Mas Angga, Intelektual yang Pergi di Tengah Kalimat

  • Whatsapp
Airlangga Pribadi Kusman (dok: Istimewa/Ilustrasi AI)

PELAKITA.ID — Ada orang-orang yang sepanjang hidupnya seperti sedang menyelesaikan sebuah kalimat. Mereka membaca, menulis, berdiskusi, mengajar, berdebat, lalu kembali membaca dan menulis. Kalimat itu tidak selalu selesai, tetapi justru di situlah jejak hidup mereka tertinggal.

Airlangga Pribadi Kusman, yang akrab disapa Mas Angga, adalah salah satu di antaranya. Ia pergi terlalu cepat, bahkan ketika kalimat yang sedang ditulisnya belum selesai.

Airlangga lahir di Jombang, Jawa Timur, 23 November 1976. Ia kemudian memilih Universitas Airlangga sebagai bagian penting dari perjalanan hidupnya.

Di kampus itulah ia belajar ilmu politik, tumbuh sebagai mahasiswa, dan kemudian kembali sebagai pengajar. Ia menjadi dosen Departemen Politik FISIP Unair sejak 2004 dan pada akhir perjalanan akademiknya dipercaya menjadi Ketua Program Studi S2 Ilmu Politik.

Mas Angga bukan sekadar seorang dosen yang menjalani rutinitas akademik. Ia adalah bagian dari generasi yang mengalami langsung kegelisahan menjelang Reformasi 1998.

Sebagai mahasiswa, ia menyaksikan sebuah zaman ketika ruang kebebasan terasa sempit dan ketegangan politik begitu kuat.

Dalam sebuah kesaksian mengenai generasi 1998, ia mengingat masa itu sebagai periode ketika pengekangan politik dan ketidakadilan membangkitkan semangat perlawanan mahasiswa.

Dari pengalaman itulah tampaknya jalan hidupnya terbentuk. Aktivisme tidak berhenti ketika ia meninggalkan bangku mahasiswa. Ia membawanya ke ruang kelas, penelitian, tulisan, dan percakapan publik.

Ia memilih menjadi akademisi, tetapi tidak meninggalkan kegelisahan seorang aktivis. Ia tetap bertanya, tetap mempertanyakan, dan tetap merasa bahwa ilmu pengetahuan harus memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat.

Perjalanan akademiknya kemudian membawanya ke Universitas Indonesia untuk menyelesaikan magister dan ke Murdoch University, Australia, untuk meraih doktor bidang politik pada 2016. Setelah kembali ke Indonesia, ia semakin aktif menulis dan berbicara tentang politik Indonesia.

Buku The Vortex of Power: Intellectuals and Politics in Indonesia’s Post-Authoritarian Era menjadi salah satu karya pentingnya. Ia juga menulis Merahnya Ajaran Bung Karno: Narasi Pembebasan ala Indonesia, yang menunjukkan ketertarikannya yang kuat pada pemikiran Soekarno dan gagasan pembebasan.

Yang menarik dari perjalanan Mas Angga adalah ia tidak membatasi dirinya di balik tembok kampus. Ia hadir dalam diskusi publik, media massa, forum politik, dan berbagai percakapan mengenai masa depan Indonesia.

Ia pernah dipercaya menjadi anggota tim seleksi KPU-Bawaslu RI dan menjadi staf ahli di Kementerian Desa dan Transmigrasi.

Bagi banyak orang, ia bukan hanya akademisi yang berbicara tentang politik, tetapi seseorang yang terus berusaha memahami Indonesia dari dekat.

Hingga kemudian, pada 9 September 2026, perjalanan itu berhenti secara mendadak.

Mas Angga berada di Jakarta untuk mempersiapkan diskusi dan seminar buku terbarunya, Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z, yang sedianya berlangsung sehari kemudian.

Pagi itu ia baru saja tiba dari Surabaya, sempat singgah di sebuah kedai kopi di kawasan Sabang setelah tiba di Stasiun Gambir. Menurut kisah yang beredar dari orang-orang terdekatnya, ia membuka laptop dan melanjutkan sebuah tulisan tentang Soekarno yang sedang dikerjakannya bersama intelektual India, Vijay Prashad.

Layar laptop itu masih terbuka ketika tubuhnya tiba-tiba kehilangan keseimbangan.

Ia kemudian dilarikan ke RSPAD Gatot Soebroto. Namun, sekitar pukul 13.35 WIB, Mas Angga dinyatakan meninggal dunia. Ia baru berusia 49 tahun.

Ada sesuatu yang terasa getir dari kisah kepergiannya. Ia meninggal bukan ketika sedang beristirahat dari pekerjaannya, melainkan ketika sedang mengerjakan sesuatu yang menjadi bagian dari hidupnya: membaca, menulis, dan menyiapkan ruang percakapan.

Bahkan buku yang hendak dibicarakannya belum sempat ia diskusikan bersama publik.

Seperti itulah gambaran paling sederhana tentang Mas Angga.

Ia adalah seseorang yang hidup dengan gagasan, tetapi tidak membiarkan gagasan berhenti di kepalanya. Ia menuliskannya, mengajarkannya, mendiskusikannya, dan membawanya ke ruang publik.

Ia pergi di tengah kalimat tetapi kalimat itu tidak benar-benar berhenti.

Ia diteruskan oleh mahasiswa yang pernah diajarinya, oleh kolega yang pernah berdiskusi dengannya, oleh pembaca yang pernah menemukan gagasannya, dan oleh siapa pun yang pernah merasakan bahwa ilmu pengetahuan seharusnya tidak membuat seseorang menjauh dari kenyataan.

Selamat jalan, Mas Angga.

Semoga perjalanan panjangmu dalam mencari, membaca, menulis, dan membela apa yang kau yakini menjadi amal yang terus mengalir. Dan semoga Indonesia yang selalu kau pikirkan, kau kritik, dan kau cintai, suatu hari menjadi negeri yang lebih adil bagi semua.

Redaksi