Mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Unhas Gelar Program Mario Smile untuk Tingkatkan Pengetahuan dan Keterampilan Menyikat Gigi Siswa SD di Desa Mario

  • Whatsapp
Program Mario Smile merupakan inisiatif Cyndi Insani Simangunsong, mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin angkatan 2023. Melalui program ini, Cyndi mengimplementasikan edukasi kesehatan gigi sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat selama pelaksanaan KKN Profesi Kesehatan Angkatan 69.

PELAKITA.ID – SIDENRENG RAPPANG – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Profesi Kesehatan Angkatan 69 Universitas Hasanuddin (Unhas) Posko Desa Mario melaksanakan program kerja individu bertajuk “Mario Smile: Edukasi Kesehatan Gigi dan Mulut serta Sikat Gigi Bersama pada Anak” di SDN 2 Rijang Panua dan SDN 3 Rijang Panua, Desa Mario, Kecamatan Kulo, Kabupaten Sidenreng Rappang.

Kegiatan dilaksanakan pada 18 Juli 2026 di SDN 2 Rijang Panua dan 20 Juli 2026 di SDN 3 Rijang Panua sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kesadaran siswa sekolah dasar dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut sejak usia dini.

Program ini diikuti oleh 39 siswa kelas V, yang terdiri atas 18 siswa dari SDN 2 Rijang Panua dan 21 siswa dari SDN 3 Rijang Panua. Kegiatan turut mendapat dukungan dari kepala sekolah, guru, serta mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Unhas.

Keterlibatan pihak sekolah mencerminkan komitmen bersama dalam membangun perilaku hidup bersih dan sehat melalui pendidikan kesehatan di lingkungan sekolah.

Program Mario Smile merupakan inisiatif Cyndi Insani Simangunsong, mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin angkatan 2023. Melalui program ini, Cyndi mengimplementasikan edukasi kesehatan gigi sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat selama pelaksanaan KKN Profesi Kesehatan Angkatan 69.

Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting dari kesehatan secara menyeluruh karena berpengaruh terhadap kualitas hidup, pertumbuhan, dan perkembangan anak.

Anak usia sekolah dasar termasuk kelompok yang rentan mengalami karies gigi dan berbagai gangguan kesehatan mulut yang dapat menimbulkan rasa nyeri, mengganggu pola makan dan tidur, hingga menurunkan konsentrasi belajar.

Berdasarkan data World Health Organization (WHO), penyakit gigi dan mulut masih menjadi salah satu penyakit tidak menular dengan prevalensi tertinggi di dunia. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan upaya promotif dan preventif melalui pendidikan kesehatan sejak usia dini, terutama di lingkungan sekolah.

Sebelum pelaksanaan kegiatan, mahasiswa melakukan koordinasi dengan pihak sekolah serta menyiapkan berbagai media pembelajaran, seperti materi presentasi, phantom gigi, alat peraga, sikat gigi, pasta gigi, serta instrumen evaluasi berupa pre-test dan post-test. Kegiatan diawali dengan pre-test untuk mengukur tingkat pengetahuan awal siswa mengenai kesehatan gigi dan mulut.

Materi edukasi yang diberikan mencakup fungsi gigi dan mulut, pentingnya menjaga kebersihan gigi, penyebab gigi berlubang, jenis makanan dan minuman yang baik bagi kesehatan gigi, serta waktu yang tepat untuk menyikat gigi. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif melalui presentasi dan demonstrasi teknik menyikat gigi menggunakan phantom gigi.

Setelah sesi penyampaian materi, seluruh peserta mengikuti praktik menyikat gigi bersama menggunakan sikat dan pasta gigi yang telah disediakan.

Mahasiswa kemudian melakukan evaluasi terhadap teknik menyikat gigi yang dipraktikkan siswa untuk memastikan setiap tahapan dilakukan dengan benar. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, pelaksanaan post-test, pemberian apresiasi kepada peserta yang aktif, dokumentasi bersama, penyampaian kesimpulan, dan penutupan.

Sepanjang kegiatan berlangsung, para siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi. Mereka aktif menjawab pertanyaan, mengikuti diskusi, serta mempraktikkan teknik menyikat gigi sesuai arahan pemateri.

Pendekatan edukasi yang dipadukan dengan praktik langsung membantu siswa memahami cara menyikat gigi yang benar sekaligus meningkatkan kesadaran mereka untuk menerapkan kebiasaan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Program Mario Smile juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 3 (Good Health and Well-being) melalui peningkatan kesehatan gigi dan mulut anak melalui pendekatan promotif dan preventif.

Selain itu, kegiatan ini berkontribusi pada Tujuan 4 (Quality Education) dengan menghadirkan edukasi kesehatan yang mendorong terbentuknya pengetahuan, sikap, dan perilaku hidup sehat pada siswa sekolah dasar.

Melalui program ini diharapkan siswa terbiasa menyikat gigi dengan teknik yang benar sedikitnya dua kali sehari sehingga dapat menurunkan risiko karies, penyakit gusi, dan berbagai gangguan kesehatan gigi lainnya.

Mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Angkatan 69 Universitas Hasanuddin juga berharap kegiatan ini menjadi langkah awal dalam menumbuhkan kesadaran pentingnya menjaga kesehatan gigi sejak dini serta mendorong keterlibatan guru dan orang tua dalam membimbing anak menerapkan kebiasaan hidup sehat secara berkelanjutan.

Dengan demikian, manfaat Program Mario Smile tidak hanya dirasakan selama pelaksanaan kegiatan, tetapi juga diharapkan memberikan dampak jangka panjang terhadap peningkatan kualitas kesehatan anak-anak di Desa Mario.