PELAKITA.ID – PAREPARE — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Gelombang 116 Universitas Hasanuddin melaksanakan program kerja bertajuk “Ubah Cara Pandang, Ubah Kebiasaan: Edukasi Risiko dan Nilai Ekonomi Sampah” di Kelurahan Bukit Indah, Kecamatan Soreang, Kota Parepare, pada Agustus 2026.
Program ini menjadi bagian dari KKN Tematik Perubahan Iklim yang mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah melalui pendekatan ilmu aktuaria.
Program tersebut mengajak masyarakat melihat sampah bukan semata sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai sumber risiko finansial sekaligus peluang ekonomi. Melalui pemanfaatan data lapangan, mahasiswa mengedukasi warga mengenai potensi kerugian akibat sampah yang tidak dikelola, terutama biaya kesehatan, serta nilai ekonomi yang dapat diperoleh dari sampah apabila dipilah dan disalurkan melalui sistem pengelolaan yang tepat.
Pelaksanaan program dilakukan melalui dua pendekatan, yakni sosialisasi pada peresmian Bank Sampah Kelurahan Bukit Indah di Kantor Lurah dan kunjungan door to door ke 20 rumah tangga yang tersebar di sejumlah RT.
Pendekatan langsung tersebut memungkinkan mahasiswa memperoleh gambaran mengenai kebiasaan warga dalam mengelola sampah sekaligus mengidentifikasi hambatan yang dihadapi masyarakat dalam menerapkan pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga.
Untuk mengukur perubahan pengetahuan dan niat perilaku warga, mahasiswa menggunakan instrumen pre-test dan post-test sebelum dan sesudah sosialisasi.
Hasil pre-test menunjukkan bahwa 70 persen warga belum pernah memilah sampah, 85 persen belum mengetahui cara memanfaatkan nilai jual sampah plastik, sementara 70 persen mengaku pernah mengalami penyakit yang berkaitan dengan kondisi lingkungan kotor, seperti demam berdarah dengue (DBD), diare, dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Temuan tersebut kemudian diterjemahkan melalui pendekatan aktuaria ke dalam angka finansial yang lebih mudah dipahami masyarakat. Berdasarkan perhitungan mahasiswa, rata-rata kerugian finansial akibat penyakit yang berkaitan dengan lingkungan dan sampah mencapai sekitar Rp246.400 per keluarga per tahun.
Pada saat yang sama, sampah plastik yang selama ini dibuang atau dibakar ternyata memiliki nilai jual berdasarkan harga nyata di TPS3R Bank Sampah Lakessi, Parepare, mulai dari Rp1.500 per kilogram untuk plastik campur hingga Rp4.000 per kilogram untuk botol PET bening.
“Selama ini warga tahu sampah itu buruk, tetapi jarang yang menyadari berapa kerugian finansialnya secara nyata. Melalui pendekatan aktuaria, saya mencoba menunjukkan angkanya, mulai dari estimasi biaya berobat akibat penyakit yang berkaitan dengan sampah hingga potensi penghasilan jika sampah dipilah dengan benar,” ujar Ahmad Fauzan Awaluddin, mahasiswa Program Studi Ilmu Aktuaria Universitas Hasanuddin sekaligus penanggung jawab program kerja.
Menurut Ahmad Fauzan, pendekatan tersebut diharapkan dapat memperluas alasan masyarakat untuk mengelola sampah.
Kepedulian terhadap lingkungan, kata dia, tidak hanya perlu dibangun melalui pesan ekologis, tetapi juga melalui pemahaman bahwa kebiasaan mengelola sampah dapat membantu mencegah pengeluaran rumah tangga sekaligus menciptakan peluang pendapatan.
Respons warga terhadap program tersebut terbilang positif. Hasil post-test menunjukkan bahwa 100 persen warga yang dikunjungi menilai sosialisasi sangat bermanfaat, 85 persen menyatakan sangat termotivasi setelah mengetahui nilai ekonomi sampah, dan 100 persen mengalami peningkatan kesadaran mengenai risiko finansial akibat sampah yang tidak dikelola.
Perhitungan aktuaria juga menunjukkan bahwa potensi manfaat finansial gabungan berupa penghematan biaya pengobatan dan pendapatan dari pemilahan sampah dari 20 keluarga yang menjadi sampel dapat mencapai sekitar Rp5,6 juta per tahun. Angka tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga memiliki potensi manfaat ekonomi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Namun, hasil kunjungan lapangan juga menemukan bahwa persoalan tidak berhenti pada pengetahuan dan motivasi. Salah satu kendala utama warga untuk menyetorkan sampah adalah jarak menuju kantor lurah sebagai lokasi Bank Sampah Kelurahan Bukit Indah. Temuan ini kemudian menjadi dasar rekomendasi mahasiswa kepada pihak kelurahan agar bank sampah dapat berfungsi sebagai titik penukaran yang lebih aktif dan terhubung langsung dengan TPS3R Lakessi.
“Sosialisasi yang disampaikan mahasiswa KKN ini sangat bermanfaat bagi warga kami. Dengan mengetahui bahwa sampah bisa menghasilkan uang dan bahwa sampah yang tidak dikelola dapat menimbulkan kerugian finansial, kami berharap warga semakin termotivasi untuk berpartisipasi aktif di Bank Sampah Kelurahan Bukit Indah yang telah kami resmikan bersama,” ungkap salah seorang warga Kelurahan Bukit Indah.
Program “Ubah Cara Pandang, Ubah Kebiasaan” pada akhirnya tidak hanya menempatkan sampah sebagai persoalan kebersihan, tetapi juga sebagai bagian dari pengelolaan risiko ekonomi rumah tangga. Pendekatan aktuaria yang digunakan mahasiswa memberikan perspektif baru bahwa keputusan sederhana seperti memilah, menyimpan, dan menyetorkan sampah dapat memiliki konsekuensi finansial yang terukur.
Selain mendukung keberlangsungan Bank Sampah Kelurahan Bukit Indah, program ini juga diarahkan untuk memperkuat upaya mitigasi perubahan iklim di tingkat rumah tangga. Pengurangan kebiasaan membakar sampah menjadi salah satu sasaran penting karena praktik tersebut berkontribusi terhadap emisi dan pencemaran udara.
Mahasiswa KKN Tematik Gelombang 116 Universitas Hasanuddin berharap perubahan pengetahuan dan kebiasaan yang mulai terbentuk selama pelaksanaan KKN dapat terus berkembang setelah program berakhir. Dengan dukungan kelurahan, bank sampah, dan partisipasi warga, pengelolaan sampah diharapkan tidak berhenti sebagai program KKN, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan kolektif yang memberikan manfaat lingkungan sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat Kelurahan Bukit Indah.
___
Editor: Aisya Sofianita Kamaruddin









