PELAKITA.ID – Ada masa ketika pendidikan Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin belum seramai dan sekompleks sekarang.
Nama-nama dosen yang mengisi ruang kelas mungkin tidak seluruhnya tercatat dalam ingatan generasi sesudahnya, tetapi bagi mahasiswa yang pernah merasakan langsung proses pembelajaran pada masa itu, mereka adalah bagian penting dari perjalanan akademik yang membentuk cara pandang terhadap laut.
Ketika mengingat kembali masa tersebut, sejumlah nama segera muncul dari ingatan para alumni. Ada Haruna Mappa atau Kaharuddin dengan bidang Geologi Laut, Mappajanci Amin yang dikenang melalui pengajaran GIS, Dadang dengan Oseanografi, A.S. Kumanireng dengan Kimia Osean, serta Hasan Landasong yang dikenang dalam bidang Klimatologi Laut.
“Mereka datang dari disiplin berbeda, tetapi bertemu dalam satu ruang besar bernama ilmu kelautan,” ujar Nazruddin Maddeppungeng, alumni ITK Unhas.
Dikatakan Naz, nama Haruna Mappa memiliki jejak yang cukup kuat dalam sejarah akademik Universitas Hasanuddin. Dokumen sejarah Teknik Geologi Unhas menempatkan Prof. Ir. H. Haruna Mappa (alm.) sebagai salah satu perintis Jurusan Teknik Geologi Unhas yang dibuka pada 1977.
“Kehadirannya memperlihatkan kuatnya tradisi ilmu kebumian dalam lingkungan akademik Unhas sejak masa-masa awal perkembangan pendidikan tinggi di bidang tersebut,” sebut Naz.
Haruna Mappa bukan sekadar nama yang pernah melewati ruang kuliah. Ia merupakan bagian dari generasi akademisi yang ikut membangun tradisi keilmuan kebumian di Unhas. Dalam konteks pendidikan kelautan, perspektif geologi menjadi penting karena laut tidak pernah berdiri sendiri, melainkan memiliki dasar, bentuk, sedimen, batuan, struktur, serta sejarah pembentukan yang berkaitan erat dengan dinamika bumi.
Ingatan alumni yang mengaitkan Haruna Mappa dengan Geologi Laut menjadi menarik karena memperlihatkan bagaimana mahasiswa kelautan diperkenalkan kepada laut dari sisi yang mungkin tidak langsung terlihat. Sebelum berbicara tentang ikan, terumbu karang, mangrove atau kehidupan masyarakat pesisir, mahasiswa perlu memahami terlebih dahulu ruang tempat seluruh proses tersebut berlangsung.
Dari ruang geologi, perjalanan mahasiswa kemudian bersentuhan dengan GIS atau Sistem Informasi Geografis. Nama Mappajanci Amin dikenang dalam konteks ini.
Jejak digital mengenai sosok tersebut memang belum sebanyak nama-nama akademisi lain, tetapi kesaksian alumni mengenai perannya tetap menarik untuk dicatat sebagai bagian dari sejarah lisan pendidikan kelautan Unhas.
GIS hari ini telah menjadi perangkat penting dalam hampir seluruh bidang kelautan. Pemetaan garis pantai, terumbu karang, padang lamun, mangrove, kawasan konservasi, habitat ikan, perubahan tutupan lahan, tata ruang laut hingga pemetaan kerentanan pesisir semuanya membutuhkan kemampuan membaca ruang secara digital dan sistematis.
Karena itu, apabila benar Mappajanci Amin telah memperkenalkan GIS kepada mahasiswa kelautan pada masa tersebut, maka kontribusinya dapat dilihat sebagai sesuatu yang jauh melampaui sebuah mata kuliah.
Ia ikut memperkenalkan cara berpikir spasial kepada mahasiswa, yaitu kemampuan memahami bukan hanya apa yang terjadi di laut, tetapi juga di mana, bagaimana pola penyebarannya, dan mengapa suatu fenomena terjadi pada ruang tertentu.
Nama berikutnya yang muncul dalam ingatan adalah Dadang, yang dikenang melalui bidang Oseanografi. Identitas lengkapnya masih membutuhkan penguatan dari arsip akademik lama, meskipun terdapat sosok akademisi Unhas bernama Prof. Dr. Eng. Dadang Achmad Suriamihardja, M.Eng. yang memiliki rekam jejak kuat dalam tradisi akademik dan kemaritiman Unhas.
“Dadang Achmad Suriamihardja kemudian dikenal sebagai akademisi senior Unhas dan pernah dipercaya menjadi Ketua Senat Akademik Universitas Hasanuddin. Unhas juga menempatkannya dalam lingkungan keahlian kemaritiman pada SDGs Center. Namun, hubungan spesifik antara beliau dan mata kuliah Oseanografi pada periode yang dikenang alumni masih memerlukan verifikasi dari dokumen akademik atau kesaksian langsung para mahasiswa pada zamannya,” terang Nazruddin, Kelautan Unhas 88.
Oseanografi sendiri merupakan jantung penting dalam memahami laut. Melalui oseanografi, mahasiswa berhadapan dengan gelombang, arus, pasang surut, suhu, salinitas, sirkulasi air laut, massa air dan berbagai proses fisik yang menjadikan laut sebagai sistem yang terus bergerak dan berubah.
Kemudian ada A.S. Kumanireng, nama yang memiliki jejak akademik lebih jelas dalam lingkungan Universitas Hasanuddin. Ia dikenal sebagai akademisi bidang kimia dan namanya muncul dalam berbagai karya ilmiah serta aktivitas akademik yang berkaitan dengan Kimia Unhas. Repository Unhas juga mencatat keterlibatannya dalam karya mengenai potensi dan sumber daya alam kelautan Sulawesi Selatan.
Kehadiran seorang ahli kimia dalam pendidikan kelautan sesungguhnya sangat fundamental. Laut bukan hanya hamparan air asin yang luas, tetapi merupakan sistem kimia yang kompleks, tempat berbagai unsur, mineral, nutrien dan senyawa organik maupun anorganik berinteraksi secara terus-menerus.
Maka, ketika alumni mengenang Kumanireng melalui Kimia Osean, ingatan tersebut memiliki konteks keilmuan yang kuat. Mahasiswa kelautan harus memahami bagaimana perubahan komposisi kimia air laut, nutrien, pencemaran, proses biogeokimia dan berbagai reaksi kimia dapat memengaruhi organisme serta keseluruhan ekosistem laut.
Nama lainnya adalah Hasan Landasong, yang dikenang dalam bidang Klimatologi Laut. Berbeda dengan Haruna Mappa dan Kumanireng, jejak digital Hasan Landasong masih sangat terbatas. Karena itu, informasi mengenai dirinya sebaiknya diperlakukan sebagai bagian dari kesaksian alumni yang masih perlu diperkuat melalui arsip lama, daftar dosen, jadwal kuliah, atau dokumen akademik Universitas Hasanuddin.
Namun, bidang yang dikenang alumni tersebut memiliki posisi yang sangat penting dalam ilmu kelautan. Klimatologi laut membawa mahasiswa memahami hubungan antara atmosfer dan lautan, termasuk angin, tekanan udara, curah hujan, suhu, musim, gelombang, serta berbagai fenomena iklim yang memengaruhi dinamika wilayah pesisir dan laut.
Jika dilihat dari seluruh nama tersebut, sebenarnya ada sebuah gambaran besar yang menarik tentang bagaimana pendidikan kelautan dibangun. Mahasiswa tidak hanya diajak mengenal laut dari satu disiplin, tetapi diperkenalkan kepada laut melalui geologi, oseanografi, kimia, GIS dan klimatologi sebelum kemudian berhadapan dengan biologi, perikanan, konservasi dan persoalan sosial masyarakat pesisir.
Inilah barangkali salah satu kekuatan pendidikan kelautan pada masa awal. Laut tidak diajarkan sebagai satu mata pelajaran tunggal, melainkan sebagai sebuah sistem yang hanya dapat dipahami melalui pertemuan berbagai disiplin ilmu. Setiap dosen datang membawa pintu masuk berbeda untuk memahami ruang laut yang sama.
Haruna Mappa mengajak mahasiswa melihat laut dari perspektif bumi dan proses geologinya. Mappajanci Amin, dalam ingatan alumni, memperkenalkan cara membaca ruang melalui GIS. Dadang membawa perspektif oseanografi. Kumanireng memperkenalkan pendekatan kimia, sementara Hasan Landasong membawa mahasiswa melihat hubungan laut dengan atmosfer dan iklim.
Setelah semua itu, tibalah mahasiswa pada dunia perikanan. Ada kenangan menarik yang masih tersimpan dalam cerita alumni mengenai masa ketika mata kuliah atau praktikum perikanan dimulai. “Giliran mata kuliah atau praktik perikanan, semua ikut,” demikian kira-kira kenangan yang muncul, seolah menggambarkan antusiasme berbeda ketika mahasiswa akhirnya berhadapan langsung dengan organisme, sumber daya dan praktik pemanfaatan laut.
Cerita semacam itu mungkin terdengar sederhana, bahkan lucu jika dikenang puluhan tahun kemudian. Namun, di baliknya terdapat gambaran mengenai dinamika pendidikan kelautan pada masa awal, ketika mahasiswa sedang mencari dan membentuk identitas keilmuannya sendiri di tengah berbagai disiplin yang sama-sama memiliki hubungan dengan laut.
Mereka belajar bahwa laut bukan sekadar tempat ikan hidup. Laut memiliki dasar geologis, memiliki karakter fisik, memiliki komposisi kimia, memiliki hubungan dengan atmosfer, memiliki dimensi ruang yang dapat dipetakan, serta memiliki organisme dan sumber daya yang kemudian dimanfaatkan manusia.
Pemahaman semacam itu terasa semakin penting hari ini ketika persoalan kelautan Indonesia semakin kompleks. Perubahan iklim, kenaikan muka laut, abrasi, pencemaran, degradasi terumbu karang, perubahan ekosistem, tekanan terhadap perikanan, tata ruang laut dan pembangunan pesisir semuanya tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu disiplin ilmu.
Karena itu, mengenang para guru tersebut bukan sekadar nostalgia alumni terhadap nama-nama yang pernah berdiri di depan kelas. Ia merupakan usaha kecil untuk mengingat kembali bagaimana fondasi keilmuan kelautan dibangun, siapa yang mengajarkan, disiplin apa yang mereka bawa, dan bagaimana pengetahuan tersebut kemudian membentuk generasi sarjana kelautan.
Ada kemungkinan sebagian nama tersebut kini hanya tersimpan dalam ingatan para alumni. Sebagian mungkin masih tercatat dalam buku panduan akademik, jadwal kuliah, Kartu Rencana Studi, dokumen fakultas, foto praktikum, catatan kuliah atau arsip lama yang belum terdigitalisasi.
Karena itu, kesaksian para alumni menjadi sangat penting. Satu nama yang disebut seorang alumni mungkin dapat dikonfirmasi oleh alumni lainnya. Satu foto lama dapat mengungkap identitas seorang dosen. Sebuah jadwal kuliah yang sudah menguning dapat menunjukkan mata kuliah, nama pengajar dan tahun ketika sebuah disiplin mulai diajarkan kepada mahasiswa kelautan.
Sejarah pendidikan kelautan Unhas tidak hanya berada di gedung kampus, laboratorium dan dokumen resmi. Sebagian sejarah itu hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah duduk di ruang kelas, mengikuti praktikum, menyusuri lapangan, mengerjakan tugas, berdebat dengan dosen, dan kemudian membawa pengetahuan tersebut ke berbagai penjuru Indonesia.
Haruna Mappa, Mappajanci Amin, Dadang, A.S. Kumanireng, dan Hasan Landasong menurut Nazruddin Meddeppungeng adalah bagian dari serpihan ingatan tersebut.
“Mereka mungkin mengajarkan mata kuliah yang berbeda, tetapi semuanya meninggalkan jejak dalam perjalanan panjang pembentukan generasi kelautan Unhas,” ucapnya.
Kini, ketika pendidikan kelautan telah berkembang jauh dan tantangan pembangunan maritim Indonesia semakin besar, mengingat kembali para guru tersebut menjadi penting. Sebab setiap generasi akademik sesungguhnya berdiri di atas pengetahuan, pengalaman dan kerja keras generasi yang datang sebelumnya.
Dari ruang-ruang kelas lama itulah kita belajar satu hal sederhana tetapi mendasar: untuk memahami laut, kita harus bersedia melihatnya dari banyak arah. Sebab laut terlalu luas untuk dijelaskan hanya dengan satu ilmu, dan terlalu penting untuk dilupakan sejarahnya.
___
Penulis Denun









