Lahir pada 4 November 1966, William menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Sipil Universitas Hasanuddin sebelum melanjutkan studi Master of Engineering Science di University of New South Wales, Australia, dan meraih gelar Ph.D. di bidang Geografi dari University of Canterbury, Selandia Baru. Perjalanan akademiknya menjadi fondasi kuat bagi kiprahnya yang kemudian melintasi berbagai sektor strategis.
Alumni yang Membawa Semangat Transformasi, Kepemimpinan Global, dan Kolaborasi untuk Masa Depan Indonesia
PELAKITA.ID – MAKASSAR – Di tengah tantangan Indonesia menghadapi perubahan iklim, urbanisasi, transformasi energi, hingga kebutuhan akan kepemimpinan yang kolaboratif, nama Dr. William P. Sabandar, M.Eng.Sc. hadir sebagai salah satu figur alumni Universitas Hasanuddin yang menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya melahirkan profesional, tetapi juga pemimpin perubahan.
Dia dipercaya sebagai salah satu anggota Tim Penasihat PT Hadin Metavisi Akademika, holding bisnis milik Universitas Hasanuddin.
Bagi keluarga besar Himpunan Alumni Teknik Sipil (HADIN) Universitas Hasanuddin, William Sabandar bukan sekadar lulusan Teknik Sipil. Ia merupakan representasi bagaimana seorang alumni mampu menjembatani ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dunia usaha, dan kepemimpinan global dalam satu perjalanan karier yang konsisten berpihak pada kemajuan bangsa.
Lahir pada 4 November 1966, William menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Sipil Universitas Hasanuddin sebelum melanjutkan studi Master of Engineering Science di University of New South Wales, Australia, dan meraih gelar Ph.D. di bidang Geografi dari University of Canterbury, Selandia Baru. Perjalanan akademiknya menjadi fondasi kuat bagi kiprahnya yang kemudian melintasi berbagai sektor strategis.
Kariernya dimulai sebagai insinyur di Kementerian Pekerjaan Umum. Namun perjalanan William berkembang jauh melampaui perencanaan jalan dan infrastruktur.
Setelah kembali ke Indonesia usai menyelesaikan pendidikan doktoralnya, ia dipercaya memimpin rekonstruksi Kepulauan Nias pasca tsunami Aceh 2004 melalui Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh–Nias. Di sana, kepemimpinannya diuji bukan hanya dalam membangun kembali jalan dan jembatan, tetapi juga memulihkan harapan masyarakat yang kehilangan hampir segalanya akibat bencana.
Kepercayaan internasional kemudian datang ketika ASEAN menunjuk William sebagai Utusan Khusus Sekretaris Jenderal ASEAN sekaligus Kepala Operasi Rekonstruksi Topan Nargis di Myanmar. Penugasan tersebut menjadi tonggak penting karena berhasil membuka mekanisme baru keterlibatan ASEAN dalam penanganan bencana kemanusiaan di kawasan Asia Tenggara. Di tengah situasi politik yang kompleks, ia menunjukkan bahwa diplomasi, kolaborasi, dan kepemimpinan yang inklusif dapat menjadi jalan keluar bagi krisis kemanusiaan.
Rekam jejaknya kemudian berlanjut di berbagai lembaga strategis nasional. Ia pernah menjadi pejabat senior di Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), memimpin operasional Badan REDD+, serta menjadi Kepala Satuan Tugas Percepatan Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Seluruh pengalaman tersebut memperlihatkan satu benang merah: kemampuan mengelola perubahan pada sektor-sektor yang menentukan masa depan Indonesia.
Publik mengenal William Sabandar secara luas ketika dipercaya menjadi Direktur Utama PT MRT Jakarta pada 2016. Di bawah kepemimpinannya, Indonesia berhasil menghadirkan sistem Mass Rapid Transit (MRT) pertama yang modern, tepat waktu, dan menjadi simbol transformasi transportasi perkotaan.
Lebih dari sekadar membangun rel kereta, William mendorong lahirnya paradigma baru pembangunan kota melalui konsep Transit Oriented Development (TOD), integrasi moda transportasi, serta perubahan budaya mobilitas masyarakat.
Keberhasilan MRT Jakarta membuktikan bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya soal beton dan baja, melainkan juga membangun kepercayaan publik, budaya pelayanan, dan tata kelola yang profesional. Bahkan di tengah pandemi COVID-19, MRT Jakarta tetap mampu menjaga kualitas layanan sekaligus mengembangkan berbagai inovasi bisnis yang menjadikan perusahaan tetap adaptif.
Kini William Sabandar mengemban amanah sebagai Chief Operating Officer Indonesian Business Council (IBC), organisasi independen yang mempertemukan para pemimpin dunia usaha untuk memperkuat daya saing Indonesia melalui riset kebijakan dan kemitraan publik-swasta. Ia juga memimpin ITS Indonesia, menjadi Ketua Gerakan Global 5P (Peace, Prosperity, People, Planet, Partnership) di Indonesia, serta menjadi Dewan Pembina World Resources Institute (WRI) Indonesia dan Indonesia Climate and Growth Dialogue (ICGD). Peran-peran tersebut memperlihatkan orientasi kepemimpinannya yang semakin luas, dari pembangunan fisik menuju pembangunan yang berkelanjutan.
Prestasi William Sabandar juga diakui secara nasional dan internasional. Ia menerima Australian Alumni of the Year Award 2025, penghargaan sebagai Best CEO dari SWA maupun Business News, serta memperoleh Satyalancana Wira Karya dari Presiden Republik Indonesia atas kontribusinya dalam pembangunan nasional.
Bagi HADIN Unhas, sosok William Sabandar menghadirkan pesan yang lebih dalam daripada sekadar daftar jabatan dan penghargaan. Ia menunjukkan bahwa seorang insinyur harus mampu membaca persoalan masyarakat secara utuh, memimpin kolaborasi lintas sektor, dan menghadirkan solusi yang memberi manfaat bagi publik.
Kepemimpinan modern bukan lagi soal kekuasaan, melainkan kemampuan membangun kepercayaan, menghubungkan berbagai kepentingan, dan memastikan pembangunan memberikan dampak yang berkelanjutan.
Jejak perjalanan William Sabandar juga menjadi inspirasi bagi generasi muda Universitas Hasanuddin. Dunia saat ini membutuhkan lulusan yang tidak hanya menguasai kompetensi teknis, tetapi juga memiliki perspektif global, kepekaan sosial, integritas, serta keberanian mengambil tanggung jawab pada persoalan-persoalan besar bangsa.
Di tengah semangat transformasi Universitas Hasanuddin menuju perguruan tinggi berkelas dunia, alumni seperti William Sabandar menjadi bukti bahwa Kampus Merah memiliki modal intelektual dan moral untuk terus melahirkan pemimpin yang berpengaruh di tingkat nasional maupun internasional.
Bagi HADIN Unhas, keberadaan William Sabandar bukan sekadar kebanggaan alumni. Ia adalah cermin bahwa nilai-nilai keilmuan, profesionalisme, dan pengabdian yang ditanamkan di Universitas Hasanuddin dapat tumbuh menjadi kepemimpinan yang menghubungkan kampus, negara, dunia usaha, dan masyarakat.
Sosoknya mengingatkan bahwa keberhasilan seorang alumni pada akhirnya diukur bukan dari seberapa tinggi jabatan yang diraih, melainkan seberapa besar perubahan yang mampu ia hadirkan bagi kehidupan banyak orang.









