Malla Arung Manajeng, Sastrawan Bugis dari Bone yang Merawat Ingatan Sejarah Lewat Karya Sastra

  • Whatsapp
Sebuah foto sekitar tahun 1935 memperlihatkan dirinya bersama istri dan anak-anaknya, menjadi dokumentasi berharga mengenai sosok sastrawan Bugis yang memberikan kontribusi besar terhadap pelestarian sejarah dan budaya Bone melalui karya-karya tulis.

PELAKITA.ID – Di balik perkembangan sastra Bugis pada awal abad ke-20, terdapat sejumlah tokoh yang berperan penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi literasi lokal. Salah satunya adalah I Malla Daeng Mabela, yang lebih dikenal sebagai Malla Daeng Mabela Arung Manajeng.

Sebuah foto sekitar tahun 1935 memperlihatkan dirinya bersama istri dan anak-anaknya, menjadi dokumentasi berharga mengenai sosok sastrawan Bugis yang memberikan kontribusi besar terhadap pelestarian sejarah dan budaya Bone melalui karya-karya tulis.

Foto tersebut bukan sekadar potret keluarga bangsawan. Ia merekam kehidupan seorang intelektual lokal yang hidup pada masa ketika tradisi lisan Bugis mulai bertransformasi menjadi tradisi tulis yang lebih sistematis.

Pada periode itu, banyak naskah lontara mulai didokumentasikan kembali sebagai upaya menjaga warisan sejarah masyarakat Bugis di tengah perubahan sosial dan politik pada masa kolonial Hindia Belanda.

Sebagai seorang Arung Manajeng, Malla Daeng Mabela tidak hanya memiliki kedudukan dalam struktur pemerintahan tradisional Bone, tetapi juga dikenal sebagai seorang sastrawan yang produktif. Melalui kepiawaiannya menulis dalam tradisi sastra Bugis, ia berusaha mengabadikan berbagai peristiwa penting yang menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat.

Dua karya yang paling dikenal adalah Toloqna Arung Labuaja dan Toloq Rumpaqna Bone.

Dalam khazanah sastra Bugis, toloq merupakan bentuk karya sastra naratif yang menggabungkan unsur sejarah, kepahlawanan, silsilah, nilai moral, serta refleksi budaya. Karya-karya seperti ini bukan sekadar cerita, tetapi juga menjadi media pendidikan, penguatan identitas, dan pewarisan nilai kepada generasi berikutnya.

Toloqna Arung Labuaja mengisahkan perjalanan dan ketokohan Arung Labuaja sebagai bagian dari sejarah aristokrasi Bugis. Melalui narasi tersebut, pembaca diajak memahami bagaimana konsep kepemimpinan, keberanian, kesetiaan, dan kehormatan dijunjung tinggi dalam masyarakat Bugis. Nilai-nilai seperti siri’ dan pesse hadir sebagai fondasi moral yang membentuk karakter para tokohnya.

Sementara itu, Toloq Rumpaqna Bone menjadi salah satu karya yang merekam dinamika sejarah Kerajaan Bone, termasuk berbagai peristiwa penting yang membentuk perjalanan politik dan sosial kerajaan tersebut.

Karya ini memiliki arti penting karena melengkapi berbagai sumber sejarah Bugis yang selama ini banyak tersimpan dalam manuskrip lontara maupun tradisi lisan masyarakat.

Pada masa ketika akses terhadap pendidikan modern masih terbatas, para sastrawan seperti Malla Daeng Mabela memegang peranan strategis sebagai penjaga pengetahuan lokal. Mereka menjadi penghubung antara generasi terdahulu dan generasi baru melalui tulisan yang tidak hanya menyimpan fakta sejarah, tetapi juga mengandung filosofi hidup masyarakat Bugis.

Keberadaan karya-karya tersebut juga menunjukkan bahwa tradisi literasi di Sulawesi Selatan telah berkembang jauh sebelum era modern. Masyarakat Bugis dikenal memiliki budaya menulis yang kuat melalui aksara lontara, yang digunakan untuk mencatat hukum adat, silsilah keluarga, perjanjian politik, hingga karya sastra.

Tradisi inilah yang kemudian melahirkan banyak penulis lokal yang berperan menjaga identitas budaya di tengah arus kolonialisme dan modernisasi.

Foto keluarga Malla Daeng Mabela sekitar tahun 1935 menghadirkan sisi lain seorang sastrawan yang tidak hanya dikenal melalui karya-karyanya, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Bugis.

Di balik sosok yang tenang dalam potret hitam putih itu tersimpan dedikasi panjang dalam merawat memori kolektif sebuah bangsa melalui tulisan.

Kini, ketika berbagai manuskrip Bugis semakin mendapat perhatian dunia akademik internasional, nama Malla Daeng Mabela layak dikenang sebagai salah satu tokoh yang ikut menjaga kesinambungan tradisi literasi Nusantara. Karya-karyanya menjadi bukti bahwa sejarah tidak hanya ditulis oleh penguasa atau sejarawan, tetapi juga oleh para sastrawan yang memahami denyut kehidupan masyarakatnya.

Warisan Malla Arung Manajeng mengajarkan bahwa sastra memiliki kekuatan melampaui zamannya.

Melalui kata-kata, sebuah masyarakat dapat menyimpan identitas, membangun ingatan kolektif, dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi yang akan datang. Di tengah perubahan zaman, karya-karyanya tetap menjadi bagian penting dari khazanah intelektual Bugis dan sejarah budaya Indonesia.