PELAKITA.ID – “Hari ini kita hadir bukan sekadar untuk mengenang seseorang yang telah berpulang. Haul adalah momentum untuk membuka kembali lembaran kehidupan almarhum, mengambil hikmah dari perjuangannya, dan meneruskan nilai-nilai baik yang pernah beliau tanamkan,” demikian disampaikan Prof. Dr. Suriyaman Mustari Pide, SH, MH, pada Kamis malam, 13 Agustus 2026.
Bangsawan Bugis
Malam itu, merupakan Haul ke-8 Almarhum Prof. Dr. H. Andi Mustari Pide, SH, MH bin Andi Hafied Mattoreang, yang semasa hidupnya dikenal sebagai pakar hukum, cendekiawan, dan budayawan.
Pendiri dan Rektor Universitas Ekasakti (Unes), Padang, itu merupakan bangsawan Bugis, keturunan La Patau Matanna Tikka. Dalam perjalanan interaksinya dengan beragam kebudayaan, Andi Mustari Pide, disematkan mahkota tobatak sebagai Mangaraja Toangku Molasontang Manupuk Siregar, di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, tahun 1992.
Setahun kemudian, atau tepatnya pada tahun 1993, Sumando suami dari Dr Erawaty Toelis, juga dinobatkan sebagai Datuak Rajo nan Sati dari kaum adat Kurai Limo Jorong, Bukit Tinggi, Sumatra Barat.
Haul yang digelar di Baruga La Wira Pulana, Rumah Adat Sao Mario, Batu-Batu, Kabupaten Soppeng itu, bertema: Meneladani Jejak Langkah Almarhum: Mengakar pada Kearifan, Berkibar dengan Ilmu Pengetahuan.
Sebelumnya, pada sore hari, Prof Rury, begitu Guru Besar Fakultas Hukum Unhas ini akrab disapa, berziarah ke makam ayahandanya. Makam berada di kawasan Sao Mario, yang merupakan peristirahatan terakhir Andi Mustari Pide.
Penerus Karya dan Karsa
Prof Andi Suriyaman Mustari Pide, dalam sambutan mengenang sosok ayahandanya, mengatakan bahwa ia bukan hanya anak, tetapi sekaligus merupakan orang yang diberi amanah untuk meneruskan segala karya dan karsa yang telah almarhum dirikan semasa hidupnya.
Diungkapkan, pada hakikatnya, keberadaan dirinya bukan untuk menggantikan posisi almarhum. Sebab, diakui bahwa tidak ada seorang anak pun yang benar-benar dapat menggantikan ayahnya.
Namun, kata Prof Rury, yang dapat dia lakukan adalah meneruskan tongkat estafet yang almarhum titipkan, menjaga agar cita-cita yang ditanamkan tidak berhenti bersama kepergiannya. Juga untuk memastikan bahwa apa yang beliau bangun tetap menjadi jalan pengabdian bagi generasi yang akan datang.
“Saya sadar dan yakin bahwa sesungguhnya seseorang tidak pernah benar-benar pergi selama nilai-nilai kebaikan yang ia tanamkan masih hidup dalam diri orang-orang yang ditinggalkannya,” terang perempuan kelahiran Batu-Batu, 27 Juli 1969 itu.
Haul ke-8 ini merupakan momen penting bagi keluarga besar Prof Rury. Suaminya, A. Riza Wawo, dan anaknya, A. Wirahman R. Wawo, hadir mengikuti acara dengan takzim.
Bagi Prof Rury, peninggalan terbesar almarhum bukanlah sebatas Gedung Perguruan Tinggi yang beliau dirikan. Bukan pula cagar budaya yang hari ini bisa kita saksikan dan nikmati di kampung halamannya, Batu-Batu.
Namun, jelas Prof Rury, warisan terbesar almarhum, yakni keyakinan bahwa kearifan merupakan pondasi mendasar bagi martabat manusia dan ilmu adalah amal yang manfaatnya dapat melampaui usia seseorang.
Maka, lanjutnya, meneruskan perjuangan almarhum bukan berarti mempertahankan semuanya persis seperti dahulu.
Meneruskan perjuangan berarti menjaga nilai yang beliau tanamkan, sambil berani membawanya menjawab zaman yang terus berubah.

Kampung Budaya Wanua Ade’
Prof Rury kemudian memperkenalkan salah satu konsep yang diberi nama Kampung Budaya Wanua Ade’, yang diharapkan bakal jadi sebuah ekosistem berkesinambungan dan berkelanjutan dalam menjawab tantangan zaman, dengan tetap mengakar pada nilai kearifan dan kebudayaan.
“Di sinilah makna tema kita, Meneladani Jejak Langkah Almarhum: Mengakar pada Kearifan, Berkibar dengan Ilmu Pengetahuan,” imbuh pakar hukum adat tersebut.
Alumni angkatan 1987 Fakultas Hukum Unhas itu lantas memaparkan bahwa mengakar berarti kita tidak boleh kehilangan jati diri. Kita harus tetap berpijak pada nilai-nilai yang menjadi dasar perjuangan almarhum: kejujuran, pengabdian, kesederhanaan, kepedulian, penghormatan kepada ilmu, dan keberpihakan kepada pendidikan
Di sisi lain, kata dia, almarhum semasa hidupnya juga mengingatkan kita akan pentingnya ilmu pengetahuan. Ungkapan “berkibar dengan ilmu pengetahuan” mengandung cita-cita agar generasi yang ditinggalkan mampu tumbuh, maju, dan memberikan manfaat melalui ilmu.
Oleh karena itu, akar dan sayap harus berjalan bersama.
“Sebagai anak almarhum, saya menyadari bahwa menerima tongkat estafet ini bukanlah sebuah kehormatan semata. Ini adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan,” imbuh Prof. Rury.
Karena itu, katanya, dia tidak ingin sekadar meneruskan apa yang almarhum bangun hanya bermodalkan nama besar Prof. Dr. H. Andi Mustari Pide, SH, MH.
Namun, dia ingin meneruskannya dengan nilai-nilai yang almarhum tanamkan. Sebab nama dapat dikenang oleh waktu, tetapi nilai yang diamalkan akan terus hidup melalui generasi.
Katanya, ada satu hal yang semakin saya pahami setelah almarhum berpulang. Ketika orang tua masih hidup, kata dia, kita merasa memiliki tempat untuk bertanya.
Namun ketika orang tua telah tiada, maka kita menyadari bahwa banyak pertanyaan harus kita jawab sendiri dengan nilai-nilai yang dahulu almarhum tanamkan.
Kalimat-kalimat reflektif lantas dikemukakan oleh penggiat kebudayaan tersebut.
Katanya, setiap kali kita menghadapi persoalan, yang bisa kita lakukan, adalah bertanya dalam hati, apakah keputusan ini menjaga amanah yang almarhum titipkan? Apakah langkah ini memperbesar manfaat bagi sekitar?
Dilanjutkan, yang paling penting, kata dia, apakah keputusan ini kelak dapat kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT?
“Barangkali itulah cara terbaik untuk tetap berdialog dengan seorang ayah yang telah mendahului kita. Bukan dengan menghadirkan kembali masa lalu, tetapi dengan menghadirkan nilai-nilainya dalam setiap keputusan kita hari ini,” tandasnya.

Prof Rury kemudian mengajukan pertanyaan, seandainya, suatu hari nanti generasi setelah kita bertanya, “Apa yang kalian lakukan setelah pendiri berpulang?”
“Semoga saya dapat menjawab bahwa saya tidak membiarkan perjuangannya berhenti. Saya merawatnya, melestraikannya, mengembangkannya, dan mewariskannya dalam bentuk yang lebih baik kepada generasi berikutnya,” katanya dengan suara bergetar, menahan haru.
Prof Suriyaman Mustari Pide berharap, semoga ikhtiarnya itu menjadi bentuk bakti terbaik seorang anak kepada orang tuanya. Bukan sekadar memasang nama beliau di sebuah tempat. Namun membuat cita-cita almarhum ayahnya, Andi Mustari Pide, terus hidup melalui karya dan pengabdian.
Haul ke-8 ini dihadiri berbagai kalangan, antara lain Kapolsek Mario Riwawo dan Danramil Marioriwawo. Juga ibu-ibu dari majelis taklim, teman-teman SMP Prof Rury, dan teman kuliah angkatan 87 Fakultas Hukum Unhas.
Doa dan lantunan ayat suci Al-Qur’an mewarnai sepanjang acara haul. Pembacaan ayat suci Al-Qur’an, di awal acara, oleh Dra Wahidah, dan pembacaan surah Yasin oleh Hj.Samsu Duha, S.Sos. Sementara ceramah agama dan doa oleh dibawakan oleh Dr. HM Sabir, S, Ag, M.Sos.I.
Keesokan harinya, datang pula sekira 500 murid-murid spiritual Andi Mustari Pide ke makamnya, untuk berziarah dan memanjatkan doa kepada almarhum. Mereka datang menumpangi bus dan berbagai jenis kendaraan pribadi. (*)









