Andi Idris Manggabarani Membangun Rumah, Menumbuhkan Harapan, Menghubungkan Alumni Unhas

  • Whatsapp
Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa dan Andi Idris Manggabarani pada satu kunjungan pengurus PP IKA Unhas (dok: Humas Unhas)
  • Dalam dunia yang bergerak cepat, menurutnya, reputasi jauh lebih mahal daripada keuntungan sesaat. Kepercayaan masyarakat, mitra, dan keluarga adalah modal terbesar yang harus dijaga sepanjang hidup. Nilai-nilai seperti itulah yang sesungguhnya dibutuhkan oleh organisasi alumni.
  • Karena itu, bergabungnya Andi Idris Manggabarani sebagai salah satu anggota Tim Penasihat PT Hadin Metavisi Akademika, holding bisnis milik Universitas Hasanuddin tentu layak dirayakan. Kehadirannya bukan semata menghadirkan nama besar seorang pengusaha, melainkan pengalaman panjang tentang bagaimana membangun organisasi, mengelola jaringan, membaca peluang, dan menghubungkan dunia akademik dengan dunia profesional.

PELAKITA.ID – Penulis menyimpan perasaan lega, senang, sekaligus penuh penghargaan setelah berbincang dan mendengar langsung kisah hidup Andi Idris Manggabarani di tepi Sungai Tallo sekitar 4 tahun silam.

Percakapan itu bukan sekadar pertemuan dengan seorang pengusaha sukses, melainkan perjumpaan dengan sosok yang memiliki jejak panjang dalam membangun ruang hidup bagi banyak orang.

Bagi penulis, perjumpaan itu terasa sangat personal. Andi Idris Manggabarani adalah figur yang berjasa membangun Perumahan Nusa Tamarunang di Kabupaten Gowa pada awal dekade 1990-an—perumahan yang menjadi tempat tinggal penulis bersama keluarga sejak tahun 2000 hingga hari ini. Di kawasan itulah anak-anak tumbuh, tetangga menjadi keluarga, dan berbagai kenangan kehidupan perlahan terukir.

Tidak banyak orang menyadari bahwa sebuah kawasan permukiman yang mereka tempati menyimpan cerita panjang tentang visi, keberanian, dan kerja keras orang-orang yang membangunnya.

Nama Andi Idris Manggabarani sesungguhnya bukan nama baru di Sulawesi Selatan. Ia lahir dari keluarga yang memiliki rekam jejak panjang dalam pengabdian kepada negara.

Di lingkungan keluarga Manggabarani lahir sejumlah tokoh nasional yang dikenal luas, antara lain Jenderal Polisi (Purn.) Yusuf Manggabarani, mantan Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia; Husni Manggabarani, yang pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan; serta sejumlah tokoh lain yang memberikan kontribusi penting di bidang pemerintahan dan pelayanan publik.

Tradisi pengabdian itu tampaknya mengalir kuat dalam keluarga besar Manggabarani, meskipun masing-masing menempuh jalan yang berbeda.

Andi Idris memilih dunia usaha sebagai medan pengabdiannya. Jalan yang dipilihnya bukan sekadar mengejar keuntungan ekonomi, tetapi membangun nilai melalui investasi, pengembangan kawasan, serta penciptaan lapangan kerja.

Andi Idris Manggabarani menempuh seluruh jenjang pendidikannya di Makassar, dimulai dari SD Pembangunan III Makassar yang diselesaikannya pada tahun 1976. Beliau kemudian melanjutkan pendidikannya ke SMP Negeri 2 Makassar hingga lulus pada tahun 1979, sebelum akhirnya menuntaskan masa sekolah menengah atas di SMA Kartika Chandra Kirana Makassar pada tahun 1982.

Perjalanan akademisnya ditutup dengan meraih gelar Strata 1 (S1) Sarjana Ekonomi (S.E.) dari Universitas Hasanuddin pada tahun 1986.

Sebagai alumni Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin angkatan 1986, ia memulai perjalanan bisnis yang kemudian berkembang menjadi IMB Group, kelompok usaha yang bergerak di bidang properti, perhotelan, perdagangan, dan investasi. Berbagai sumber primer, termasuk profil profesionalnya dan profil resmi perusahaan, menunjukkan konsistensi perjalanan tersebut selama lebih dari tiga dekade.

Salah satu karya yang paling membekas bagi masyarakat Makassar dan Gowa adalah pengembangan Perumahan Nusa Tamarunang. Ketika kawasan itu mulai dibangun pada awal 1990-an, wilayah tersebut masih jauh dari keramaian kota seperti sekarang.

Dibutuhkan keberanian membaca masa depan dan keyakinan bahwa kawasan pinggiran dapat berkembang menjadi ruang hidup yang nyaman bagi ribuan keluarga. Tiga puluh tahun kemudian, keyakinan itu terbukti.

Nusa Tamarunang menjelma menjadi salah satu kawasan permukiman yang hidup, berkembang, dan menjadi rumah bagi berbagai profesi serta lintas generasi.

Mungkin bagi sebagian orang, membangun perumahan hanyalah aktivitas bisnis. Namun sesungguhnya, membangun kawasan hunian berarti membangun kehidupan. Jalan yang dibuat akan dilalui anak-anak menuju sekolah. Rumah-rumah yang berdiri akan menjadi tempat lahirnya cita-cita baru.

Masjid, taman, dan ruang pertemuan akan menjadi tempat masyarakat saling mengenal dan menguatkan. Dalam perspektif itulah karya seorang pengembang tidak berhenti pada bangunan fisik, tetapi meninggalkan warisan sosial yang berlangsung jauh melampaui masa pembangunan.

Perjalanan Andi Idris Manggabarani kemudian berkembang semakin luas. Ia dipercaya memimpin berbagai organisasi strategis, antara lain sebagai Ketua DPD Real Estat Indonesia (REI) Sulawesi Selatan, Wakil Ketua KADIN Sulawesi Selatan, serta mengemban berbagai amanah di organisasi olahraga, sosial, dan politik.

Kiprahnya menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak hanya diukur dari keberhasilan membangun perusahaan, tetapi juga dari kesediaan mengambil tanggung jawab untuk membangun ekosistem yang lebih besar.

Dalam dunia usaha, ia juga dikenal sebagai pendiri dan Komisaris IMB Group, yang mengembangkan berbagai investasi di sektor properti dan perhotelan, termasuk kepemilikan Four Points by Sheraton Makassar.

Keberhasilannya memperlihatkan bahwa perusahaan daerah pun dapat tumbuh menjadi pemain nasional apabila dikelola dengan visi jangka panjang, tata kelola yang baik, dan keberanian mengambil peluang.

Yang menarik dari percakapan penulis dengannya bukanlah kisah tentang besarnya bisnis atau panjangnya daftar jabatan. Yang paling membekas justru kesederhanaan cara pandangnya. Ia berbicara tentang pentingnya menjaga kepercayaan, membangun relasi, dan tidak pernah berhenti belajar.

Dalam dunia yang bergerak cepat, menurutnya, reputasi jauh lebih mahal daripada keuntungan sesaat. Kepercayaan masyarakat, mitra, dan keluarga adalah modal terbesar yang harus dijaga sepanjang hidup. Nilai-nilai seperti itulah yang sesungguhnya dibutuhkan oleh organisasi alumni. Karena itu, bergabungnya Andi Idris Manggabarani sebagai salah satu anggota Tim Penasihat PT Hadin Metavisi Akademika, holding bisnis milik Universitas Hasanuddin tentu layak dirayakan.

Kehadirannya bukan semata menghadirkan nama besar seorang pengusaha, melainkan pengalaman panjang tentang bagaimana membangun organisasi, mengelola jaringan, membaca peluang, dan menghubungkan dunia akademik dengan dunia profesional.

Universitas Hasanuddin memiliki ribuan alumni yang berkiprah di berbagai bidang. Sebagian menjadi akademisi, birokrat, ilmuwan, pengusaha, profesional, maupun pemimpin masyarakat.

Tantangan terbesar organisasi alumni bukan sekadar menghimpun nama-nama besar, tetapi menghubungkan pengalaman mereka menjadi energi kolektif yang bermanfaat bagi kampus dan generasi berikutnya.

Sosok seperti Andi Idris Manggabarani menunjukkan bahwa alumni tidak pernah benar-benar meninggalkan almamaternya. Mereka membawa nama Universitas Hasanuddin ke ruang-ruang pengambilan keputusan, dunia usaha, hingga kehidupan masyarakat.

Percakapan kami itu menyisakan satu pelajaran sederhana bagi penulis. Kita sering mengagumi gedung-gedung tinggi, hotel megah, atau perusahaan besar. Di balik semua itu selalu ada manusia yang bekerja dalam diam, mengambil risiko ketika orang lain masih ragu, dan membangun sesuatu yang manfaatnya baru dirasakan bertahun-tahun kemudian.

Barangkali itulah cara terbaik mengenang seorang alumni. Bukan hanya melalui jabatan yang pernah disandang, tetapi melalui jejak yang ditinggalkan dalam kehidupan banyak orang.

Bagi penulis, setiap kali melintasi jalan-jalan di Perumahan Nusa Tamarunang, akan selalu ada pengingat bahwa sebuah kawasan yang kini menjadi rumah bagi ribuan keluarga pernah bermula dari keberanian seseorang untuk membangun masa depan yang belum dapat dilihat oleh banyak orang.

___
Editor Denun