Pagi itu So’na terjebak dalam antrean bensin di sekitar Samping Unismuh. Kendaraan sudah mengular, pengendara mulai gelisah, dan waktu terus bergerak sementara jam masuk kerja semakin dekat. Telepon dari tempat kerjanya akhirnya berdering, dan So’na tahu bahwa percakapan berikutnya kemungkinan besar tidak akan menyenangkan.
PELAKITA.ID — Di rumah Daeng Tinggi di Limbung, selatan Gowa, pembicaraan soal bensin belakangan ini mengalahkan hampir semua topik lain, termasuk harga ikan, pertandingan sepak bola, bahkan kabar keluarga yang biasanya paling ramai dibahas menjelang makan malam.
Tiga anaknya memang bergantung pada sepeda motor untuk menjalani kehidupan sehari-hari, sementara tempat kerja dan kampus mereka tersebar jauh dari rumah, menuju tiga penjuru yang berbeda.
Anak pertama, So’na, bekerja di sebuah warkop di seputaran Panakkukang, Makassar, sehingga setiap hari ia harus menempuh perjalanan cukup jauh dari Limbung.
Tarring, anak kedua, merupakan mahasiswi tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi di kawasan Poros Samata, Gowa, yang sedang sibuk menyelesaikan urusan akademiknya.
Sementara Tunru’, anak ketiga, menempuh pendidikan Kelautan di salah satu kampus di Tamalanrea, Makassar, dan jarak antara rumahnya dengan kampus membuat urusan bahan bakar menjadi perkara yang tidak bisa dianggap sepele.
Ketiga anak itu sebelumnya menjalani hari-hari seperti kebanyakan anak muda lainnya, berangkat menggunakan motor pribadi, mampir membeli sarapan jika sempat, lalu pulang menjelang sore atau malam dengan cerita masing-masing.
Beberapa hari terakhir, rutinitas itu berubah karena sebelum menentukan berangkat atau tidak, mereka harus lebih dahulu mengetahui satu hal penting: di mana bensin masih tersedia dan seberapa panjang antreannya.
Informasi mengenai bensin pun beredar dari mulut ke mulut dan dari satu grup WhatsApp ke grup lainnya, sering kali dengan kalimat yang penuh harapan tetapi berakhir mengecewakan.
Ada yang mengatakan stok baru masuk, ada yang menyebut antrean masih pendek, sementara informasi lain menyarankan agar jangan mendekat karena kendaraan sudah mengular sejak pagi dan belum tentu semua orang kebagian.
Suatu pagi Tunru’ sudah siap berangkat ke kampus di Tamalanrea, tetapi sebelum menyalakan motor ia memeriksa tangki dan menyadari bahwa persediaan bensinnya tidak cukup untuk perjalanan pergi-pulang. Ia kemudian mencari kabar melalui telepon dan pesan singkat, berharap menemukan SPBU yang masih bisa memberinya beberapa liter bahan bakar sebelum melanjutkan perjalanan panjang ke arah timur Makassar.
Kabar yang diterimanya justru membuat wajahnya berubah.
“Sikulu, lamakumo antri sampai di Poros Malino, na habis bensin kemudian!” umpat Tunru’.
Ia tidak sedang mencari alasan untuk meninggalkan kuliah.
Ia hanya menghitung jarak, waktu, kondisi tangki dan kemungkinan paling buruk yang bisa terjadi jika ia memaksakan perjalanan sampai Tamalanrea tanpa kepastian bahan bakar. Setelah beberapa saat berpikir, ia akhirnya membatalkan rencana kuliahnya hari itu, sebuah keputusan yang terasa pahit bagi mahasiswa yang sedang mengejar penyelesaian studinya.
Di tempat lain, So’na menghadapi masalah yang hampir sama, hanya saja konsekuensinya berbeda.
Ia bekerja di warkop sekitar Panakkukang dan memiliki jam kerja yang harus dipatuhi, sehingga keterlambatan akibat antrean BBM bukan perkara yang mudah dijelaskan kepada manajernya.
Pagi itu So’na terjebak dalam antrean bensin di sekitar Samping Unismuh. Kendaraan sudah mengular, pengendara mulai gelisah, dan waktu terus bergerak sementara jam masuk kerja semakin dekat. Telepon dari tempat kerjanya akhirnya berdering, dan So’na tahu bahwa percakapan berikutnya kemungkinan besar tidak akan menyenangkan.
“Mara-marahmi manajerku. Saya belum masuk warkop, masih ngantri bensin di Samping Unismuh, mengular poeng,” ucap So’na kepada Tunru’ melalui telepon.
Tunru’ yang berada di rumah kemudian bertanya dengan nada penasaran, tetapi sekaligus sudah menduga jawabannya.
“Jadi dapatjako?”
“Tena!” balas So’na dengan nada tinggi.
Tunru’ tertawa kecil mendengar jawaban itu, meskipun ia sendiri baru saja membatalkan kuliahnya karena alasan yang sama. Mereka kemudian sama-sama diam beberapa detik, mungkin menyadari bahwa kelangkaan bensin telah membuat dua anak dalam satu keluarga mengalami persoalan berbeda pada hari yang sama.
Di rumah, Daeng Tinggi hanya bisa mendengarkan cerita anak-anaknya sambil sesekali menghela napas. Ia tahu anak-anaknya bukan sedang mencari-cari alasan untuk tidak bekerja atau kuliah, sebab masing-masing mempunyai tujuan yang jelas dan semuanya sedang berusaha membangun masa depan dengan caranya sendiri.
So’na membutuhkan motor untuk mencari penghasilan, Tarring membutuhkan kendaraan untuk menyelesaikan kuliahnya, sedangkan Tunru’ harus menempuh perjalanan panjang menuju kampusnya. Ketika bensin sulit ditemukan, persoalannya pun ikut berpindah dari SPBU ke ruang keluarga, dari jalan raya ke tempat kerja, dari kampus ke meja makan.
Belum selesai anak-anaknya berbicara mengenai bensin, sang ibu datang membawa persoalan lain yang tidak kalah membuat kepalanya pening. Gas elpiji yang biasanya tersedia di toko dekat rumah ternyata menghilang dari peredaran, sehingga ia harus bertanya dari satu toko ke toko lain dan mendatangi beberapa tempat hanya untuk mendapatkan satu tabung yang bisa dipakai memasak.
Mulailah ia ma’noko-noko’, istilah yang biasa digunakan keluarga itu untuk menggambarkan kebiasaan berbicara ke sana kemari karena banyak hal yang sedang mengganjal pikiran.
Ia bertanya kepada tetangga, menelepon kenalan, mengingat-ingat toko mana yang biasanya memiliki stok, lalu pulang membawa kabar yang belum tentu menyelesaikan persoalan.
“Di toko sana ada?”
“Tidak ada.”
“Yang dekat pasar?”
“Katanya habis.”
“Terus di mana mau dicari?”
Tidak ada jawaban yang memuaskan.
Sang ibu kemudian mengomel sambil menyusun ulang urusan dapur. Kalau gas sulit diperoleh, memasak menjadi masalah. Kalau bensin sulit didapat, anak-anak kesulitan bepergian. Dan ketika listrik kembali mengalami pemadaman bergilir, persoalan rumah tangga mereka terasa seperti belum sempat selesai satu sudah muncul lagi persoalan berikutnya.
Pemadaman listrik pun punya cerita sendiri di rumah Daeng Tinggi. Ketika lampu padam pada sore hari, kipas berhenti berputar, televisi mati, dan suasana rumah berubah menjadi lebih panas daripada biasanya. Penjelasan tentang menjaga keandalan sistem kelistrikan tentu terdengar penting dari sisi perusahaan listrik, tetapi dari sudut pandang keluarga yang sedang duduk kepanasan, yang terasa hanyalah kipas tidak berputar dan malam belum juga datang.
“Bensin susah, gas susah, listrik juga mati,” keluh istrinya kepada Daeng Tinggi suatu sore.
Daeng Tinggi yang sejak tadi duduk di teras hanya tersenyum tipis.
“Untung air masih ada,” katanya.
Istrinya langsung menoleh.
“Janganmi bicara begitu. Nanti air juga ikut hilang!”
Daeng Tinggi tertawa, sementara anak-anak yang mendengar dari dalam rumah ikut tertawa. Mereka tahu ibunya sedang kesal, tetapi mereka juga tahu bahwa kalau semua persoalan dibawa terlalu serius, suasana rumah akan semakin berat.
Malamnya, ketiga anak kembali berkumpul di rumah. So’na baru pulang dari arah Makassar dengan wajah lelah, Tarring masih membuka laptop karena urusan tugas akhirnya belum selesai, sedangkan Tunru’ sibuk bercerita mengenai kuliah yang batal dan antrean bensin yang menurutnya semakin tidak masuk akal.
Pembicaraan kemudian kembali ke pertanyaan yang belakangan hampir selalu muncul menjelang tidur: siapa yang besok harus mencari bensin lebih dulu.
“Saya dulu,” kata So’na.
“Saya juga butuh,” sahut Tunru’.
Tarring yang sejak tadi mendengarkan akhirnya ikut bicara. “Saya juga mau ke kampus.”
Ketiganya saling memandang, lalu tertawa karena tidak ada satu pun yang memiliki alasan cukup kuat untuk mengalahkan kebutuhan saudaranya. So’na membutuhkan bensin untuk bekerja, Tarring untuk menyelesaikan kuliah, dan Tunru’ untuk kembali menjalani perkuliahan yang hari ini terpaksa ia tinggalkan.
Dari ujung ruangan, Daeng Tinggi akhirnya menyela percakapan mereka.
“Kalau begitu, besok bapak saja yang antre.”
So’na tertawa.
Tunru’ ikut tertawa.
Tarring menutup laptopnya sambil tersenyum.
Dari dapur terdengar suara ibunya menyahut, “Bagus! Antreki saja sekalian. Bawa nasi dari rumah, supaya tidak lapar menunggu.”
Tawa kembali pecah di rumah itu, tetapi setelahnya suasana perlahan kembali sunyi. Ada sesuatu yang mereka semua pahami tanpa perlu dibicarakan panjang: antrean BBM bukan lagi sekadar urusan orang yang sedang berdiri di depan pompa, melainkan sudah ikut menentukan bagaimana keluarga itu mengatur waktu, pekerjaan, kuliah dan pengeluaran sehari-hari.
Daeng Tinggi mungkin tidak pernah menghitung persoalan tersebut dalam angka-angka besar. Ia hanya tahu bahwa ketika bensin sulit diperoleh, So’na bisa terlambat bekerja, Tunru’ bisa membatalkan kuliah, dan Tarring harus berpikir dua kali sebelum menggunakan motor untuk urusan kampus.
Ia juga tahu bahwa setiap perjalanan memiliki biaya, sementara uang yang keluar untuk bensin berarti ada kebutuhan rumah tangga lain yang harus menunggu. Di keluarga seperti mereka, selisih beberapa puluh ribu rupiah sekalipun tetap mempunyai arti karena pengeluaran datang setiap hari dan penghasilan tidak selalu bertambah mengikuti kebutuhan.
Pagi berikutnya, halaman rumah kembali memperlihatkan pemandangan yang sama. Tiga sepeda motor terparkir berdampingan, masing-masing menunggu pemiliknya menentukan tujuan dan memastikan bahan bakar yang tersedia cukup untuk membawa mereka pergi dan kembali.
So’na harus menuju Panakkukang.
Tarring harus menuju Samata.
Tunru’ masih harus memikirkan Tamalanrea.
Daeng Tinggi berdiri di teras melihat ketiga anaknya bersiap, sementara istrinya dari dalam rumah kembali mengingatkan sesuatu yang sudah menjadi kalimat wajib beberapa hari terakhir.
“Jangan lupa cari bensin!”
So’na menjawab dari atas motor.
“Kalau dapat!”
Tunru’ menyusul dengan tawa.
Tarring hanya menggelengkan kepala.
Daeng Tinggi kemudian memandang jalan di depan rumahnya yang mulai ramai oleh kendaraan. Anak-anaknya satu per satu bergerak meninggalkan Limbung, membawa tas, pekerjaan, tugas kuliah, dan rencana masing-masing.
Di rumah itu, masa depan ternyata bukan hanya soal ijazah, pekerjaan atau cita-cita.
Ada kebutuhan yang jauh lebih sederhana tetapi menentukan apakah semua rencana itu bisa bergerak: sebuah sepeda motor yang tangkinya cukup terisi untuk membawa mereka menuju tujuan.
Siapa hendak menuntun mereka?
___
Gowa, 10 September 2026









