Singkat cerita, menulis membuat saya menemukan gairah baru setelah bertahun-tahun tinggal di Taka Bonerate antara tahun 1995 hingga 2003—wilayah yang sunyi, tanpa internet, dengan akses yang terbatas. Saat itu saya hanya menyimpan kenangan hidup dan berinteraksi dengan komunitas Bajo, Bugis, Palue, hingga Buton.
PELAKITA.ID – Saya memulai perjalanan kepenulisan secara intensif sejak bekerja di Aceh pada 2007. Meski tiba di Nanggroe Aceh Darussalam pada Februari 2005 yang basah, saya baru benar-benar berinteraksi dengan kawan-kawan penulis dua tahun kemudian.
Ada dua komunitas yang membangkitkan semangat saya kala itu: Komunitas Blogger Anging Mammiri dan Komunitas Panyingkul, melalui portal www.panyingkul.com dan mailing list Panyingkul.
Di Komunitas Blogger, saya belajar membuat weblog, mendesain template, meski beberapa kali lupa kata sandi blog sendiri. Di Panyingkul, saya belajar menulis secara efektif dari sosok-sosok yang murah hati berbagi pengalaman dan inspirasi.
Terutama mentor saya Lily Yulianti Farid, Anwar Jimpe Rachman, dan Nurhady Sirimorok. Masih banyak nama yang seharusnya saya sebutkan, tetapi ketiga nama itu sudah cukup mewakili rasa terima kasih saya.
Lily sungguh istimewa karena dia yang menuntun saya menulis buku pertama Semesta Galesong, Senarai Seorang Warga pada 2009.
Saat bertugas di Aceh dan Nias dalam proyek ADB Earthquake and Tsunami Energency Support Project – Fisheries, untuk rehabilitasi sektor perikanan pascatsunami, saya berkesempatan menjelajahi sebelas kabupaten/kota.
Dapat mengunjungi Nias, Simeulue, Meulaboh, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, Pidie, Aceh Jaya, Takengon, hingga Nagan Raya adalah momen menyerap pengalaman, pengetahuan dan inspirasi dari Pulau Sumatera. Banyak kisah dari perjalanan itu kemudian saya tuliskan di blog pribadi dan di www.panyingkul.com.
Singkat cerita, menulis membuat saya menemukan gairah baru setelah bertahun-tahun tinggal di Taka Bonerate—wilayah yang sunyi, tanpa internet, dengan akses yang terbatas. Saat itu saya hanya menyimpan kenangan hidup dan berinteraksi dengan komunitas Bajo, Bugis, Palue, hingga Buton.
Menulis kemudian membuka begitu banyak pintu. Saya berkesempatan menjadi teman seperjalanan Menteri Susi Pudjiastuti, menjelajahi hampir seluruh pesisir Nusantara, mengunjungi Banda Neira, Natuna, Anambas, hingga merasakan pengalaman terbang dengan pesawat mungil Susi Air dari Jakarta, Makassar, Ambon, sampai Banda Neira.
Melalui dunia menulis pula saya dapat berkenalan dengan Matsui Kazuhisa, yang memberi informasi mengenai peluang bekerja di Japan International Cooperation Agency (JICA) dalam proyek Sulawesi Capacity Development Project (CD Project)—salah satu pengalaman profesional paling berkesan dalam hidup saya.
Menulis juga membawa saya bergabung dalam proyek UN-FAO melalui ISLME Project, yang menjadi tonggak penting perjalanan karier saya. Dari sana saya berkesempatan bertualang ke Oman bersama rekan-rekan alumni dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin. Kami mengunjungi Muscat, Al Duqm, Bandar Al Khairan, hingga Salalah di perbatasan Yaman.
Dengan menulis, saya akhirnya mewujudkan impian mengunjungi Australia pada Mei yang indah. Melalui aktivitas yang sama pula, saya dipercaya membantu proses lahirnya tidak kurang dari tiga puluh buku.
Masih banyak cerita yang bisa dibagikan. Saya berkesempatan menginjakkan kaki di tempat-tempat yang tak pernah saya bayangkan saat kecil: Tanimbar, Biak, Teluk Bintuni, Kepulauan Telo dan Batu di Nias Selatan, Pulau Rote, Pulau Buton, Wakatobi, Kubu Raya, Barito Selatan, Berau, Sebatik, Tarakan, pesisir Pantura dan Pantai Selatan Jawa, dan masih banyak lagi.
Menulis juga memotivasi saya membangun sebuah media yang mampu bertahan dan memberi manfaat, namanya Pelakita.ID, singkatan dari Pesisir dan Laut Kita di tengah suasana pandemi Covid di tahun 2020.
Panyingkul memang memiliki karakter dan sejarahnya sendiri yang tak tergantikan, tetapi semangatnya telah menginspirasi saya untuk terus merawat Pelakita.ID, yang tanpa terasa kini memasuki tahun keenam sejak tulisan pertamanya pada 16 Juli 2020.
Keberadaan Pelakita.ID pun kini tidak sendiri lagi, ada saudara muda bernama www.maritimeposts.com yang berbahasa Inggris, inspirasi menguat sepulang dari Melbourne Australia.
Selamat ulang tahun, Pelakita Media Indonesia. Terima kasih untuk sahabatku dua pendiri M. Rizky Latjindung yang selalu membantu, juga untuk Muhammad Syukri yang tetap sabar sebagai bagian dari tim, juga untuk semua yang telah menulis, berbagi inspirasi dan menjadi kontributor setia, kanda Rusdin Tompo, Muliadi Saleh, Mustamin Raga, Prof Andi Adri Arief, Jumardi Lanta hingga Fadiah Machmud.
Pun teman diskusi yang masih setia di WAG – kami sebut ‘Pelakita Manajemen’, Kanda Barak Malinggi, Bang Basir Opet yang baik hati dan Bro Irfan yang kian gondrong.
Juga untuk Pemda yang sudah menjadi mitra strategis, Pemda Takalar, Pemda Wajo, sebelumnya ada Pemkot Makassar, DPRD Kota Makassar, Cafe Boska dan juga jejaring LSM seperti DFW Indonesia, YKAN hingga Lembaga Maritim Nusantara.
Untuk mereka yang tidak pernah bosan diajak kolaborasi Rektor Unhas, Prof Jamaluddin Jompa, Prof Sukri Palutturi, Prof Mahatma Lanuru, Dr (c) Muhammad Burhanuddin, M. Zulficar Mochtar, Mohammad Abdi, Syahril A. Raup, Muhammad Fahri, Muslih Said, M. Suaib Mappasila, H. Rustan Rewa di Tolitoli, M. Arief Sutte di Palu, Sunarwan Asuhadi di Wakatobi, Taswin Munier, M,Sc di Jakarta, Prof Nurjannah Nurdin di Makassar.
Teristimewa untuk keluarga besar The COMMIT Foundation Ashar Karateng dkk serta kawan seperjuangan di Prodi Studi Pembangunan Unhas angkatan 2025, di mana pun berada. The last but not least brother Asri Tadda, konsultan media kami.
Mari bersama Pelakita, Menyelami Indonesia Lebih Dalam.
___
Tamarunang, 27 Juli 2026.









