktural.
Kerusakan Bangunan Terlihat di Sejumlah Lokasi
Hasil pengamatan awal tim Unhas menunjukkan adanya kerusakan pada sejumlah bangunan permukiman dan fasilitas umum. Beberapa bangunan mengalami retakan pada dinding, kerusakan elemen struktur, hingga pergeseran bagian bangunan.
Bangunan bertingkat dan konstruksi pasangan bata juga terlihat mengalami tekanan struktural. Pada sejumlah lokasi, kerusakan tampak pada bagian dinding penahan beban, kolom serta elemen bangunan lainnya.
Tim juga menemukan kerusakan pada bangunan fasilitas masyarakat dan tempat ibadah. Retakan pada dinding dan bagian struktur menjadi perhatian karena bangunan tersebut masih berpotensi membahayakan apabila kembali digunakan sebelum dilakukan pemeriksaan teknis.
Di kawasan permukiman, kerusakan rumah warga terlihat dalam berbagai tingkat. Sebagian mengalami retakan ringan hingga sedang, sementara bangunan lainnya menunjukkan kerusakan yang lebih serius sehingga membutuhkan asesmen lebih lanjut sebelum dinyatakan aman untuk ditempati.
Warga Masih Bertahan di Luar Rumah
Guncangan susulan membuat sebagian warga memilih berada di luar rumah atau menggunakan tempat perlindungan sementara. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri karena kebutuhan terhadap tenda, terpal, alas tidur dan perlengkapan dasar meningkat.
Menurut laporan lapangan Ilham, aspek keselamatan bangunan menjadi kebutuhan mendesak. Pemeriksaan visual awal perlu dilanjutkan dengan asesmen teknis untuk menentukan bangunan mana yang masih dapat ditempati dan mana yang harus dikosongkan.
Situasi tersebut juga menunjukkan pentingnya pemantauan berkelanjutan. Setelah gempa utama, kerusakan pada bangunan yang telah melemah dapat bertambah akibat guncangan berikutnya.
Unhas Perkuat Asesmen dan Respons Lapangan
Kehadiran tim Unhas di NTT diarahkan tidak hanya untuk melihat dampak fisik gempa, tetapi juga memahami kebutuhan masyarakat di lokasi terdampak.
Tim melakukan pemantauan kondisi permukiman, mengidentifikasi kerusakan, serta mengumpulkan informasi mengenai kebutuhan warga. Data lapangan tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung koordinasi penanganan bencana bersama pemerintah daerah dan lembaga kebencanaan setempat.
Ilham menekankan pentingnya kehati-hatian masyarakat dalam menghadapi kondisi pascagempa, terutama dengan masih berlangsungnya guncangan susulan.
Dalam situasi seperti ini, masyarakat dianjurkan tidak terburu-buru kembali ke bangunan yang mengalami kerusakan sebelum ada kepastian mengenai keamanan strukturnya.
Kebutuhan Mendesak
Selain asesmen bangunan, kebutuhan mendesak di lapangan mencakup tempat berlindung sementara, perlengkapan tidur, air bersih serta dukungan logistik bagi warga yang harus meninggalkan rumahnya.
Tim Unhas juga melihat perlunya komunikasi lapangan yang kuat agar informasi mengenai kondisi wilayah, kebutuhan warga dan perkembangan situasi dapat diteruskan secara cepat kepada pihak-pihak yang menangani respons darurat.
Bagi Ilham dan tim Unhas, laporan dari lapangan menjadi penting untuk memastikan bahwa respons bencana tidak berhenti pada pencatatan kerusakan, tetapi bergerak menuju pemetaan kebutuhan dan keselamatan warga.
Dengan aktivitas gempa susulan yang masih dirasakan, pemantauan kondisi bangunan dan masyarakat di wilayah terdampak tetap menjadi prioritas. Tim Unhas melanjutkan asesmen lapangan sambil berkoordinasi dengan pemangku kepentingan setempat untuk mendukung penanganan keadaan darurat di NTT.









